alexametrics

Harits Alfrido Dewanto, Pembuat Karya Fashionable dari Sampah Parpol

Ingin Mengubah Sampah Digital Menjadi Karya Seni
19 April 2019, 15:26:24 WIB

Pesta demokrasi di Indonesia baru saja selesai. Seiring dengan pencoblosan pada 17 April. Ingar biangarnya berakhir. Kini, berganti dengan tumpukan sampah alat peraga kampanye (APK). Resah akan banyaknya sampah yang ada, Harits Alfrido Dewanto memanfaatkan limbah digital itu menjadi karya yang fashionable.

RIZKY AHMAD FAUZI, Depok

PANDANGAN Harits Alfadri Dewanto cukup tajam melihat banyaknya alat peraga kampanye (APK) di sepanjang jalan yang dilaluinya. Mulai dari Jalanan Raya Pondok Gede, Jatiwarna, Jati Asih, hingga Komplek Villa Nusa Indah, Bekasi. Di jalan-jalan yang dilaluinya itu, hampir tidak pernah pandangannya lepas dari APK.
Tahun ini memang menjadi pesta demokrasi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Sebab, tahun ini pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) periode 2019-2024 dilakukan serentak.

Dilakukannya pemilihan umum secara bersamaaan itu membuat sampah digital dari APK menumpuk. Sebab, tentu saja spanduk hingga baliho dari jualan calon terpampang di berbagai sisi-sudut jalan. Mulai di pinggir jalan, perempatan lampu merah, tiang listrik, hingga nyantol di pohon.

Saking seringnya melihat calon, dia mengaku sempat hafal siapa nama, partai, nomor urut, hingga bagaimana mimic senyum para calon. ”Ketika di jalan melihat pemandangan kiri-kanan, terlihat jelas bertumpuk baliho, poster, atau apapun seperti menyerupai tatanan kolase,” ungkapnya kepada Jawa Pos, Rabu (17/4).

Tejet – sapaan akrab Harits Alfadri Dewanto- pun langsung teringat dengan pelajaran kuliah dulu. Dia merupakan alumnus desain komunikasi visual (DKV) Sekolah Tinggi Desain Interstudi.

Saat itu dalam pembuatan poster, spanduk, atau lainnya harus ada pernyataan dan poin utama. ”Tapi kok semua yang dilihat itu poin utama ya? Malah jadi bingung mereka itu (para calon) siapa, tanpa pergerakan bisa mesem di sana (APK),” ungkapnya.

Model mengenakan busana yang terbuat dari sampah alat peraga kampanye partai politik (parpol). Kini APK itu diolah menjadi karya yang fashionable oleh Harits Alfadri Dewanto. (For Jawa Pos)

Kegelisahan Tejet memuncak ketika kampanye usai dan memasuki masa tenang pada 14 April. Dia merasakan keresahan ketika melihat bendera-bendera berlogo partai-partai beken yang terpampang. Apalagi APK itu juga melukai pohon-pohon pinggir jalan raya, menutupi lampu jalan, hingga menutupi jalur pejalan kaki. Menurut dia, menaruh atribut kampanye seperti itu mengganggu fungsi fasilitas umum dan juga mengganggu estetika umum.

Sejak 14 April hingga pencoblosan, memang tidak dibolehkan adanya APK di jalan. Para kandidat tidak boleh melakukan kampanye. APK yang ada di jalan pun segera dicopot.

Kewajiban untuk membersihkan sampah visual sebetulnya berada di pundak pelaku pemasangan. Hanya saja, realitanya tak sama. Banyak dari mereka yang lepas tanggung jawab. Pada akhirnya tim gabungan dari Satpol PP, TNI-Polri, hingga Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) yang mengambil alih tanggung jawab tersebut.

Soal penumpukan sampah itu, dia mencoba melakukan komunikasi bersama temannya dengan topik sampah visual yang sudah beredar lama. Sebab, hampir setiap ada pemilihan umum bakal terjadi penumpukan sampah. Dimana pun. ”Berbagai macam angle (soal sampah digital) diambil luar dan dalam oleh media digital. Tapi kok belum dapat solusinya ya,” katanya bertanya.

Dari pandangannya, dia belum menemukan solusi untuk membersihkan sampah visual yang berserakan pasca pemilu. Atas keresahannya itu, pria berusia 26 tahun itu merasa perlu melakukan sesuatu. Tujuan utamanya, tentu saja meminimalisir sampah dari limbah yang ada. Akhirnya, dia mengambil alat kampanye yang terpampang di dekat rumahnya itu untuk dijadikan barang yang berguna.

