alexametrics

Yason Yikwa-Titus Kogoya, Pelindung Pendatang saat Kerusuhan Wamena

Bunuh Saya Dulu sebelum Sentuh Pengungsi
18 Oktober 2019, 16:11:58 WIB

Tanpa dua orang ini, sangat mungkin jumlah korban kerusuhan Wamena berlipat-lipat. Mereka berdua secara heroik menyelamatkan pendatang dari amuk massa. Membuka pintu gereja untuk tempat mengungsi. Memotong pohon sebagai palang masuk kompleks.

JAUH HARI WAWAN S., Sleman, Radar Jogja

SENIN, 23 September 2019, merupakan hari kelam bagi warga yang tinggal di Wamena. Pagi itu demo yang dilakukan sekelompok orang berujung kericuhan. Banyak korban yang jatuh. Kerusuhan pun semakin luas. Banyak warga yang mengungsi.

Di tengah kepanikan massa, muncul sosok pahlawan. Mereka melindungi warga pendatang atas dasar kemanusiaan. Pendeta Yason Yikwa menjadi tameng bagi sekitar 500 warga pendatang yang lari mencari perlindungan.

Dengan tangan terbuka, Yason memberikan suaka. Tiga bangunan di Gereja Baptis Phike dibuka untuk pengungsi. Yaitu, asrama panti asuhan putra, asrama panti asuhan putri, serta kantor panti asuhan dan yayasan.

”Mereka tampak ketakutan. Saya sebagai hamba Tuhan dan atas dasar kemanusiaan, kami evakuasi semua,” katanya setelah menerima penghargaan Pelopor Perdamaian dari Menteri Sosial Agus Gumiwang di Candi Prambanan, Sleman, Jogja, Rabu malam (16/10).

Dia meminta warga lokal di sekitar gereja ikut membantu. Tidak boleh ada yang berbuat onar. Semua harus menyelamatkan warga pendatang karena mereka semua adalah saudara. Tidak peduli agama maupun suku, semua harus diselamatkan.

”Lalu, mereka menyelamatkan diri masuk gereja lewat depan, belakang, dan samping,” ungkapnya.

Ada satu pengungsi yang mengalami luka bakar. Pendeta Yason bersama yang lain berusaha mengangkat pria yang terluka itu. ”Saya minta untuk dievakuasi dan diangkat dengan ayakan pasir dan segera dibawa ke rumah sakit,” jelasnya.

Yason berusaha mempertahankan warga pendatang di dalam gereja. Mulai pukul 09.00 hingga malam, dia bertahan dari ancaman ratusan orang di luar gereja. Saat itu para perusuh membawa parang, batu, kayu, dan pisau tajam.

Massa meminta pendeta menyerahkan warga yang berada di dalam gereja. Namun, Yason menolaknya. Dia meminta para perusuh tidak menyentuh mereka atau berbuat onar. ”Tidak boleh bikin apa-apa, tidak boleh sentuh. Karena kalau bikin apa-apa, lebih baik kamu bunuh saya, baru kamu lakukan yang itu (membunuh pendatang, Red),” ucapnya mengulang perkataannya kala itu.

Setelah Yason berucap demikian, massa mengurungkan niat mereka. Sebab, mereka tahu bahwa yang berbicara adalah seorang pendeta. Di Papua, posisi pendeta sangat dihormati dalam kehidupan masyarakat. Massa pun menurut dan tidak berbuat onar. Namun, mereka masih berada di sekitar lokasi.

Pada pukul 15.00 WIT, Yason berusaha bernegosiasi dengan perusuh. Aparat keamanan juga datang dan hendak menghalau. Namun, Yason tidak ingin ada kekerasan. Dia menjadi penengah.

Dalam negosiasi itu, penduduk lokal menginginkan enam orang yang ditangkap petugas keamanan dibebaskan. Massa berjanji tidak akan melukai warga pendatang di gereja itu. Tawaran itu disetujui aparat keamanan.

Baru sekitar pukul 20.00, para warga pendatang bisa mulai keluar dari gereja meski dengan hati yang masih diliputi kecemasan. Yason berpesan bahwa Tuhan mengajarkan kepada umat di dunia untuk menjaga perdamaian dan saling mengasihi. Karena itu, dia meminta tidak ada lagi kerusuhan di Wamena.

