alexametrics

Jalan Panjang Benda-Benda Bersejarah Indonesia di Belanda untuk Pulang

Agar Tak Hanya Jadi Pemburu Harta Karun
18 Oktober 2020, 10:05:34 WIB

SUDAH  sekitar 1.500 benda bersejarah asal Indonesia yang dikembalikan Belanda. Yang belum? Bisa jadi lebih banyak lagi. Komite bentukan Negeri Kincir Angin itu sudah merekomendasikan pengembalian barang-barang dari masa kolonial yang diperoleh secara ilegal. Tapi, untuk memulangkan sebilah keris pun, negosiasinya bisa bertahun-tahun.

*

Yang paling menjadi pertimbangan pemerintah sebelum mengajukan permintaan pengembalian: nilai benda dan di mana akan disimpan. Hasil jarahan seperti emas, berlian, dan permata paling sulit direpatriasi.

SEBELUM akhirnya bisa pulang ke Indonesia, keris Pangeran Diponegoro harus melintasi perjalanan yang sangat panjang dari Belanda. Dimulai dengan penelitian pada 1984.

Mari menengok ke Prancis. Pidato Presiden Emmanuel Macron pada 2017 memang ditepuktangani dunia. Macron berjanji mengembalikan sebagian besar benda bersejarah dari negara-negara bekas jajahan mereka di Afrika.

Dan, apa yang terjadi tiga tahun berselang? Cuma 27 restitusi (pembayaran ganti rugi) yang terjadi. Dan, hanya satu barang bersejarah yang dikembalikan, tepatnya ke Senegal.

Jadi, rilis komite penasihat bentukan pemerintah Belanda pada Rabu pekan lalu (7/10) itu memang melegakan. Seperti Macron, mereka meminta Negeri Kincir Angin mengakui dosa kolonialisme dan mengembalikan benda-benda bersejarah yang diambil secara ilegal dari bekas tanah jajahan.

Ratusan ribu jumlahnya, sebagian dari Indonesia, bekas jajahan paling besar Belanda. Tapi, ’’pintu yang terbuka’’ itu sebaiknya disikapi secara realistis. Sebab, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk benar-benar bisa membawa pulang berbagai aset bersejarah tersebut ke tanah air. Dan, apa memang perlu semua direpatriasi?

Dr Sri Margana, anggota Committee for Colonial Objects Repatriation, mengatakan bahwa pengembalian barang-barang Indonesia yang sudah masuk di berbagai museum Belanda sangatlah susah. ’’Meski barang-barang yang disodorkan itu bukan barang yang dipajang untuk koleksi,’’ kata Margana yang terlibat dalam pemulangan keris Kiai Nogo Siluman milik Diponegoro.

Dosen Ilmu Sejarah FIB Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, itu menambahkan, kedua pihak, Indonesia dan Belanda, sama-sama memiliki tim. Jadi, negosiasi barang mana yang dikembalikan ke Indonesia atau tetap di Belanda pasti alot. ’’Bukan pemerintahnya yang ngotot mempertahankan, melainkan kurator museum itu,’’ ucap Margana.

Direktur Pelindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Fitra Arda mengakui, jumlah benda budaya Indonesia cukup banyak di luar negeri. Sayang, belum diketahui secara pasti berapa total keseluruhan dan tersebar di negara mana saja.

Diperkirakan, paling banyak berada di Belanda. ’’Ini karena sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia yang terhitung lama,’’ katanya kepada Jawa Pos.

Salah satunya yang tengah ramai menjadi perbincangan adalah berlian Banjarmasin. Sejarawan Bonnie Triyana memperkirakan berlian yang konon bernilai miliaran rupiah itu baru bisa dipulangkan dalam satu–dua tahun.

’’Berlian Banjarmasin itu hasil ekspedisi militer Belanda saat menyerang keraton Kesultanan Banjarmasin,’’ katanya kepada Jawa Pos.

