alexametrics

Dari Tanah, Mereka Kembalikan ke Tanah

21 Februari 2021, 13:49:32 WIB

”PERTAHANAN” terakhir itu akhirnya bobol juga. Setelah melalui persidangan konsinyasi di pengadilan, Wantono melepas tanah warisnya seluas 4 hektare dengan nilai kompensasi mencapai Rp 24 miliar.

Wantono warga Desa Sumurgeneng, Kabupaten Tuban, terakhir yang membubuhkan tanda tangan pada Rabu lalu (17/2). Bahkan terbesar kedua di antara penerima kompensasi dari proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban di Sumurgeneng.

Tapi, sebagai orang yang besar dan lahir di desa yang akrab dengan tradisi pertanian dan peternakan, tetap saja Wantono sebenarnya merasa berat melepas. Selain karena itu tanah warisan, kualitasnya juga bagus.

TETAP BERTANI: Mat Rais, warga Sumurgeneng. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)

 

”Saya berani menjamin tanah di Desa Sumurgeneng ini sangat potensial untuk pertanian. Namun, bagaimana lagi, kami sudah kalah kekuatan,” katanya ketika ditemui Jawa Pos Jumat (19/2).

Proses pembebasan lahan untuk GRR bergulir sejak 2019. Penolakan sempat terjadi. Demo besar-besaran dilakukan warga untuk menggagalkan rencana akuisisi lahan di tiga desa terdampak yang semuanya berada di wilayah Kecamatan Jenu itu.

Namun, proyek kilang minyak yang masuk proyek strategis nasional (PSN) tersebut sulit dilawan warga. Satu per satu mulai luluh. Apalagi setelah mereka diajak studi banding ke proyek serupa di Cilacap, Jawa Tengah.

”Kami pikir tidak banyak yang bisa dilakukan. Meskipun sebenarnya ingin harga yang ditawarkan lebih tinggi. Karena di Cilacap saat itu warga di sana mendapatkan harga tanah mencapai Rp 1,1 juta (per meter persegi, Red),” ujar Siti Nurul Hidayatin, salah seorang warga Sumurgeneng.

Di tiga desa terdampak di Jenu, berdasar appraisal, nilainya Rp 600–850 ribu per meter persegi. Lebih rendah dari Cilacap, tapi pertahanan warga akhirnya bobol juga.

Miliaran rupiah dikantongi. Tapi, 400-an warga yang rata-rata sebelumnya bertani jagung, cabai, dan kacang serta beternak sapi itu jadi kehilangan ladang. Untung, tak semua ”gelap mata”. Mobil-mobil baru memang dibeli. Tapi, mereka tetap memikirkan masa depan. ”Saya berprinsip, asale tanah, mbalik tanah (asalnya dari tanah, kembali ke tanah, Red),” kata Tain, warga Sumurgeneng lainnya yang mengantongi kompensasi Rp 9 miliar.

Sebagian uangnya dia manfaatkan untuk investasi berupa tanah garapan. Lokasinya ada di Desa Suwalan, masih di Kecamatan Jenu. Sekitar 10 menit dari Desa Sumurgeneng.

Nurul telah pula dan masih ingin membeli tanah. Wantono juga sudah berencana membeli sebidang tanah baru untuk investasinya. Sampai saat ini pun dia masih beraktivitas tani seperti biasa. Pagi hingga sore dia habiskan ke ladang sambil sesekali menemui para sales perbankan yang bertandang. Menawarkan berbagai produk investasi ke pria dengan puluhan miliar di rekeningnya itu.

Kholikah, tetangga sedesa Wantono, juga ingin tetap bertani. Setelah sebagian besar uang kompensasi lahan yang diterimanya dia lempar ke reksa dana dan deposito, dia mencari lahan baru untuk kegiatan bertani. ”Saya paksakan diri untuk belajar soal keuangan dan perbankan. Sambil menekuni pertanian organik,” katanya.

TAIN DAN MOTOR KESAYANGANNYA: Tain membelanjakan uang hasil pembebasan lahan untuk membeli tanah lagi. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)

Kebetulan, tak sedikit warga Sumurgeneng yang tanahnya tidak termasuk dalam proyek GRR berniat menjual tanah kepada para tetangga miliarder mereka. Tapi tentu dengan harga tidak semahal ganti rugi dari Pertamina untuk GRR. Paling mahal Rp 500 ribu per meter persegi.

Baca juga: Para Tetangga Beli Mobil Baru, Masak Kami Tidak?

”Kalau nawarnya murah, nggak dijual. Kami garap sendiri untuk ngicir (menanam) jagung. Kalau bukan dengan cara itu, mau makan apa kami nanti? Sudah tidak jadi miliarder, tanah tak punya,” ujar Kustimah, salah seorang warga yang tak termasuk penerima kompensasi GRR.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : gal/c9/ttg




Close Ads