Jeritan Warga Lombok yang Jadi Korban Gempa

Tenda Kami Tiris, Tengah Malam Bayi Saya Selalu Menangis

20/08/2018, 16:47 WIB | Editor: Ilham Safutra
Tenda pengungsi korban gempa di Dusun Karang Lauk, Desa Jatisela, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat. (Ilham Safutra/JawaPos.com)
Share this image

Rencananya Sutiah dan suami akan kembali ke rumah hari ini, Senin (20/8). Namun keinginan itu terpaksa ditunda. Pasalnya, Minggu (19/8) malam Lombok kembali diguncang gempa. Kekuatannya mencapai 6,9 skala richter (SR).

ILHAM SAFUTRA, Lombok Barat

"Sebetulnya kami mau merapikan perabotan dan tidur di rumah," ungkap Sutiah mengawali pembicaraan dengan JawaPos.com. Sejak gempa yang melanda Lombok pada Minggu (29/7), ibu muda dua orang anak itu bersama suaminya, Usman Ali, memilih tinggal di tenda pengungsian yang berada di tengah sawah. Sawah tersebut baru saja panen, sehingga tanahnya masih keras dan dapat disulap jadi tempat pengungsian.

Usman Ali, korban terdampak gempa di Dusun Karang Laut, Lombok Barat di depan tenda daruratnya. (Ilham Safutra/JawaPos.com)

Sawah yang terdapat di Dusun Karang Lauk, Desa Jatisela, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat ini merupakan milik salah seorang warga setempat. Sawah itu sengaja dipinjamkan sementara waktu untuk penginapan darurat warga yang terdampak gempa.

Para pengungsi memilih tinggal di tenda tersebut di kala malam tiba. Siangnya mereka kembali ke sawah atau ke rumah untuk merapikan perabotan yang masih bisa diselamatkan. Ada juga warga hanya memilih tetap berada di tenda pengungsian di siang hari karena tidak bisa bekerja. Sebab umumnya warga setempat profesinya sebagai petani, buruh tani, maupun kuli bangunan.

Semenjak bencana gempa melanda Tanah Lombok, relatif sejumlah tempat usaha tutup. Kalau buruh tani sebagian ada yang ke sawah namun sebentar. Siang menjelang sore kembali ke pengungsian.

Sedangkan para buruh bangunan tidak bekerja karena pemilik proyek memutuskan untuk menyetop pekerjaan proyeknya sementara waktu sampai kondisi benar-benar aman dari gempa.

Untuk Usman Ali, dia memilih tetap berada di sekitar penginapan karena menganggur. "Sejak gempa pertama saya tidak bekerja lagi. Tempat saya bekerja tutup sementara," ungkap pria yang sehari-hari sebagai buruh bangunan itu.

Selama di pengungsian, warga terdampak gempa menggantungkan hidupnya belas kasihan dan bantuan pihal luar. Sayangnya untuk Dusun Karang Laut bantuan yang datang belum memadai. Kalaupun ada itu hanya datang dari sesama warga yang memberikan bantuan karena rumah mereka tidak rusak.

Usman mengaku rumahnya retak cukup parah. Ada retak di beberapa bidang dinding. Retak itu dari atas sampai bawah. "Kalau didorong dinding itu bisa roboh," sebutnya.

Malam hari sawah yang jadi pengungsian Dusun Karang Laut begitu ramai. Mereka berasal dari beberapa dusun yang berada di sekitar Jatisela. Di setiap tenda yang berukuran 3 meter kali 2 meter terdapat dua sampai empat kepala keluarga (KK). Di tenda yang ditempati Usman dan istri terdapat 4 KK. Setiap malam mereka merasa kedinginan. Sesekali mereka keluar tenda karena dikejutkan gempa susulan.

Seminggu terakhir Lombok Barat sempat dilanda hujan. Ketika hujan tiba tenda-tenda yang terbuat terpal itu tiris. Air hujan membasahi tanah yang jadi lantai pengungsi. Kalaupun dialasi tapi tidak tahan air. Hal itu membuat para bayi dan balita tidak nyaman.