Di wilayah lain, massa perusuh juga menyebar. Di Kampung Mawampi, Distrik Wesaput, yang berlokasi di belakang Bandara Wamena dan terhubung dengan pusat kerusuhan di Homhom dan Pikhe melalui Jalan Jibama, Titus Kogoya menjadi pahlawan bagi warga pendatang.

Pria yang bekerja sebagai PNS di Pemkab Tolikara tersebut baru kembali dari pusat kota. Saat melihat asap membubung tinggi di langit Pikhe, nalurinya memerintahkan agar bersiaga. Titus memerintah pemuda setempat untuk menebang pohon di ujung kampung dan merobohkannya ke jalan.

Kepada para pemuda, Titus meminta mereka tidak memberikan izin kepada satu pun orang dari luar kampung untuk masuk. ”Jalan kami palang. Jangan ada orang luar bisa masuk,” ungkap Titus yang juga menerima penghargaan serupa dengan Pendeta Yason.

Bersama adiknya, Abini Kogoya, Titus mencari warga pendatang dan memerintahkan untuk secepatnya mencari perlindungan. Dia mengenang, saat kejadian, dari kejauhan terdengar suara tembakan berulang-ulang. Namun, dia tidak peduli. Dalam keadaan genting, Titus hanya memikirkan cara menyelamatkan warga pendatang tanpa diketahui perusuh.

Warga lokal kerap berperilaku brutal kala berunjuk rasa. Pria 45 tahun itu tidak ingin terjadi pertumpahan darah di kampungnya. Secara adat, darah pasti menuntut darah. Karena itu, dia ingin warga pendatang maupun warga lokal bisa hidup rukun.

Di Kampung Mawampi, kebanyakan pendatang berasal dari Jawa, Madura, dan Toraja. Kebanyakan bekerja sebagai tukang ojek, pedagang makanan, pedagang kelontong, dan lain-lain. Mereka yang sehari-hari menggantungkan hidupnya di Mawampi berduyun-duyun masuk ke rumah Titus.

Tukang ojek berebut memarkir kendaraan mereka. Perempuan dan anak-anak mulai berdesakan di ruang tamu. Tak kurang dari 80 orang mencari suaka di rumah keluarga Kogoya. Titus meminta semua orang menutup muka mereka. ”Teman-teman mesti sembunyi muka,” ujarnya.

Di luar, pemuda Mawampi bersiaga. Mereka membawa senjata tajam di titik-titik masuk kampung. Titus melarang orang luar masuk kampung. Dia bahkan sempat bertemu langsung dengan para perusuh. Perusuh terus melancarkan ancaman. Namun, Titus tetap pada pendirian untuk menyelamatkan warga pendatang.

Titus sudah menganggap warga pendatang seperti saudara. Saat ada warga lokal yang tertimpa musibah, warga pendatang sigap membantu. Bahkan, ketika warga lokal kehabisan uang untuk berbelanja, para pendatang bersedia memberikan utangan.

Titus bercerita, hari itu mulai pukul 08.30 hingga pukul 03.00 dirinya bertahan untuk menghalau perusuh yang menerobos masuk. Dia meminta perusuh pergi meninggalkan kampungnya. ”Cukup sudah korban di sana, jangan lagi ada korban di sini. Kita ini keluarga. Kalau kamu datang meresahkan kami, tidak boleh,” ucapnya.

Mendengar hal itu, para perusuh mengurungkan niat mereka. Apalagi, jalan masuk sudah dipalang dengan pohon. Secara adat, ketika jalan sudah dipalang, artinya tidak boleh masuk. Baru sekitar pukul 03.30 kondisi mereda. Titus mengevakuasi warga pendatang ke tempat pengungsian yang berjarak 1–2 kilometer.

Menteri Sosial Agus Gumiwang mendengar cerita heroik dua orang tersebut sekitar seminggu lalu saat berkunjung ke Wamena. ”Karena itu, saya sangat ingin bertemu langsung dan berkenalan dengan mereka. Padahal, nyawanya menjadi taruhan,” tutur Agus seusai acara 1 Dasawarsa Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) di Candi Prambanan, Rabu malam (16/10).

Dia mengimbau kepada pemerintah daerah di seluruh Indonesia untuk mengidentifikasi warga Wamena yang eksodus. Tujuannya, memfasilitasi pengungsi untuk kembali ke Wamena. ”Wamena membutuhkan semua warga untuk membangun ekonomi,” tandasnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c5/ayi



Close Ads