Bonnie menjelaskan, penelitian atas suatu barang bersejarah yang akan dikembalikan harus detail. Tujuannya, memastikan bahwa barang itu benar-benar diambil secara paksa atau dijarah/dicuri.

’’Kalau itu benda pemberian atau hadiah, masak kita tarik lagi,’’ ujarnya.

KEKAYAAN NUSANTARA: Wadah obat yang kini jadi koleksi Museum Nasional, Jakarta. Dulunya benda ini disimpan di Museum Prinsenhof, Delft, Belanda. (MUSEUM NASIONAL FOR JAWA POS)

Jos van Beurden, peneliti independen yang memfokuskan diri pada perkara restitusi sejak 1990-an, memuji rilis komite bentukan pemerintah Belanda tadi. Komite tersebut memang telah setahun melakukan riset, termasuk mewawancarai banyak orang di bekas negeri-negeri jajahan.

’’Tapi, saya khawatir soal eksekusinya,’’ kata Van Beurden seperti dikutip Associated Press.

Repatriasi barang-barang bersejarah Indonesia dari Belanda sebenarnya terjadi sejak 1970-an. Jika ditotal, sudah ada 1.500 koleksi bersejarah yang pulang kembali ke tanah air.

Pemerintah, kata Fitra, juga tak bisa sembarangan mengajukan klaim atau permintaan pengembalian. Ada sejumlah hal yang harus diperhatikan: nilai benda budaya tersebut dan lokasi penyimpanan di Indonesia. Sebagaimana yang tercantum dalam UU 11/2010 tentang Cagar Budaya dan UU 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

“Sekarang sedang kami cek dan pilih juga oleh Tim Ahli CBN (Cagar Budaya Nasional, Red),” paparnya.

Dia melanjutkan, nilai itu bisa berkaitan dengan sejarah etnis tertentu, agama, tokoh, perjuangan, hingga kerajaan. Dan, yang tak kalah penting adalah narasi benda budaya tersebut.

Sebab, keterangan sejarah kebanyakan benda budaya di luar negeri sangat minim. Bahkan, sebagian hanya ditulis lokasi asalnya. Misalnya, Central Java.

’’Jadi, yang penting bukan hanya koleksinya, tapi juga narasinya. Ini yang membedakan museum dan toko barang antik,’’ jelas Fitra.

Senada dengan Fitra, Bonnie juga menggarisbawahi bahwa kandungan ilmu pengetahuan lebih penting daripada nilai suatu barang bersejarah secara nominal. Dengan adanya aktivitas penggalian ilmu pengetahuan tersebut, lanjut Bonnie yang juga terlibat dalam pemulangan keris Kiai Nogo Siluman, Indonesia tidak sebatas menjadi pemburu harta karun. Layaknya sekuel film Indiana Jones.

Yang prosesnya paling sulit, kata Margana, barang-barang hasil jarahan. ’’Barang-barang yang statusnya rumit ini biasanya emas, permata, atau yang punya nilai material tinggi,’’ jelas Margana.

Dari pengalaman Margana, ada identifikasi yang panjang untuk setiap barang yang hendak dikembalikan ke Indonesia. Misalnya, surat-menyurat. Jika barang-barang yang diberikan raja-raja berbagai kawasan Indonesia dimaksudkan sebagai hadiah, biasanya ada arsip lengkap.

’’Kurator-kurator museum di Belanda galak-galak karena benda-benda dari Nusantara umumnya punya daya magnet kuat,’’ katanya.

Persoalannya, Belanda belum punya data lengkap benda-benda bersejarah yang mereka bawa dari tanah jajahan. Itu belum bicara biaya perawatan yang umumnya mahal.

Karena itu, kata Margana, repatriasi kalau berjalan mulus sebenarnya membantu pemerintah Belanda. Hanya, masalahnya, yang akan menerima pengembalian barang apakah juga sudah menyiapkan fasilitas dan biayanya?

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : dra/mia/wan/c19/ttg




Close Ads