Potongan alat peraga kampanye parpol yang dibuat jadi pola sebelum dijadikan sebagai karya fashionable. (RIZKY AHMAD FAUZI/JAWA POS)

Idenya pun muncul. Ilmunya selama di perkuliahan berguna. Pertamanya dia mengumpulkan seluruh APK yang diambilnya. Setelah itu, dari APK yang ada kemudian dia mulai menggabungkan bendera-bendera partai dan dijadikan suatu barang yang unik. “Saya bikin patchwork gitu,” bebernya.

Adapun teknisnya, dari satu bendera dia melakukan split jadi empat bagian. Setelah itu diacak kembali biar menjadi motif yang diinginkan. “Saya pakai mood warna biru yang lebih banyak terinspirasi dari mood outter denim Jepang gitu. Dari cutting-annya sengaja saya buat kayak gitu, susah banget jahitnya dari kain satu ke kain lainnya,” ceritanya.

Memiliki ilmu di bidang DKV membuat jaket yang berbahan utama bekas tapi tetap memiliki estetika yang tinggi. Sama sekali tidak terkesan murahan. Kalau Virgil Abloh memakai elemen visual garis di jalan raya untuk jadi karakter karyanya, kali ini Tejet memanfaatkan elemen limbah visual sebagai sebuah karya yang fashionable.

Karya yang dibuatnya cukup berkaitan dengan pekerjaannya saat ini. Tejet diketahui sebagai founder dari produk jasa custom lukis apparel Funky Scars. Selama tiga tahun ini, kurang lebih dirinya bersama tim sudah membuat karya seni lukis yang diaplikasikan ke dalam pakaian menjadi produk yang terbatas sebanyak 400 buah.

Salah satu karya dari pemanfaatan yang sudah ada yaitu jaket. Pada jaket tersebut terdapat penggabungan dari unsur partai politik. Lambang dan warna yang berbeda membuat jaket tersebut lebih variatif dan berwarna.

Karyanya tersebut kemudian di share melalui media sosial. Hasilnya pun cukup bagus. Warganet sangat mengapresiasi karya yang dilakukannya. Atas respon positif yang didapatnya itu pula, Tejet berencana untuk lebih mengembangkan idenya tersebut.

Dia sudah memiliki planning ke depan. Rencana terbesarnya adalah pameran dari limbah visual. Teknis untuk mewujudkan itu antara lain berkolaborasi dengan orang yang memiliki persamaan akan resahnya atas limbah visual dari partai politik. Caranya pun beragam. Masyarakat bisa menyerahkan limbah APK kepada pihaknya. Dari situ, nantinya dia bersama tim akan mengolah bahan tersebut menjadi sesuatu. “Kami olah sesuai dengan tantangan kontributor,” paparnya.

Setelah itu, dia akan memberikan pilihan kepada penyumbang. APK yang diberikan nantinya bakal dibuat jaket, celana, topi, tas. “Atau mungkin ada ide out of the box yang mereka (penyumbang) tawarkan bisa dipertimbangkan secara estetika dan fungsinya,” katanya.

Pada akhirnya, sambungnya, barang yang diolah tersebut bakal disatukan dalam tatanan ruangan gallery. ”Di situlah kami dan Kontributor membangun kesepakatan untuk menjualnya,” ucapnya.

Oleh sebab itu, dia berharap adanya support dari penyumbang. Sebab, semakin banyak yang memberikan sisa APK, semakin banyak pupa karya yang akan dibuatnya.  Ya, selesainya pemilu serentak ini seharusnya dijadikan momen persatuan bagi masyarakat. Stop untuk membabi buta mendukung pasangan yanh dijagokan. Berhenti pula untuk menjelekkan lawan politik masing-masing.

Sebab, siapa pun pemimpin yang terpilih sebagai presiden-wakil presiden hingga yang menduduki kursi wakil rakyat, sebagus apa pun program yang dicanangkan mereka, hasilnya tidaklah optimal jika masyarakat tidak tergerak untuk maju dan mengubah nasibnya sendiri.

Kini, lupakan perbedaan di pemilu. Saatnya bangkit bersama dengan membuat kreasi dan krestifitas yang membanggakan. Salah satunya, memanfaatkan sampah untuk menjadi sesuatu yang bernilai. Syukur-syukur bisa menghasilkan. Semangat berkreasi, Kawan! (*)

Editor : Ilham Safutra