alexametrics

Hari-Hari Lasmi Indaryani setelah Jadi Whistle-blower Kasus Pengaturan Skor

Saat Trauma Datang, Saya Cuma Bisa Meluk Anak
18 Mei 2019, 17:10:14 WIB

Lasmi Indaryani harus berjuang mengatasi trauma di saat dia juga mesti menjalani peran sebagai ibu, mahasiswa, pengusaha, dan politikus. Masih tangani sepak bola putri karena pasti kangen nonton pertandingan ataupun latihan.

FARID S. MAULANA, Jakarta

BULU kuduk merinding. Disusul berbagai pikiran menakutkan yang serentak menghampiri. “Kalau sudah begitu, yang bisa saya lakukan adalah memeluk keempat anak saya,” kata Lasmi Indaryani kepada Jawa Pos Rabu pekan lalu (8/5).

Begitulah kini Lasmi menjalani hari-harinya setelah menjadi whistle-blower alias peniup peluit kasus pengaturan skor di sepak bola. Kegiatan sehari-harinya sebagai ibu, mahasiswa, pengusaha, dan politikus harus berimpitan dengan trauma yang masih kerap menghantui.

Mantan manajer Persibara Banjarnegara itu memang masih harus berkaitan dengan skandal yang turut dibongkarnya tersebut. Sehari setelah berbincang dengan Jawa Pos, misalnya, dia menjadi saksi kasus itu di Pengadilan Negeri Banjarnegara.

Nama Lasmi awalnya mencuat setelah tampil di salah satu program bincang televisi. Yang membahas praktik pengaturan skor. Dia memaparkan seluruh praktik busuk yang dialaminya ketika menjadi manajer Persibara Banjarnegara pada Liga 3 musim 2018.

Paparannya itu semakin membuka mata semua pihak tentang “kanker” yang turut menggerogoti sepak bola Indonesia tersebut. Desakan agar pemerintah turun tangan pun kian besar.

Puncaknya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian akhirnya memutuskan untuk membentuk Satgas Antimafia Bola. Sebuah satuan yang khusus diterjunkan untuk menangkap para pelaku praktik pengaturan skor.

Satu per satu kasus terungkap. Bahkan, khusus kasus Lasmi, begitu biasanya disebut, enam tersangka ditangkap. Tidak tanggung-tanggung, dua di antaranya merupakan petinggi PSSI.

Mereka adalah Johar Lin Eng, mantan anggota komite eksekutif, dan Dwi Irianto, personel komisi disiplin. Ada pula Mansyur Lestaluhu, Priyanto alias Mbah Pri, Anik Dwi Kartika Sari, dan Nurul Safarid.

Begitu dia menjadi peniup peluit, teror demi teror menghampiri. Awalnya, dia tidak menghiraukan. Tapi, lama-lama intensitas teror semakin tinggi. Bahkan, ada yang meneror akan menghabisi nyawanya jika masih terus vokal tentang pengaturan skor.

Sebagai perempuan yang tergolong masih hijau di dunia sepak bola pada 2017, semua teror itu sama sekali tak terbayangkan. Lasmi shock, takut, hingga berujung trauma. ”Saya masih trauma atas kasus mafia bola, entah bisa sembuh kapan. Sekarang fokus sidang dulu saja,” katanya.

Boyamin Saeman, kuasa hukum Lasmi, mengatakan, memang tidak ada teror terhadap kliennya yang dilakukan secara fisik. “Ancaman membunuh, misalnya, disampaikan di media sosial saja,” terang dia.

Namun, bagi Lasmi, lanjut Boyamin, tetap saja itu menakutkan. “Kami sudah melaporkan pemilik akun ke Polres Banjarnegara. Tapi, hingga saat ini belum ditemukan pemilik akunnya,” katanya.

Lasmi bahkan sempat minta perlindungan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) karena teror-teror itu. Sebab, Senin pekan lalu (6/5) sidang kasus pengaturan skor tersebut mulai dijalankan.

“Alhamdulillah, belakangan teror itu sudah tidak ada. Saya merasa aman dan siap bersaksi untuk persidangan,” kata istri mantan pebasket I Putu Dodi Mangkikit itu.

Di tengah perjuangan keras mengatasi teror dan trauma tersebut, Lasmi ternyata bisa memenangi pertarungan di front lain: merebut kursi DPR. Politikus Partai Demokrat itu berhasil lolos ke Senayan dari daerah pemilihan VII Jawa Tengah.

Selain itu, perempuan yang bergerak di bisnis konstruksi tersebut tengah berkutat dengan tugas akhir di Fakultas Teknik Sipil Universitas Wijaya Kusuma, Purwokerto. ”Ini masih S-1 ya, bukan S-2, he he he,” ucapnya.

Dia sebenarnya sudah punya gelar sarjana ekonomi. Mengambil jurusan teknik sipil itu dia lakukan karena sejalan dengan bisnis yang sedang digeluti saja. “Saya ini sebenarnya tidak suka sekolah, makanya tidak S-2. Tapi, karena kerjaan kontraktor, supaya paham, saya kuliah lagi,” tutur dia.

Sepak bola, meski telah memberi dia pengalaman yang tak mengenakkan, juga tidak sepenuhnya dia tinggalkan. Lasmi tetap membantu persepakbolaan di Banjarnegara. Namun, perhatiannya kini diarahkan ke sepak bola putri. Dia turut mensponsori tim sepak bola perempuan Jawa Tengah di Piala Pertiwi. Juga ada satu tim sepak bola perempuan lain, Radika Angels, yang juga dia dukung.

“Karena memang bagaimanapun saya pernah berkecimpung di sepak bola. Pasti kangen lihat pertandingan ataupun latihan,” bebernya.

Kelak, di parlemen, jika memang ditempatkan di komisi yang berkaitan dengan olahraga, dia juga siap meneruskan perjuangan untuk membenahi sepak bola Indonesia. Agar bisa benar-benar bersih.

Sehingga nanti kalau ada buah hatinya yang memilih untuk menekuni sepak bola, dalam kapasitas apa pun, dia tak akan ragu untuk memberikan restu. “Kalau tidak, percuma saja melakukan pembibitan. Toh, akhirnya akan rusak karena mafia bola,” ucap dia.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c11/ttg)



Close Ads