alexametrics

Kisah Pilu Nadia, dari Jadi Buruh hingga Jual Gorengan demi 3 Adiknya

Ayah Ibunya Pergi dan Menikah Lagi
20 Januari 2019, 16:01:10 WIB

Di sebuah rumah papan sederhana peninggalan orang tuanya, Nadia Safitri tinggal bersama ketiga adiknya. Siapa yang menyangka di usianya yang masih 17 tahun, ia sudah menjadi tulang punggung bagi adik-adiknya. Sebab, ayah dan ibunya memilih pergi dengan alasan mengadu nasib. Bagaimana kisahnya?

Virda Elisya, Pekanbaru

JawaPos.com – Senyum lebar tampak terpancar di wajah Nadia. Sekilas Nadia seperti remaja biasa yang tak memiliki masalah. Namun, jika ditelisik ke kehidupannya yang sebenarnya, gadis berhijab ini ternyata memikul beban hidup yang sangat berat. Beban yang tak sewajarnya dirasakan remaja seusianya.

Kisah Pilu Nadia, dari Jadi Buruh hingga Jual Gorengan demi 3 Adiknya
Kondisi rumah Nadia dan MCK (Virda Elisya/JawaPos.com)

Betapa tidak, sejak usia 11 tahun, Nadia harus menghidupi ketiga adiknya. Yaitu, Diana, 15; Marcel, 10; dan Kevin, 7. Mereka tinggal di sudut Kota Pekanbaru, Riau. Di sebuah rumah papan peninggalan orang tuanya yang berukuran 4×5 meter, yang terletak di Jalan Badak Ujung, RT 04 RW 04, Kelurahan Tuah Negeri, Kecamatan Tenayan Raya. 

Rumah itu bisa dikatakan sudah tak layak ditempati. Kondisinya miring. Jika hujan akan banjir dan saat cuaca panas terasa terik. Tak ada perabotan di rumah itu. Hanya ada satu ruangan kecil yang ditempati mereka untuk tidur. Bahkan tidak ada toilet. Jika ingin mandi, ia dan adik-adiknya akan membersihkan diri di samping rumah.

Tempatnya terbuka. Hanya ada kubangan bekas galian alat berat eksavator sebagai tempat penampungan air hujan. Warna airnya kekuningan dan bau, sebab struktur tanah di kubangan itu merupakan tanah liat. Air itu jugalah yang digunakan untuk mencuci baju dan piring.

Sedangkan kalau ingin buang air, ada sebuah kubangan lainnya. Jaraknya sekitar 6 meter. Ukurannya lebih besar dan lebar dari yang sebelumnya. Air di sini warnanya hijau. Ada sebuah jamban berukuran satu kali satu meter yang di sekelilingnya ditutupi karung bekas. Tak ada tempat penampungan kotoran atau septic tank. Sudah pasti, kotoran langsung jatuh ke kubangan itu.

Selain tempat tinggal yang tak layak, Nadia harus mencari nafkah untuk ketiga saudaranya. Hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah. Dia juga harus memasak makanan, mengurus adik dan lainnya, yang semestinya dilakoni oleh seorang ibu.

Peran sebagai ibu sekaligus ayah terpaksa dilakukannya. Karena sang ayah Munriadi sudah pergi sejak Nadia ada di dalam kandungan ibunya Yuliarna. “Ayah udah nikah lagi. Sekarang tinggal di Painan (Sumatera Barat),” kata Nadia. 

Setelah itu, Yuliarna memilih menikah lagi. Dari suami keduanya, Yuliarna mendapatkan 3 orang anak. Itulah Nadia, Marcel dan Kevin. Saat itu, Nadia memang sudah bekerja membantu ibunya sebagai buruh batu batu. Gajinya seminggu hanya Rp 50 ribu. Meski begitu, Nadia masih sempat untuk sekolah. Tapi akhirnya harus berhenti ketika duduk di kelas 1 SMPN 31 Pekanbaru, karena harus membantu orang tuanya.

Hidup terasa makin berat saat Kevin berusia 1 tahun. Di mana rumah tangga Yuliarna kembali retak dan ia memutuskan untuk pergi meninggalkan 4 buah hatinya. Alasannya, ingin mengadu nasib karena bekerja sebagai buruh batu bata tak cukup untuk hidup. “Ibu pergi ke Taluk (Taluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau). Di sana kerja di PETI (Penambangan Emas Tanpa Izin),” sebut Nadia.

Sementara itu, semula komunikasi antara Nadia dan ibunya cukup lancar melalui telepon seluler. Tetapi, beberapa tahun belakangan tak ada lagi. Ibunya jarang mengangkat telepon darinya. “Nadia telepon gak mau, di reject terus. Jadi tanya sama orang Madura kan ada yang Nadia kenal, rupanya udah di sana (Madura) nikah lagi,” jelasnya.

Sejak saat itulah Nadia harus berjuang sendirian. Diana yang semula sempat sekolah juga harus berhenti sebab tak ada yang merawat adik-adiknya. Diana kemudian mengikuti jejak kakaknya untuk bekerja sebagai buruh batu bata. 

Dengan penghasilan Rp 100 ribu per minggu jika digabung, mereka hidup seadanya. “Kadang makan kadang nggak. Biasanya kalau belanja nitip Tante (tetangga). Kasih yang Rp 100 ribu atau Rp 75 ribu udah cukup buat makan. Kalah beras kadang ada yang kasih,” tuturnya.

Meski tak sekolah, namun Nadia dan Diana memiliki tekad kuat. Keduanya gigih mencari uang agar kedua adiknya yang lain, Marcel dan Kevin tetap bisa mengenyam pendidikan. Tak harus mengikuti jejak mereka yang putus sekolah. “Kalau Marcel kelas 3 SD, kalau Kevin kelas 1 SD. Mereka sekolahnya gratis. Tapi cuma bayar beli bukunya aja gitu,” tuturnya.

Dua minggu belakangan, Nadia berubah profesi. Ia kini menjajakan gorengan orang dengan sebuah gerobak di Jalan Singgalang, Harapan Raya. Jarak dari rumah ke tempat jualan sekitar 5,5 kilometer. Nadia mulai bekerja pukul 13.00 hingga 21.00 WIB. Setelah memasak dan membersihkan rumah, Nadia berangkat ke sana berjalan kaki. Terkadang menumpang dengan orang jika ada. Sementara Diana tinggal di rumah, bekerja sebagai buruh batu bata sambil menjaga adiknya kalau sudah pulang sekolah.

“Diana tetap kerja di sana (angkut batu bata). Karena gak ada yang jaga adik kan. Kalau Nadia di sini dibayar Rp 100 per goreng. Sehari bisa dapat Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribuan lah. Alhamdulillah cukup untuk sehari-hari,” imbuhnya.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : Virda Elisya

Kisah Pilu Nadia, dari Jadi Buruh hingga Jual Gorengan demi 3 Adiknya