JawaPos Radar | Iklan Jitu

Kehidupan Penjaga Rompong: Jaga Kelakuan atau Terkena "Soe" (3-Habis)

20 November 2018, 09:00:59 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Kehidupan Penjaga Rompong: Jaga Kelakuan atau Terkena "Soe" (3-Habis)
Aldi Novel Adilang menambatkan perahu untuk naik ke rompong yang dijaga Deko Tahulending. (TAUFIQURRAHMAN/JAWA POS)
Share this

Ancaman bagi penjaga rompong juga bisa datang dari nelayan tak dikenal yang tiba-tiba datang mengambil ikan. Kalau kangen, bisa turun ke darat atau dikunjungi istri.

TAUFIQURRAHMAN, Minahasa Utara

---

Kehidupan Penjaga Rompong: Jaga Kelakuan atau Terkena "Soe" (3-Habis)
Rumah Rakit (rompong atau rakit) yang tergeletak di pantai utara kota Manado. Rompong memiliki panjang 6 hingga 8 meter dan lebar 2 hingga 8 meter. (TAUFIQURRAHMAN/JAWA POS)

ALDI Novel Adilang masih ingat betul ketika dia diselamatkan kru kapal kontainer Panama MV Arpeggio September lalu. Dari atas dek kapal dengan lambung raksasa itu, dia bisa paham kalau ada nakhoda kapal silap dan tidak melihat adanya rompong.

"Apalagi malam hari, lebih tidak kelihatan lagi," kenang penjaga rompong yang Juli lalu hanyaut selama 49 hari sampai ke Guam di Samudera Pasifik itu.

Dako Tahulending, penjaga lain yang rompongnya di perairan Minahasa Utara, Sulawesi Utara, sempat kami singgahi pada akhir Oktober lalu, bercerita, beberapa hari sebelumnya di perairan Biaro, Kabupaten Siau Tagulandang Biaro, ada laporan sebuah rompong tidak lagi terlihat di tempatnya.

Sangat mungkin hanyut.

Namun, panggilan radio kawan-kawannya tidak dijawab. Itu yang membuat bergidik. Jika dia cuma hanyut dan rakitnya masih utuh, kemungkinan selamat masih tinggi. "Tapi, kalau rakitnya sudah rusak, mungkin dia celaka," jelasnya.

Ada juga risiko soal keamanan. Sendirian di tengah laut, penjaga rompong tidak tahu bajak laut ataukah kapal pencuri ikan yang mana yang bakal lewat. Beberapa nelayan bercerita kepada saya bahwa dulunya kapal pencuri ikan dari Filipina kerap datang ke rompong dan menghardik penjaga rompong agar mau dipanen.

Bisa dengan kekerasan atau dengan cara lain, yakni disogok dengan minuman keras. Syukurlah, sejak Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti rajin menenggelamkan kapal, orang-orang Filipina itu tak pernah terlihat lagi.

Rompong penuh ikan di tengah lautan memang menggiurkan. Aldi bercerita, kerap kali ada nelayan tak dikenal yang datang mendekat dan memancing di rompong. Beberapa kali bahkan dengan kapal pukat besar.

Ada aturan tak tertulis, jika ada kapal nelayan yang bukan milik bos rompong datang dan mengambil ikan, penjaga rompong harus sedapat mungkin menahan diri untuk tidak menegur. Kalaupun jumlah ikan yang dikuras sudah keterlaluan, penjaga rompong harus menegur dengan kata sehalus mungkin. "Kalau tidak, kita (penjaga, Red) bisa dicelakai," tuturnya.

Salah seorang rekan rompong Aldi pernah menegur dua nelayan asal Pulau Doi, Maluku Utara, yang mengambil ikan di rompongnya. Dua nelayan berperahu kecil itu memang berbalik arah. Namun, keesokan harinya mereka kembali dengan puluhan perahu membawa berkarung-karung batu. Kapal milik bos rompong yang datang untuk panen keesokan harinya jadi korban lemparan batu.

Ada juga risiko kesehatan. Seorang penjaga rompong terkena berbagai risiko penyakit karena angin laut yang kencang dan pola makan yang tidak sehat. Seorang buruh nelayan di Pelabuhan Perikanan Tumumpa, Manado, bernama Deki Tamara sempat bercerita kepada saya bahwa seorang kerabatnya meninggal di rompong.