Buah hati Usman dan Sutiah ketika hujan tiba selalu rewel. Mereka menangis tak kuat menahan dingin. "Tenda kami tiris, tengah malam anak saya selalu menangis," ujar Usman yang anak keduanya baru berusia empat bulan.

Atas kondisi ini pasutri ini bersama warga lainnya berharap mendapatkan bantuan. Mulai terpal untuk tenda, selimut agar bisa menahan dingin bagi bayinya. Khusus untuk bayi membutuhkan popok sekali pakai. "Kami memang membutuhkan tenda, Pak. Anak kami selalu kedinginan setiap malam. Siang panas begitu gerah," tandasnya.

Senin siang, komunitas seller marketplace Shopee memberikan bantuan untuk warga di Dusun Karang Laut. Bantuan itu berupa kebutuhan pangan dan papan. Semuanya merupakan sumbangan para seller yang tergabung dalam komunitas Kampus Shopee di 29 kota di Indonesia.

Koordinator Komunitas Kampus Shopee Putu Sudiarta menuturkan, pihaknya tergerak untuk mengumpulkan sumbangan dari para seller di Shopee. Sebab di antara ribuan korban terdampak gempa ada juga seller di Shopee. "Kami merasa bersaudara dengan sesama seller sehingga mengumpulkan barang yang bisa dimanfaaatkan para korban," ungkapnya.

Bantuan itu tidak sekadar untuk para seller Shopee yang terdampak. Termasuk juga untuk warga lainnya.

Sementara itu Monica Elysia, selaku Marketing Manager Shopee Indonesia yang membawahi komunitas penjual dan pengembangan UMKM di Shopee menyebut, di Lombok terdapat 40 mitra penjual Shopee. Para penjual dari kalangan UMKM di 29 kota tergerak hatinya membantu para korban di Lombok. "Mereka mengumpulkan dan mendistribusikan bantuan untuk menanggulangi bencana di Lombok," sebut Monica.

Terpisah, Sunartyo selaku Komandan Posko Induk Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk Gempa Lombok menyebut, saat ini jumlah gempa terus bertambah. Bantuan yang dikirim selalu saja habis. Masih ada beberapa desa yang belum terjangkau bantuan logistik.

Umumnya para korban mengharapkan bantuan sembako, selimut, tenda, dan kebutuhan lainnya. Untuk kebutuhan pangan, ACT membangun dapur umum. Hanya saja kapasitasnya belum memadai. Kini baru terdapat 44 dapur umum. "Dapur umum ini belum menjangkau seluruh korban. Masih ada korban yang belum terjangkau. Hal itu karena akses ke lokasi masih terkendala," ungkapnya.

Dia menyebut kondisi terparah terdapat di Lombok Utara, Lombok Barat, dan Lombok Timur. Bahkan Kota Mataram sebelumnya aman, tapi semenjak gempa Minggu (19/8) malam warganya pun terpaksa mengungsi di depan rumah. Mereka tinggal di dalam tenda darurat.

ACT merupakan salah satu lembaga sosial yang concern terhadap penanggulangan bencana dan kemanusiaan. Relawan sudah berada di lokasi sejak gempa 6,4 SR, Minggu (29/7).

ACT sudah beberapa kali mengirimkan bantuan. Dengan skala besar dikirim lewat pesawat Hercules milik TNI AU dan terbaru dengan KRI Banjarmasin milik TNI AL. Misi KRI Banjarmasin ini disebut dengan Kapal Kemanusiaan Lombok (KKL) dengan membawa 850 ton bantuan logistik. Sejak Senin pagi bantuan itu sudah dibongkar di Pelabuhan Carik. "Proses pembongkaran bantuan memakan waktu dua hari," imbuh Kepala ACT Cabang NTB, Alfian.

(iil/ce1/JPC)

Alur Cerita Berita

Mewujudkan Mitigasi lewat Tata Ruang 20/08/2018, 16:47 WIB
Gempa, Konstruksi, dan Edukasi 20/08/2018, 16:47 WIB
Unhas Kirim Tim Medis ke Lombok 20/08/2018, 16:47 WIB

Berita Terkait

Rekomendasi