alexametrics

FKPM Kedung Asem Jadi Percontohan: Ada Pujasera, Kas Tak Pernah Kosong

20 Juli 2019, 20:48:47 WIB

WARGA RW 5, Kelurahan Kedung Baruk, boleh merasa lega. Saat tidur maupun berangkat kerja, mereka tidak perlu khawatir soal keamanan kampungnya. Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) Kedung Asem memelopori sistem keamanan. Jadi percontohan kampung lain di Indonesia.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

Kini tak ada lagi warga yang khawatir saat memarkir sepeda motornya di depan rumah. Kendati kondisi pintu rumah tertutup rapat. Semuanya aman. Kondisi itu sudah berjalan lebih dari 13 tahun. Bahkan, bisa dibilang di Wisma Kedung Asem Indah (WKAI) RW 5, Kelurahan Kedung Baruk, nihil kejadian kriminal.

Tentu membangun kondisi itu bukan hal gampang. Kuncinya adalah warga giat, guyub, dan rukun. Terlebih, di sana sudah ada forum yang dibentuk warga untuk mewujudkan keamanan, yakni Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) Baru-baru ini, FKPM Kedung Asem merupakan satu-satunya wakil dari Jawa Timur yang mengikuti pembinaan peningkatan kemampuan (binkatpuan) manajemen polisi masyarakat (polmas) pada 15–18 Juli lalu. Selain Jawa Timur, ada perwakilan dari tiga provinsi lain.

Dibentuk pada 2006, forum itu menjadi bagian yang melekat dengan warga yang tinggal di kampung tersebut. Sebab, merekalah yang jadi tumpuan keamanan dan ketertiban kampung.

Memang saat memasuki RW 5, ada sesuatu yang berbeda. Siapa pun yang akan masuk ke sana wajib melewati pemeriksaan petugas keamanan. Closed circuit television (CCTV) terpasang di setiap persimpangan jalan. ”Semua warga bisa mengaksesnya untuk melihat kondisi sekitar. Cukup dari HP,” ujar Koordinator Keamanan FKPM Kedung Asem Agus Sunyoto.

Kerap kali para pengurus ikut turun tangan. Misalnya, kemarin mereka berkeliling ke 7 RT di sana. Mengecek langsung proses pemeriksaan warga yang hendak masuk kawasan tersebut.

Pengurus RT dan RW dibekali handie talkie (HT). Tujuannya, memudahkan komunikasi antar-RT. ’’Meskipun ada HP, HT tetap lebih efektif. Ke mana-mana ya bawa ini,” tambah Agus sambil menunjukkan alat yang terselip di pinggangnya itu.

Pembina FKPM Kedung Asem Didik Edy Susilo mengatakan bahwa forum tersebut terbentuk karena terjalinnya komunikasi yang baik antarwarga. Juga warga dengan perangkat pemerintahan. ”Seperti pendapa yang berdiri ini. Menjadi tempat untuk mencari solusi bagi masalah yang ada. Kami berusaha mewujudkan ruang publik yang ramah lingkungan,” ujarnya.

Karena itu pula, tidak perlu jadwal jaga warga. Sebab, saban hari Pendapa Pokja FKPM tidak pernah lengang. Baik yang tua maupun yang muda berada di sana. Paling sedikit setiap hari ada 20 orang yang cangkruk di sana. Mereka bisa berbincang tentang banyak hal. Termasuk curhat.

Tidak hanya berfokus pada kamtibmas. FKPM juga punya cara agar organisasi mereka tidak monoton. Contohnya, grup Campursari Guyub Rukun.

Berjalan sejak 2010 dan masih eksis hingga sekarang. ”Pemainnya dari kami sendiri. Gamelan maupun dagelannya. Pernah main di balai kota juga,” tambah Didik yang juga menjabat ketua RW.

Begitu juga urusan lingkungan. Saat masuk jalan utama, sulur batang tanaman kaktus tertata apik. Hampir seluruh area pendapa pokja juga ditanami pohon yang menghasilkan buah mirip sisik naga itu.

Pemberdayaan ekonomi warga juga dilakukan. FKPM punya pujasera. Yang dijual produk warga. Setiap RT punya jatah satu stan di sana. Lokasinya di middle east ring road (MERR). Dari situ pula keuangan FKPM Kedung Asem terisi. Dengan begitu, tidak melulu mengandalkan iuran warga.

Kini FKPM tersebut terus berbenah. Sebab, mereka didapuk sebagai percontohan bagi FKPM lain di seluruh Indonesia. ’’Mabes Polri menganggap FKPM yang ideal ya seperti di sini,” papar Didik.

Rencananya, FKPM Kedung Asem bakal menjadi modelnya. Jadi patokan bagi penilaian FKPM lain di Indonesia.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git

Close Ads