alexametrics

Perjuangan YKPI, Rumah Singgah Anak Kanker Selama Pandemi Covid-19

19 Januari 2022, 07:48:08 WIB

Rumah singgah yang berada di Nginden Intan Barat hampir tidak pernah sepi. Setiap hari Yayasan Kami Peduli Indonesia (YKPI) atau juga dikenal sebagai Rumahku Surabaya itu menjadi jujukan pasien kanker. Mulai anak hingga remaja.

DIMAS NUR APRIYANTO, Surabaya

KEBERADAAN rumah singgah untuk pasien dengan penyakit kronis seperti kanker yang harus bolak-balik menjalani terapi di rumah sakit jelas meringankan. Terutama bagi pasien yang domisilinya jauh dari rumah sakit. Menyewa hunian sementara akan menambah beban pengeluaran.

Sebab, tidak sedikit keluarga pasien yang berasal dari masyarakat kurang beruntung. Berobatnya memang gratis. Tapi, kebutuhan lain seperti makan bagi penjaga pasien tetap harus merogoh kocek. Nah, di YKPI atau Rumahku Surabaya, pasien tak dipungut biaya sama sekali.

Saat berkunjung ke YKPI pada Minggu (16/1), koran ini bertemu dengan AA. AA baru saja datang ke YKPI. Bayi yang usianya belum genap 1 tahun itu harus menjalani bedah plastik di RS Universitas Airlangga. Di pipi kirinya ada sebuah daging tumbuh. Sebelum bedah plastik, AA perlu menjalani serangkaian pemeriksaan.

’’Nggak rewel, tapi di kondisi tertentu menangis juga anak ini,” kata ibunda AA yang enggan menyebutkan nama.

Ibu AA didampingi sang suami berangkat dari Lumajang menuju YKPI. Dia mendapatkan alamat YKPI dari salah seorang rekannya.

Rumah singgah YKPI menyediakan beberapa kamar. Di setiap kamar ada bed. Maksimal ada lima bed per kamar dengan diberi jarak minimal 1 meter. YKPI tidak hanya menampung pasien kanker.

Ada pasien penyakit nonkanker yang juga singgah di YKPI. Misalnya, pasien yang membutuhkan terapi cuci darah.

Ada ruang khusus yang disediakan YKPI bagi pasien cuci darah. YKPI menyediakan fasilitas lengkap bagi pasien yang singgah. Antara lain, dapur yang komplet dengan bahan pangan, televisi, kursi roda, hingga ambulans. Sebelum datang ke YKPI, pasien bisa mengonfirmasi ke petugas. Apabila pasien membutuhkan bantuan penjemputan, petugas YKPI pun menjemput. Gratis.

Waktu 24 jam dalam sehari seolah tak memberikan kesempatan bagi Hengky untuk ’’bernapas”. Sebab, pria yang bertugas sebagai driver di YKPI itu sigap kapan pun ketika dirinya dibutuhkan untuk menjemput dan mengantarkan. ’’Pernah, pukul 01.00 ditelepon buat jemput pasien dan keluarganya, ya harus berangkat,” kata Hengky, lalu tertawa kecil.

Selain itu, Hengky harus memastikan keperluan makanan di rumah singgah tersedia. Tidak boleh ada yang habis. ’’Karena rumah singgah tak pernah sepi, selalu ada orang yang datang,” tambahnya.

Semua pelayanan di YKPI dibangun dengan asas kasih. Salah seorang founder YKPI Emayani Hardjo menuturkan, tidak ada pelayanan yang dikomersialkan. Mau berapa hari tinggal di YKPI dibebaskan. ’’Minta diantar balik ke rumah misalnya, mau ke terminal juga gratis,” tutur ibu tiga anak itu.

Emayani tidak sendirian. Ada temannya yang juga turun tangan. Mereka adalah Wirawan, Simon, Alec, Han Han, dan Robert. Semua pendanaan diambil dari kantong pribadi dan donasi dari orang sekitar Emayani serta kelima temannya.

Saat ditanya, apa yang membuat Emayani bertahan untuk membuka pintu pelayanan di YPKI? Dia terdiam sejenak beberapa detik. Kesepuluh jemarinya dieratkan. ’’Ketika ada pasien yang bisa terbantu dengan tidur di rumah singgah, ada kepuasan dalam hati,” ungkapnya, lalu tersenyum.

Ada satu nama pasien yang tak terhapus dari ingatan Emayani. Namanya Larasati. Kini, yang tersisa di ingatan Emayani hanya senyuman Larasati. Tiap menit Larasati harus mengganti cairan yang masuk ke tubuhnya. Yang membuat Emayani trenyuh, kegigihan ibunda Larasati. Tak pernah lupa dan mengeluh melayani serta merawat malaikat kecilnya itu.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, Larasati dengan ditemani Emayani dan pasien lain berkunjung ke arena bermain di Tunjungan Plaza.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter :  */c7/git

Saksikan video menarik berikut ini: