Inovasi Jamubangsah Bhabinkamtibmas Kelurahan Karang Pilang

20 Januari 2022, 07:48:02 WIB

Bhabinkamtibmas Kelurahan Karang Pilang Bripka Sido Sucahyo menutup akhir tahun lalu dengan sebuah penghargaan. Inovasinya di bidang literasi mendapat apresiasi dari Kapolrestabes Surabaya Kombespol Akhmad Yusep Gunawan. Namanya Jamubangsah.

HASTI EDI SUDRAJAT, Jawa Pos

KENANGAN Cahyo terbang ke masa-masa awal pandemi. Ketika itu, dia sedang berada di salah satu ruangan Kelurahan Karang Pilang. Matanya tertuju pada puluhan buku yang tertata di rak. Buku-buku itu merupakan koleksi perpustakaan kelurahan.

Di benaknya spontan terlintas sebuah ide. Cahyo merasa bisa memanfaatkannya agar lebih maksimal. Daripada hanya menunggu pembaca, buku itu sebaiknya bisa jemput bola. ’’Jika di kelurahan, yang baca kan hanya yang datang,” ujarnya.

Padahal, dia menilai koleksi buku-buku itu cukup bagus. Apalagi untuk anak. ’’Banyak buku bacaan seperti cerita rakyat,” katanya.

Cahyo pun membuat terobosan. Dia membawa buku-buku tersebut keluar kelurahan. Karena itu, digagaslah Jamubangsah. Akronim dari pinjam buku buang sampah.

Bukan tanpa alasan dia menyisipkan makna sampah dalam programnya. Cahyo merasa perlu mengedukasi anak tentang pentingnya sampah daur ulang. ’’Jadi, teknisnya yang mau meminjam buku bawa botol bekas,” kata polisi yang pernah meraih penghargaan pin emas Kapolri pada 2019 itu.

Dia tidak mematok berapa botol untuk meminjam sebuah buku. Sebab, targetnya adalah memupuk kesadaran bahwa daur ulang sampah penting bagi kehidupan.

Setelah menggagas konsep, Cahyo berkoordinasi dengan Lurah Karang Pilang Sanny Noerma Safaah dan penjaga perpustakaan kelurahan Risky Aprilianto. Gayung bersambut. Niatnya mendapat dukungan. Cahyo diperbolehkan meminjam buku dengan jumlah banyak sekaligus. Durasinya sepekan.

Alumnus SMAN 1 Driyorejo itu biasanya meminjam sekitar dua puluh buku. Buku-buku tersebut dibawa ke tempat yang ramai anak. Cahyo berkonsultasi dengan Babinsa Karang Pilang Serka Sasmito untuk menentukan tempat. ’’Kebetulan ada base camp sinau bareng di RT 6, RW 2, Kelurahan Karang Pilang,” tuturnya.

Dia pun menghubungi Tri Yuli Santoso, ketua RT setempat, untuk berkoordinasi. Inovasinya mendapat sambutan hangat. ’’Alhamdulillah, berkat sinergisitas tiga pilar Kelurahan Karang Pilang, program ini bisa berjalan dengan lancar,” ungkapnya bangga.

Lebih lanjut, Cahyo menerangkan, trik lain juga disiapkan agar programnya menarik perhatian. Dia menyiapkan hadiah bagi peminjam buku. Misalnya, tumbler, gantungan kunci, atau jajan.

Cahyo mengatakan, hadiah tersebut diberikan dengan syarat. Yakni, peminjam mau menjelaskan isi buku yang dibaca di hadapan peserta sinau bareng. ’’Untuk memacu anak agar tidak malu. Anak Surabaya harus berani tampil,” ujarnya.

Untuk mendukung program sinau bareng, dia juga sesekali melibatkan istrinya yang berprofesi sebagai guru di SDN Lontar 481. Yakni, Findry Istiyanti. Tujuannya, proses belajar berjalan lebih maksimal. ’’Yang ngajar sinau kan karang taruna. Kalau ada pengajar yang memang latar belakangnya seorang guru, tentunya akan lebih baik,” paparnya.

Cahyo menambahkan, setiap pekan dirinya memperbarui buku yang dipinjam dari kelurahan. Jadi, setiap anak bisa terus membaca buku yang berbeda. ’’Ke depan rencananya beli buku sendiri kalau memang buku di perpustakaan sudah terpinjam semua,” tandasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/git

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads