alexametrics

Perjuangan YKPI, Rumah Singgah Anak Kanker Selama Pandemi Covid-19

19 Januari 2022, 07:48:08 WIB

Waktu 24 jam dalam sehari seolah tak memberikan kesempatan bagi Hengky untuk ’’bernapas”. Sebab, pria yang bertugas sebagai driver di YKPI itu sigap kapan pun ketika dirinya dibutuhkan untuk menjemput dan mengantarkan. ’’Pernah, pukul 01.00 ditelepon buat jemput pasien dan keluarganya, ya harus berangkat,” kata Hengky, lalu tertawa kecil.

Selain itu, Hengky harus memastikan keperluan makanan di rumah singgah tersedia. Tidak boleh ada yang habis. ’’Karena rumah singgah tak pernah sepi, selalu ada orang yang datang,” tambahnya.

Semua pelayanan di YKPI dibangun dengan asas kasih. Salah seorang founder YKPI Emayani Hardjo menuturkan, tidak ada pelayanan yang dikomersialkan. Mau berapa hari tinggal di YKPI dibebaskan. ’’Minta diantar balik ke rumah misalnya, mau ke terminal juga gratis,” tutur ibu tiga anak itu.

Emayani tidak sendirian. Ada temannya yang juga turun tangan. Mereka adalah Wirawan, Simon, Alec, Han Han, dan Robert. Semua pendanaan diambil dari kantong pribadi dan donasi dari orang sekitar Emayani serta kelima temannya.

Saat ditanya, apa yang membuat Emayani bertahan untuk membuka pintu pelayanan di YPKI? Dia terdiam sejenak beberapa detik. Kesepuluh jemarinya dieratkan. ’’Ketika ada pasien yang bisa terbantu dengan tidur di rumah singgah, ada kepuasan dalam hati,” ungkapnya, lalu tersenyum.

Ada satu nama pasien yang tak terhapus dari ingatan Emayani. Namanya Larasati. Kini, yang tersisa di ingatan Emayani hanya senyuman Larasati. Tiap menit Larasati harus mengganti cairan yang masuk ke tubuhnya. Yang membuat Emayani trenyuh, kegigihan ibunda Larasati. Tak pernah lupa dan mengeluh melayani serta merawat malaikat kecilnya itu.

Sebelum mengembuskan napas terakhir, Larasati dengan ditemani Emayani dan pasien lain berkunjung ke arena bermain di Tunjungan Plaza.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter :  */c7/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads