alexametrics

Ketika Komunitas Forum Silaturahmi Cerebral Palsy Soetomo Berkumpul

20 Februari 2020, 20:48:33 WIB

Mereka berhimpun karena merasa senasib. Buah hati mereka menjadi penyandang cerebral palsy dan harus rutin menjalani terapi. Sampai saat ini, sudah ada 26 keluarga yang bergabung. Di komunitas itu, mereka bisa bertukar pikiran mengasuh anak. Telaten dan mensyukuri anak sebagai amanah Tuhan.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, Surabaya

Di sebuah ruangan, 26 keluarga tampak berkumpul. Ada orang tua dan anak mereka yang mengalami cerebral palsy. Duduk dengan beralas seadanya, mereka saling berbagi kisah. Menceritakan suka duka selama merawat anak berkebutuhan khusus tersebut. Obrolan mereka hanya ditemani teh, kopi, serta makanan ringan.

’’Semua anak dalam keluarga ini adalah pasien di RSUD dr Soetomo,’’ kata Ketua Komunitas Forsil CP Soetomo Atien Pramono saat dijumpai di Flat Wonorejo Blok WC selepas acara peresmian komunitas pada Minggu (16/2) Selain dari Surabaya, ada juga anggota komunitas yang berasal dari Gresik dan Sidoarjo. Rata-rata, anak-anak mereka mengalami cerebral palsy sejak lahir. ’’Dasar pembentukannya memang karena kami senasib. Kami ingin saling menguatkan,’’ ungkapnya.

Memiliki anak yang menjadi penyandang cerebral palsy bukan perkara mudah. Penanganannya juga harus khusus. Beda dengan anak kebanyakan. ’’Keluhan mereka pun beragam. Jadi, kami harus tahu keseluruhan tentang mereka dulu,’’ terangnya.

Misalnya, yang dialami Ida Rufaidah. Anaknya yang bernama Darus Maulana Akhyan mengalami cerebral palsy sejak kecil. Tepatnya sejak 2011. Sebelum Darus menginjak usia 1 tahun. Gejalanya terlihat dari perkembangan fisik yang tidak normal. Posturnya kecil. Tangan kakinya kaku. Gerakan badannya tidak terkendali.

’’Karena merasa khawatir, saya memeriksakan ke RSUD dr Soetomo. Hasilnya dinyatakan bahwa anak saya yang sekarang berusia 10 tahun itu mengalami CP,’’ jelas Ida.

Sebagai orang tua, tentu Ida kaget. Sepulang dari pemeriksaan, dia lantas memberitahukan kondisi sang anak ke suaminya, Marifi. ’’Dia pun shock dan memeluk saya,’’ ucap perempuan 45 tahun tersebut.

Meski sudah mengetahui fakta sebenarnya yang terjadi, Ida tidak putus asa. Dia bersama Marifi memutuskan untuk menerapi Darus di RSUD dr Soetomo. Ada tiga metode yang diberikan dokter. Yaitu, terapi fisik, wicara, dan motorik. ’’Setelah dua tahun, hasilnya makin baik,’’ kata Ida.

Kaki dan tangan Darus tidak lagi kaku dan sudah bisa digerakkan. Meski, tidak banyak yang bisa dilakukan. ’’Dulu juga susah duduk. Sekarang sudah makin baik,’’ ungkapnya sembari mengeluarkan ponsel dari kantong celana kanannya.

Ida lantas menunjukkan foto kondisi fisik anaknya sebelum terapi dilakukan. Kurus sekali. Diameter tangan Darus hanya 5 sentimeter. Salah satu penyebabnya adalah lemahnya rangsangan otak yang berpengaruh ke sistem pencernaan.

Ida mengakui, perawatan Darus betul-betul menguras energi. Tidak sekadar stand by pada siang hari, dia juga harus siaga saat malam. ’’Sewaktu-waktu Darus ini sering terbangun. Kalau melek, pasti dia sering menggeliat. Seolah-olah merasa tak nyaman begitu,’’ jelasnya.

Ida pun kerap merasa jenuh. ’’Di satu momen, saya pernah merasa lelah. Mengapa ini terjadi ke anak saya?’’ ucapnya. Namun, pikiran negatif itu ditepisnya jauh-jauh jika mengingat perjuangan yang telah dilakukan. Ida terus setia mendampingi anaknya yang sudah sembilan tahun dinyatakan mengalami cerebral palsy tersebut.

’’Sama dengan yang lain ini. Bahkan, ada yang sudah 16 tahun. Mengetahui informasi itu, saya makin bersyukur. Ini bukan kekurangan, melainkan anugerah yang harus kami rawat,’’ katanya sembari melihat ke arah keluarga lain.

Ida termasuk salah seorang anggota yang rumahnya jauh dari gedung sekretariat komunitas yang beralamat di Flat Wonorejo tersebut. Komunitas Forsil CP Soetomo memang termasuk baru. Ida mengakui bahwa belum banyak gerakan yang dilakukan. Namun, yang terdekat mereka akan berkumpul lagi untuk membuat kegiatan rutin mingguan dan bulanan.

’’Di samping itu, kami menghimpun tabungan. Insya Allah, setahun sekali ada program jalan-jalan ke luar kota,’’ ujar Penasihat Komunitas Forsil CP Soetomo Abdul Munir.

Tabungan itu dinamai kantong ajaib. Setiap keluarga tidak dipatok nominal uang yang diberikan. ’’Jadi, memang seikhlasnya. Sesuai dengan kemampuan keluarga,’’ kata dia. Mereka menabung setiap minggu.

Anak-anak penyandang cerebral palsy jelas terus-menerus membutuhkan dukungan. Sebab, yang dialami mereka ini seumur hidup. Mirip penyakit diabetes. ’’Harus sering diobati. Kalau diabetes pakai obat, ini lewat terapi. Orang tua jangan lelah memeriksakan kondisi anak-anak,’’ tuturnya.

Saat ini anggota komunitas terbatas bagi pasien di RSUD dr Soetomo. Namun, sesuai dengan visi, dalam jangka panjang, komunitas itu juga hendak menjangkau anak berkebutuhan khusus lainnya. Misi yang diusung tentu saja diawali dengan pendampingan ke anak CP.

Selain dukungan dari pihak keluarga, pihak RSUD dr Soetomo menyambut baik pembentukan wadah tersebut. Bahkan, ada satu dokter yang memberikan rekomendasi. ’’Mereka juga siap membantu perawatan anak-anak dengan CP ini,’’ ungkapnya.

Di sisi lain, dokter juga menasihati pengurus komunitas untuk menjalankan visi dan misi yang telah dibuat. ’’Ini tanggung jawab besar. Kami pasti bisa mewujudkannya,’’ papar dia.

Munir menyatakan, pembentukan komunitas itu baru kali pertama di Surabaya. Munir berharap semua anggota berkomitmen membesarkan komunitas. Dia juga berpesan untuk tidak stres ketika menghadapi cibiran tetangga atau orang sekitar

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c14/git



Close Ads