alexametrics

Keriuhan Warga Desa Miliarder, Keluhkan Beret, Belanja, dan Penipuan

21 Februari 2021, 15:30:14 WIB

SUATU malam ponsel Ovan Thaufani berdering. Suara panik terdengar dari seberang.

”Kok layar audio mobil mati ya, Mas,” ujar si penelepon.

Ovan berusaha menenangkan si penelepon yang merupakan salah seorang warga Desa Sumurgeneng, Kabupaten Tuban, itu. Dan, setelah mengobrol beberapa saat, ketemulah penyebabnya.

SERBABARU: Sales menawarkan smartphone kepada warga Desa Sumurgeneng, Tuban. Sales berbagai produk ini banyak mendatangi desa tersebut. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)

”Dia tidak sengaja menyentuh setting-an untuk mode malam,” kata sales Toyota Auto 2000 Tuban itu kepada Jawa Pos.

Mengalirnya miliaran rupiah kompensasi pembebasan lahan untuk Grass Root Refinery (GRR) Tuban di Sumurgeneng memang turut berdampak pada meningkatnya kesibukan sales dan diler mobil di Tuban. Ovan salah satunya.

Semula banyak warga yang latah untuk memilih mana kendaraan yang cocok. Harga tidak jadi masalah. Namun, Ovan dan pihak diler yang kemudian menjelaskan, mereka ingin kendaraan yang nyaman atau cari penampilan saja.

Pelayanan itu berbuah kedekatan. Ovan mengaku pernah menemani seorang warga Sumurgeneng berbelanja di sekitar Kota Tuban. Dan, betapa kagetnya Ovan ketika di pengujung belanja si warga memberi tahu bahwa dia menghabiskan sekitar Rp 1 miliar pada hari itu.

Ovan tak mengecek lebih lanjut benarkah sebesar itu yang dibelanjakan. ”Tapi, memang dia belanja banyak sekali, mulai emas hingga HP,” kenang Ovan.

BERALIH KEPEMILIKAN: Tanah milik Pertamina yang dibeli dari warga Desa Sumurgeneng untuk proyek Grass Refinery Tuban. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)

Ovan juga tuwuk (kenyang) ditelepon untuk berbagai alasan. Mulai yang tanya soal menyambungkan ponsel ke Bluetooth audio sampai bodi dan spion mobil yang beret (tergores).

Baca juga: Para Tetangga Beli Mobil Baru, Masak Kami Tidak?

Perkara mobil itu, sejumlah warga Sumurgeneng juga pernah jadi korban penipuan. Jauh sebelum desa tersebut ramai jadi sorotan.

Ada seorang sales yang menawarkan kendaraan. Bermodal kepercayaan saja dan mungkin juga karena tengah dibanjiri uang, beberapa warga menitipkan Rp 10 juta–Rp 500 juta, baik untuk uang muka maupun uang pembelian.

Baca juga: Dari Tanah, Mereka Kembalikan ke Tanah

Tidak ada bukti hitam di atas putih. Cuma modal kepercayaan saja. Dan, bisa ditebak, uang mereka pun amblas.

”Lumayan banyak saat itu yang kena. Namun, tidak ada yang berani lapor karena juga tidak ada bukti apa pun,” terang Wahyuni, salah seorang warga.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : gal/c12/ttg




Close Ads