Deki bercerita, paman istrinya yang bernama Arisno Barhama -berusia 45 tahun- itu ditemukan tergeletak tak bernyawa di gubuknya yang berada sekitar 120 mil laut Sulawesi. Rekannya di rompong terdekat sudah dua malam tidak melihat titik cahaya di kejauhan. Si Arisno tidak menghidupkan lampu rompong. Panggilan radio juga tidak dijawabnya.

Beberapa hari sebelumnya, Arisno mengeluh lewat perbincangan radio bahwa dadanya sakit. Rekannya bertanya mengapa tidak ikut kapal pengantar suplai terakhir ke darat. Arisno mengaku malu untuk pulang ke daratan. Dia memang yatim piatu dan tidak menikah. Mengetahui hal buruk bisa terjadi, rekan Arisno segera mengontak kru darat, melaporkan bahwa Arisno tidak menghidupkan lampu rompong.

Kapal penyelamat pun segera dikirim. Arisno ditemukan sudah empat hari tidak bernyawa. "Waktu itu menjelang Idul Fitri, sekitar bulan Mei," ujar Deki.

***

Gangguan lain paling-paling adalah hantu laut yang berseliweran di sekitar rompong. Dako cukup sering mendapati apa yang dia sebut sebagai arwah orang-orang yang celaka di laut itu. Biasanya muncul berbentuk cahaya di horizon.

Kadang merah, kuning, atau biru. Malam hari muncul di cakrawala, siang harinya tak ada apa-apa di lokasi itu. Hantu-hantu tersebut mendekat ke rompong jika penjaga malas memasang lampu. Semakin redup lampu, hantu akan semakin mendekat. Sebaliknya, jika rompong terang, mereka menjauh. "Ya, saya berdoa saja," kata Dako.

***

Meskipun penuh risiko dan jauh dari keluarga, nyatanya menjadi penjaga rompong diminati banyak orang Sulawesi Utara. Diperkirakan, ada lebih dari seribu penjaga rompong di seantero laut Sulawesi dan Maluku Utara. Dengan kontrak kerja yang bervariasi, mulai enam bulan hingga satu tahun. Bahkan, beberapa orang dikabarkan tidak pulang ke daratan selama tiga tahun.

Tidak ada keluarga yang protes karena besaran gaji yang lumayan. Untuk mengobati kerinduan, para penjaga biasanya pulang ke darat beberapa kali dalam setahun untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

Kadang istri-istri penjaga rompong menyempatkan datang naik kapal ke rompong suaminya. Peraturan membolehkan penjaga rompong untuk tinggal berduaan dengan istrinya di rompong. Asalkan itu istri sah.

Bagaimana jika membawa perempuan yang bukan istri sah? Kata Dako, memang tidak ada aturan yang melarang. Tapi, mereka bakal terkena kualat yang diistilahkan orang Sulawesi sebagai "soe". Soe adalah ketika Tuhan tidak berkenan pada penjaga rompong yang melakukan maksiat. Sehingga tidak ada ikan-ikan yang mau masuk ke bawah rompongnya.

Bagi para penyendiri itu, kedatangan tamu adalah anugerah luar biasa. Siang itu Dako segera menjerang air dan menyeduh teh manis untuk disuguhkan ke kami, tamu-tamunya.

Saya, Aldi, dan tiga anggota rombongan lain (kakak ipar, ayah, serta paman Aldi) rehat sejenak di rakit Dako. Sambil menyantap bekal dan memancing ikan-ikan kecil. Saat matahari mulai condong ke barat, kami berlima pamit.

Di perjalanan pulang melewati rompongnya, Melki Yohanes alias Buang yang rompongnya kami singgahi berteriak agar kami mampir lagi. Pancingnya baru saja dimakan ikan barakuda sepanjang 1 meter. Alvin Adilang, ayah Aldi, yang memegang kemudian pun mengarahkan perahu ke arah rompong yang dijaga Buang.

Buang lantas menyerahkan ikan itu ke Aldi. Setelah mengucap terima kasih, Columbus Tater, paman Aldi, membawa perahu melaju ke selatan.

Rompong Buang semakin jauh. Setelah melambai, samar-samar Buang kembali naik dan masuk ke gubuknya. Menutup tirai dan kembali memeluk kesunyian serta kesendirian di tengah lautan. 

(*/c9/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up