alexametrics

Dukungan untuk Siswa SMA yang Diduga Bunuh Begal Terus Mengalir

Awalnya Tak Berani Cerita Utuh ke Orang Tua
21 Januari 2020, 14:01:21 WIB

Ancaman begal yang akan memerkosa sang pacar yang dulu mendorong ZA untuk berani melawan. Karena wajib lapor dan mengikuti sidang, ZA terpaksa sering minta izin tak masuk sekolah.

DENNY MAHARDHIKA, Kabupaten Malang, Jawa Pos

BEGITU kaget dan khawatirnya Sudarto dan Siti Chotizah mendengar pengakuan sang anak itu. ”Areke cerito, Mas, nek dibegal. Terus waktu ucul, iku wong begale ditusuk karo pisau (Anaknya cerita dia jadi korban pembegalan. Terus ketika meloloskan diri, begalnya ditusuk dengan pisau, Red),” jelas Sudarto, ayah ZA.

Pagi itu, September tahun lalu, ZA tengah bersiap berangkat sekolah. Semalam sebelumnya, pelajar kelas III SMA tersebut memang bercerita bahwa dirinya jadi korban pembegalan. Namun berhasil lolos. ”Tapi, ceritanya tidak lengkap,” kenang Sudarto ketika ditemui di kediamannya di Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, kemarin (20/1).

ZA yang duduk di sebelah sang ayah mengakui tidak bercerita utuh malam itu. ”Waktu bilang itu saya ndredeg. Saya nggak ngomong gimana caranya lolos,” katanya.

Pada malam nahas itu, ZA terpaksa menusuk dada Misnan karena begal tersebut akan memerkosa VN, kawan perempuan remaja pria 17 tahun itu. Dua remaja tersebut kala itu baru pulang dari menonton konser penyanyi Anji di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, saat dihadang Misnan dan Wafa.

Tak lama setelah mendengar pengakuan sang anak, Sudarto mendengar desas-desus ada orang yang tewas di tengah ladang tebu di Serangan, Gondanglegi Kulon. Sekitar 7 kilometer dari kediamannya. Lokasinya sama persis dengan yang digambarkan anaknya itu.

”Aku mek ndungo tok, Mas. Taktahan ae gak cerito. Aku wedi anakku kenek opo-opo (Saya cuma bisa berdoa, Mas. Kutahan untuk tidak cerita. Saya takut anak saya kena masalah, Red),” terang dia.

Namun, sejak awal Sudarto yakin anaknya tak bersalah. Sebab, dia memang diancam para begal itu. Sehari setelah ditemukannya mayat Misnan, ZA dan VN dijemput polisi. Mereka diperiksa secara bergantian. Akhirnya ZA yang menjadi tersangka. Meski dia sudah menjelaskan kejadian itu kepada penyidik Polres Malang.

ZA menceritakan semua kejadian tersebut. Ceritanya persis dengan VN, yakni sama-sama diancam empat begal (dua pelaku lain datang menyusul Misnan dan Wafa belakangan). Kelompok itu, kata ZA, dengan sengaja mengikutinya. Bahkan, motor yang dikendarai ZA dan VN terus dipepet. Sampai motor yang dikendarainya tak bisa bergerak.

Dari sekian ancaman yang dilontarkan, remaja 17 tahun tersebut masih ingat perkataan yang membuatnya melawan. ”Nek koen gak gelem ngekekno barang-barangmu, pacarmu (VN, Red) takgawe ae. Gak suwe kok, mek telung menit. Paling arek wedok digawe bukak, terus digawe mlaku yo nutup maneh (Kalau kamu tidak mau memberikan barang-barangmu, pacarmu kupakai saja. Tidak lama kok, hanya tiga menit. Paling anak perempuan dipakai buka, lalu dipakai jalan ya menutup lagi, Red),” katanya menirukan ancaman Misnan dan Wafa.

Kesempatan untuk kabur dari komplotan tersebut akhirnya datang. Ada kesempatan untuk membuka jok sepeda motornya. Waktu itu jok motor yang digunakannya bisa terbuka bila tombol kunci ditekan. Kebetulan, dia melihat pisau yang digunakan sebagai bahan prakarya sewaktu sekolah.

Saat Misnan mulai mendekat, ZA menikam pelaku begal itu. ”Saya terus suruh VN lari bawa motor. Saya berikan peringatan ke Wafa. Saya pasrah kalau kalah karena memang saya tak punya dasar tarung, Mas,” ujarnya.

Wafa pun lari. Misnan juga lari. Meski begitu, ZA mengaku tak menyangka Misnan meninggal. ”Waktu itu masih bisa lari, Mas. Aku gak mikir opo-opo. Sing penting slamet ngono tok, Mas (Aku tidak berpikir apa-apa. Yang penting selamat saja, Mas, Red),” ujarnya.

Dukungan untuk ZA terus mengalir. Dari teman-temannya di sekolah salah satunya. Juga di media sosial. Kawan-kawan di sekolahnya bahkan memuji keberanian ZA membela diri dan kehormatan sang kawan perempuan. Sementara pengacara kondang Hotman Paris Hutapea juga mempertanyakan pasal yang dikenakan jaksa kepada ZA dalam kasus tersebut.

ZA berterima kasih atas semua dukungan itu. Bagi dia itu sangat berarti saat harus menjalani hari-hari tak mudah setelah malam nahas September lalu. Saat ini dia terpaksa jarang masuk sekolah lantaran sering mondar-mandir izin untuk wajib lapor. Apalagi setelah Polres Malang mewajibkannya lapor dua kali dalam seminggu.

”Habis gitu sidang. Tapi, guru-guru sekolah dukung saya. Meski terkadang saya ketinggalan mata pelajaran,” katanya.

Tadi malam hacker juga meretas website Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Malang. Di website Sipp.pn-kepanjen.go.id itu termuat dukungan terhadap ZA. ”Ngebela Diri kok Dipenjara,” bunyi salah satu tulisan.

Peretasan itu sudah berlangsung sejak Kamis (16/1). PN Kepanjen pun telah mengambil langkah perbaikan akibat peretasan tersebut. ”Website hanya ada jadwal persidangan sehingga tidak terpengaruh untuk hal yang lain. Dan tidak terlalu signifikan,” kata Humas PN Kepanjen Yoedhi Anugerah Pratama.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c9/ttg


Close Ads