alexametrics

Maria Lidwina Endang, Masuk Perguruan Tinggi di Usia 65 Tahun

19 September 2019, 20:48:34 WIB

Keputusan untuk kuliah diambil Maria Lidwina Endang saat usianya memasuki 65 tahun. Itu adalah kali pertama dia menempuh pendidikan perguruan tinggi. Hasilnya pun membanggakan.

HANAA SEPTIANA, Surabaya

TAWARAN beasiswa bagi para guru PAUD di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) membangkitkan semangat Maria Lidwina Endang untuk berkuliah. Tepat di usia ke-70, dia resmi menyandang gelar strata satu. Menerima ijazah S-1 ketika prosesi wisuda pada Rabu (11/9), nenek lima cucu itu terlihat tegas dan bugar. Di akhir prosesi, dia kembali dipanggil. Unusa memberinya penghargaan sebagai mahasiswa dengan usia emas dan bersemangat.

Berprofesi sebagai guru PAUD juga bukan cita-citanya. Dia diminta menjadi relawan guru meski tidak punya latar belakang sebagai pendidik. Pada 2015, guru-guru PAUD di kediamannya, Tandes, ditawari untuk menempuh kuliah sarjana. Tujuannya, meningkatkan mutu guru PAUD. Selain itu, Unusa menawarkan subsidi bagi mereka dengan beasiswa apresiasi bunda PAUD.

Mulanya, yang ditawari adalah guru-guru yang masih muda. ’’Tapi, banyak yang belum mau kuliah karena repot punya anak kecil,’’ kata Maria, panggilan akrabnya. Maria lantas menawarkan diri untuk menempuh kuliah Bagaimana tanggapan anak-anaknya saat itu? ’’Pokoknya apa pun yang mama suka, yang penting positif, silakan,’’ ujar Maria menirukan ucapan ketiga anaknya, Sisilia Alexandra Susilo, Veronica, dan Yohannes Krowe Steven Matutina.

Sebab, sejak suaminya meninggal delapan tahun silam, anak-anaknya mencari cara agar Maria tidak selalu ingat dengan mendiang suaminya. Salah satu caranya menyibukkan diri. Selama kuliah Maria mendapat dukungan penuh dari anak-anaknya. Termasuk bantuan finansial dari Sisilia, anak pertamanya.

Di awal-awal perkuliahan, Maria mengatakan sangat bersemangat. ’’Teman-teman satu kelas yang merupakan bunda-bunda PAUD juga ramah-ramah,’’ katanya. ’’Walaupun keyakinan kami berbeda, tidak ada masalah,’’ katanya.

Bahkan, untuk menghormati kampus yang bernapas Islam, Maria yang beragama Katolik mengenakan kerudung selama kuliah. Baju yang dikenakan pun selalu tertutup.

Jarak dari rumah ke kampus yang jauh tidak jadi halangan. Warga Manukan Kulon itu berkuliah di Kampus A Unusa di Jalan SMEA setiap Senin–Jumat. Jika ada urusan administrasi, dia harus pergi ke Kampus B Unusa Jemursari. ’’Berangkat ke Terminal Joyoboyo diantar anak laki-laki saya, Yohannes. Dia sekalian berangkat kerja. Setelah itu, baru naik lin ke kampus,’’ kata perempuan kelahiran Semarang tersebut. Untuk pulang, lin pun jadi pilihannya. Dengan begitu, pergi-pulang (PP) kuliah dia naik lin.

Maria mengakui, di usia senjanya, dirinya memang tidak mudah memahami materi kuliah. Dia harus mengulang-ulang materi yang disampaikan dosen. Beruntung, dosen di kampusnya juga sangat proaktif. Setelah menjelaskan, para dosen selalu memastikan Maria sudah memahami materinya. ’’Paham, Bu? Ada yang ditanyakan,’’ begitu Maria menirukan ucapan dosen-dosennya.

Maria juga merasa berutang budi pada empat sahabat karibnya selama berkuliah. ’’Setiap hari saya sarapan sama Mbak Lis, Mbak Kesi, dan Mbak Murti. Mereka juga sering bantu tugas kuliah,’’ katanya.

Salah satu tantangan saat kuliah adalah tugas akhir. ’’Judul penelitian saya ditolak. Katanya pernah ada,’’ ungkapnya. Hal itu sempat membuatnya down dan bingung.

Namun, teman-temannya membantu Maria mendapatkan topik baru. Dia lantas memilih judul Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Anak Usia Dini.

Saat penyusunan skripsi, rekan-rekannya juga membantu. ’’Saya enggak bisa pakai laptop. Mbak Kesi yang ngetik, nge-print, masukkan CD, dibantu sekali,’’ jelasnya. Pun demikian dosen-dosennya. ’’Ibu Mahmudah, dosen saya, sabar sekali, enggak pernah marah meskipun saya tanya dan minta ulangi terus,’’ paparnya. Perasaan grogi juga menimpanya ketika ujian skripsi. Namun, Maria berhasil lulus dengan IPK 3,57.

Rektor Unusa Achmad Jazidie turut bangga dengan prestasi yang diraih Maria. Menurut dia, Bu Maria merupakan salah satu contoh bahwa pendidikan tidak memandang usia, terlebih agama. ’’Selagi kita masih bernapas, hendaknya semangat menuntut ilmu,’’ ucapnya.

Jazidie menuturkan, program beasiswa apresiasi guru-guru PAUD dari Unusa berawal dari keprihatinan. Sebab, kualitas hingga pendapatan guru PAUD tidak sebanding dengan apa yang dilakukan. ’’Mendidik anak usia emas harus dilakukan sebaik-baiknya agar otaknya berkembang maksimal. Tapi, selama ini gurunya masih jarang yang lulusan S-1. Pendapatannya juga hanya Rp 50 ribu sebulan,’’ ucapnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c15/tia



Close Ads