JawaPos Radar | Iklan Jitu

Kehidupan Penjaga Rompong: Iming-Iming Gaji, Bonus, dan Uang Tuna (2)

20 November 2018, 08:30:59 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Kehidupan Penjaga Rompong: Iming-Iming Gaji, Bonus, dan Uang Tuna (2)
Rumah Rakit (rompong atau rakit) yang tergeletak di pantai utara kota Manado. Rompong memiliki panjang 6 hingga 8 meter dengan lebar 2 hingga 8 meter. (TAUFIQURRAHMAN/JAWA POS)
Share this

Hanyut berbulan-bulan sampai ke negeri jauh tak ada apa-apanya dibanding risiko paling mengerikan: ditabrak kapal. Wartawan Jawa Pos TAUFIQURRAHMAN mendatangi langsung tempat kerja para penjaga rompong di sekitar perairan Sulawesi Utara.

--

DI Sulawesi Utara atau Maluku Utara, rompong sudah menjadi industri padat karya. Di Manado saja, ada puluhan pengusaha rompong. Mulai yang kecil, yang memiliki 2 hingga 3 rompong. Hingga pengusaha besar yang sampai punya 30 rompong.

Rumah rakit itu ditarik dari semacam ”galangan” pembuatnya di tepian Pantai Tumumpa, Manado, Sulawesi Utara. Misalnya, milik Jimmy Selayar yang terletak di Sungai Baliang, di samping pelabuhan.

Jimmy mengerjakan rompong sesuai dengan pesanan. Satu rumah rakit bisa selesai dalam waktu dua hari. Jimmy menjualnya kepada bos-bos rompong dengan harga 1 unit mencapai Rp 10 juta.

”Setiap tahun saya bisa menjual hingga 100 unit,” katanya.

Meski berisiko tinggi, toh pekerjaan menjaga rakit masih menjadi primadona. Rendi Tatukude, salah seorang pengusaha rompong yang tinggal di Tumumpa, mengaku tidak pernah kesulitan untuk menemukan orang untuk menjaga rompong.

Namun, dia harus selektif memilih. Pertama, kesehatannya harus prima. Kemudian, dia haruslah orang yang jujur dan bisa dipercaya.

Menurut Rendi, pekerjaan menjaga rompong memang berisiko. Tapi, para bos sudah menyiapkan berbagai sarana yang menunjang keselamatan penjaga. Ditambah iming-iming pendapatan yang tak cuma gaji.

”Ada ribuan orang yang mau kerja rompong. Karena kerjanya enak, cuma makan dan tidur dan bayarannya besar,” kata Rendi.

Rendi menjelaskan, selama ini beredar kabar bahwa pekerja rompong dibayar rendah. Hanya berupa gaji Rp 2 juta setiap bulan. Tapi, lanjut Rendi, itu cuma satu item kompensasi. Ada beberapa tunjangan pendapatan lain.

Pertama, dalam perjanjian kontrak, penjaga mendapatkan 5 persen dari total hasil tangkapan ikan di rompong tersebut. Jumlahnya bisa sangat besar. Taruhlah dalam sekali panen di satu rompong, Rendi bisa mendapat paling tidak 5 hingga 6 ton ikan.

Yang jika diuangkan kira-kira menjadi Rp 80 juta. Setelah dikurangi operasional dan gaji para kru, tersisa keuntungan Rp 40 juta. Nah, 5 persen dari keuntungan itu untuk para penjaga rompong.

”Jadi, paling tidak dia dapat (tambahan di luar gaji) Rp 1,8 hingga Rp 2 juta rupiah,” jelas Rendi.

Selain itu, jika penjaga cukup pintar mengatur setting di rompong, ikan bisa banyak. Jika tangkapan melampaui 10 ton, Rendi memberikan bonus lagi Rp 2 juta. Kalau tangkapannya melampaui 7,5 ton, para bos seperti Rendi akan memberikan 1 poin.

Ketika poin telah mencapai 10, ada bonus Rp 1 juta per 10 poin. ”Jadi, paling tidak sebulan penjaga rompong seperti Aldi (Novel Adilang, penjaga rompong yang sempat hanyut ke Pasifik, Red) bisa dapat Rp 15 juta,” jelasnya.

Masih ada sumber penghasilan lain. Yang dikenal dengan ”uang tuna”. Ikan tuna memang sesekali lewat di dekat rompong. Nah, para penjaga diberi kebebasan untuk memancing dan menangkap mereka.

Dijual sendiri dan hasilnya pun diambil sendiri. Ikan tuna terbesar bisa seberat 80 kilogram. Dengan harga per kilogram mencapai Rp 60 ribu.

Dengan demikian, mereka bisa menghasilkan Rp 4,8 juta. Kalau mujur, mereka bisa mendapat dua hingga empat ekor per hari. ”Orang-orang rompong itu pulang ke darat dengan bawa uang tuna saja ada yang sampai Rp 40 juta sampai Rp 50 juta,” jelas Rendi.

Bahan makanan pun selalu dikirim rutin. Rendi dan para bos lain juga menyewa stasiun pemancar dan repeater radio yang bisa menjangkau hingga 100 mil laut (1 mil laut = 1,852 km) jauhnya.

Jika ada rompong yang putus atau penjaga rompong yang membutuhkan bantuan, Rendi mengatakan, komunikasi radio selalu sampai pada dirinya. Jika kepentingan mendesak, dia akan segera mengirim salah satu kapal armadanya untuk menuju rompong.

”Kalau dia sakit, ya kami jemput bawa ke darat. Kalau masih kuat di laut, kami beri obat-obatan saja,” kata pria berumur 31 tahun itu.

Rendi menjamin, meski penjaga rompong hanyut, risiko untuk tidak ditemukan kecil sekali. Saat Aldi hanyut Juli lalu pun, dalam waktu beberapa jam panggilan minta tolong Aldi sampai ke dirinya.

Saat itu semua armada sedang pulang ke darat karena Sabtu. Rendi segera meminta satu perahu yang kebetulan ada di Pulau Sangihe untuk mengejar dan mencari.

Rendi juga mengaku sudah mengontak seluruh kolega kapten kapal yang dikenalnya untuk membantu mencari rakit Aldi. Namun, kondisi saat itu gelombang sedang tinggi, perahu tidak mampu untuk melanjutkan pencarian lebih jauh.

”Saya suruh balik, daripada empat orang mati semua,” jelasnya.

Sudah puluhan orang, kata Rendi, yang bekerja selama puluhan tahun kepada dirinya dan sang ayah. ”Belum pernah ada yang hanyut terus meninggal karena tidak ditemukan. Lain cerita kalau dia meninggal di rompong karena sakit,” jelas Rendi. 

(tau/c10/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up