alexametrics
Alumnus UWKS

Dokter Tjokorda Raka Gekko Bikin Program Kesehatan Berbasis Teknologi

Presentasi di UNICEF, Tembus Harvard
18 Mei 2021, 07:48:19 WIB

Apa yang tebersit di pikiran ketika mendengar nama Harvard University? Natalie Portman? Lalu, apa lagi? Yang jelas, perasaan bangga pasti meletup-letup. Begitulah yang dirasakan dr Tjokorda Raka Gekko Dananjaya saat dirinya mendapatkan surat penerimaan sebagai mahasiswa baru di kampus elite itu.

DIMAS NUR APRIYANTO, Surabaya

DOKTER Tjokorda Raka Gekko Dananjaya atau yang akrab disapa Raka jatuh hati pada gambar jantung manusia sejak kelas I SD. Saat itu, matanya terpikat ketika melihat cover buku bergambar jantung di salah satu toko buku (Gramedia) di Bali.

Raka menempuh pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) pada 2008–2014. Sebelumnya, dokter kelahiran Denpasar 1988 itu mengambil pendidikan diploma tingkat 1 di Blue Mountain International Hotel Management School di Sydney.

Tekadnya menjadi dokter spesialis jantung kian bulat dan matang. Seusai lulus dari pendidikan dokter di FK UWKS, pria yang mengidolakan Raden Mas Panji Sosrokartono (kakak RA Kartini) itu menjalani masa pengabdiannya sebagai dokter pegawai tidak tetap (PTT) di daerah terpencil. Dia ditempatkan di Desa Salimuli, Kecamatan Galela Utara, Kabupaten Halmahera Utara. Setelah pengabdian, dia mendapatkan surat masa bakti, lalu pulang. ’’Kemudian, apply spesialis jantung,” terang Raka.

Dia berdinas dan membawahkan 12 desa. Jangan dibayangkan belasan desa tersebut saling berdekatan. Tiba-tiba kedua tangannya membentang. Menggambarkan saking jauhnya jarak setiap desa. Untuk berkunjung ke setiap desa, Raka harus berdamai dengan ombak. Sebab, jika melintasi daratan, rawan sekali ketika melewati hutan. Alumnus SMA Negeri 1 Denpasar itu menyebutkan betapa susahnya masyarakat Desa Salimuli mendapatkan akses kesehatan.

Kondisi geografis membuat antardesa terpecah-pecah. Dokter dan obat minim. Biaya berobat memang gratis karena menggunakan layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. ’’Tapi, bagaimana dengan biaya transportasi yang harus dibayar mereka? Biayanya bisa Rp 600 ribu sampai Rp 1 juta buat nyewa kapal,” terangnya.

Ada satu momen yang tidak dapat dilupakan Raka. Suatu hari, orang tua bersama bayinya datang ke puskesmas tempat Raka berdinas. Saat itu kondisi bayi mengalami dehidrasi dan kejang. Mereka membutuhkan waktu sejam dari rumahnya menuju puskesmas. ’’Bayangkan, apa nggak rusak itu sel-sel otak si bayi. Saya merenung dan memikirkan lagi. Apa saya tetap melanjutkan mimpi menjadi dokter spesialis jantung?” ucapnya.

Kondisi minim obat dan alat kesehatan tidak melumpuhkan pelayanan yang diberikan Raka. Setiap ada pasien, dia menangani sebisanya. Mengajak keluarga pasien mengobrol. Tak jarang, dia mendaratkan pelukan yang sangat erat sebagai bentuk empati kepada keluarga pasien.

Setahun mengabdi, Raka membuat dua program kesehatan. Pertama, program manajemen terpadu balita sakit (MTBS) prioritas. Dia melibatkan seluruh pihak.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/git

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads