Joko Porong yang Tak Bosan Menggeluti Gamelan

20 September 2022, 07:48:34 WIB

Di tengah gempuran berbagai genre musik kekinian hingga musik luar negeri, banyak orang yang berpikir gamelan makin ditinggalkan. Joko Porong alias Joko Winarko membuktikan bahwa generasi muda masih punya semangat tinggi belajar gamelan.

RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya

RUANG gamelan di Graha Sawunggaling jarang sekali sunyi. Terkadang tabuhan kenong mengisi sudut-sudut ruangan. Di waktu lain, tabuhan gending dominan terdengar. Jelang produksi karya, ruangan tersebut menjadi saksi mahasiswa Universitas Negeri Surabaya berkreasi memadukan puluhan not gamelan jadi melodi yang siap dinikmati penonton.

”Anak muda saat ini punya pandangan yang unik terhadap gamelan, lho,” ucap Joko Winarko, dosen pengampu mata kuliah gamelan di Jurusan Sendratasik Unesa. Berbeda dengan generasi orang tua dan lansia, gamelan dipandang sebagai seni yang patut dijaga.

”Apresiasinya justru lebih tinggi. Percaya nggak?” ucapnya kepada Jawa Pos. Mahasiswa yang serius menekuni gamelan melihatnya sebagai karya seni. Bukan hanya alunan melodi yang dihasilkan. Tampilannya juga punya nilai yang penting.

Tak jarang, Joko mendengar kegusaran mereka.

”Waktu ketemu komunitas atau pemain profesional, mereka bilang ’Kok gamelannya jadi tempat kopi, Pak? Kok mereka buang puntung rokok di sela-sela bonang?’ ke saya,” ujarnya menirukan.

Menurut Joko, itu bentuk apresiasi yang justru lebih tinggi daripada generasi sebelumnya. Dari situ, muncul keoptimistisan Joko. Gamelan tidak akan mati dalam waktu dekat.

Mengajarkan gamelan memang susah-susah gampang. Gamelan punya tangga nada sendiri dan aturan main yang jelas berbeda dengan musik modern. ”Kalau kebetulan anak seniman atau kenal gamelan dari kecil, memang lebih mudah ya,” tuturnya. Bagaimana dengan mereka yang tak kenal sama sekali?

Menurut Joko, manusia bisa belajar apa pun jika disentuh logikanya. ”Manusia punya logika yang sama. Kalau menyentuh mainan gini, rasanya begini, ah itu nanti,” jelas pria yang mempelajari gamelan sejak remaja itu. Gamelan, sebagai ilmu, seharusnya bisa dilogikakan. Serupa 1 + 1 =2, ada struktur permainan yang bisa diikuti semua yang belajar.

Dalam sebuah gending, ada delapan ketuk. Joko menjelaskan, tiap ketuk punya ’’gandengan’’ sendiri-sendiri. Paduannya bakal menghasilkan struktur musik yang bisa dinikmati orang awam. ”Ketukan yang ini berarti waktunya tabuhan gong masuk. Ketukan yang lain, tanda masuknya tabuhan kenong. Begitu seterusnya,” jabarnya.

Gamelan adalah potret strata sosial. Mengenal tiap alat musiknya berarti mengenal karakternya. Kendang punya peran penting sebagai pemimpin. Ia bertugas mengendalikan panjang pendeknya gending, keras lirihnya tabuhan, hingga tempo permainan. Ada pula rebab sebagai pemangku melodi dalam lagu. Tabuhan balungan menjadi penegas perjalanan tempo dalam lagu. Ting tung ting tung dass!

”Kalau sudah belajar logika, orang biasanya mulai menghayati makna gamelan,” jelas pria kelahiran Musi Rawas, Sumatera Selatan, pada 26 Maret 1976 itu.

Gamelan dengan segala perbedaannya menunjukkan nilai toleransi dan kekayaan di Indonesia. Sebuah nilai yang sering kali bikin mahasiswa asing jatuh cinta. ”Mereka tidak kenal-kenal amat dengan gotong royong, saat belajar gamelan jadi belajar soal itu,” ucap pria yang sudah memiliki beberapa siswa asing itu.

Semangat gamelan kini memang sudah banyak diperbarui. Bukan lagi kemurniannya sesama gamelan saja, tapi sudah banyak karya hybrid yang dimunculkan. Joko sendiri pernah menghasilkan album berjudul Jro ing Soran (2007) yang menggabungkan balungan dalam gending saron dengan kecapi, mandolin, biola, hingga sintren. Paduan itu menjadi salah satu contoh untuk mendorong mahasiswanya berkreasi. 

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/git

Saksikan video menarik berikut ini: