JawaPos Radar

Perjuangan Safira, Siswi Tuna Daksa Seorang Diri Menempuh USBN

20/03/2018, 04:51 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Siswa Berkebutuhan Khusus
Safira Milenia, siswi kelas XII, penyandang cerebral palsy mengikuti hari pertama USBN, Senin (19/3) (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Safira Milenia, siswi kelas XII, penyandang cerebral palsy terlihat sendirian mengikuti pelaksanaan Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN) di Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC) Kota Semarang, Senin (19/3).

Meski dalam keterbatasan, jari jemari siswi bertubuh mungil berusia 18 tahun itu lincah mengerjakan lembaran soal PPKN dengan dipandu dua gurunya. Safitri menjadi satu-satunya murid yang terklasifikasi sebagai penyandang tuna daksa ringan atau golongan D pada yayasan tersebut.

"Dari kecil, dia sudah sakit-sakitan. Ketika tahu dia mengidap cerebral palsy, saya langsung bawa ke salah satu rumah sakit di Surabaya untuk dilakukan terapi. Sejak kelas 5 SD sampai sekarang perkembangannya sangat pesat," kata Atik Azis, ibunda Safira, saat menunggui anaknya di ruang ujian SMA/D YPAC.

Cerebral palsy sendiri bisa diartikan sebagai kelainan atau gangguan gerakan, otot, atau postur yang disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak, umumnya terjadi sebelum kelahiran. Tanda dan gejala muncul selama masa bayi atau prasekolah. 

Cerebral palsy diketahui menyebabkan gangguan gerakan yang terkait dengan refleks berlebihan atau kekakuan, postur tubuh yang tak wajar, gerakan tak terkendali, kegoyangan saat berjalan, atau beberapa kombinasi dari gangguan tersebut.

Safira sendiri mengaku antusias mengikuti USBN di hari perdana. Ditemui di sela jam istirahat, ia mengaku cukup tertantang untuk menggarap soal Pendidikan Agama dan Budi Pekerti di hari pertama USBN in. "Ya lumayan bisa tadi. Habis ini saya ngerjain PPKN," katanya.

Safira mengatakan dirinya cukup percaya diri mampu mengerjakan semua soal ujian sekolah dengan benar. Ia sendiri telah bersusah payah ikut try out dan les di rumah untuk setiap mata pelajaran. "Saya suka semua pelajaran kecuali matematika. Try out-nya saja sulit," katanya lagi.

Sementara, bagi Widianti, seorang guru pengampu kelas XI dan XII YPAC Semarang, menuturkan pelaksanaan USBN tahun ini cukup menguras karena berbagai proses yang dilalui bersama siswa berkebutuhan khusus cenderung berbeda ketimbang siswa normal.

"Dan syukurlah untuk tahun ini, dari enam murid kelas XII, Safira jadi satu-satunya murid yang dinyatakan bisa ikut USBN untuk kategori SMA/D. Sebab, daya pikir dan kemampuannya melampaui siswa difabel lainnya. Sedangkan lima anak lainnya ikut USBN kategori SMA/D1," ungkapnya.

Terpisah, Kepala Sekolah YPAC Semarang Kartikawaty menuturkan pelaksanaan USBN hari perdana berjalan lancar. Menurutnya USBN di sekolahnya menerapkan sistem ujian berbasis kertas dan pensil mengingat kemampuan sensorik muridnya yang terbatas.

"Di sini yang ujian sekolah terbagi dua kategori, yaitu siswa tuna daksa ringan golongan D dan siswa tuna daksa sedang golongan D1. Kalau USBN ini soalnya sekolah yang buat dan nanti Ujian Nasional baru provinsi," tuturnya.

Meski mengetahui jumlah partisipan USBN tahun ini lebih sedikit dibanding tahun lalu, pihaknya mengaku tetap bekerja ekstra atau lembur hingga malam hari demi menyiapkan materi soal USBN sejak Jumat kemarin. "Tahun lalu ada tiga, sekarang hanya satu tapi persiapan tetap harus optimal," tegasnya.

Dikatakannya, pelaksanaan USBN 2018 ditunjang kesiapan 10 guru PNS. Materi soal USBN untuk siswa tuna daksa golongan D1 berjumlah enam mata pelajaran. "Untuk materi USBN siswa SMA golongan D terdapat sembilan mapel. Mulai Agama Budi Pekerti, IPS, PPKN Bahasa Indonesia IPA, Matematika, juga Bahasa Jawa," tutupnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up