alexametrics

Menengok Dua Tempat Pemeriksaan Covid-19

Sebelum Tengah Hari Kuota Sudah Penuh
18 Maret 2020, 13:58:47 WIB

Tiap hari Poli Khusus RSUA menerima 120–200 pasien, sedangkan kapasitas pemeriksaan Lembaga Eijkman bisa mencapai 80 spesimen. Di RSUA ada yang periksa karena panik. Di Eijkman tak bisa ujug-ujug datang meminta dites.

GALIH ADI P., SurabayaZ. HIKMIA, Jakarta, Jawa Pos

KEMARIN (17/3) merupakan hari kedua bagi Akbar bertandang ke Poli Khusus Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). Dia hendak memeriksakan kondisi kesehatannya. Tanda-tandanya mirip dengan Covid-19.

Pada Senin (16/3) dia sudah datang ke sana. Tapi, kehabisan kuota pemeriksaan. Alhasil, dia harus balik pada hari berikutnya.

Bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute Jakarta, Poli Khusus Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Surabaya di-tunjuk sebagai jejaring laboratorium untuk pemeriksaan Covid-19.

Sejak memulai layanan pada 3 Maret lalu, animo masyarakat untuk memeriksakan diri ke Poli Khusus RSUA begitu tinggi.

Saban hari Poli Khusus RSUA menerima 120–200 pasien. Kuota yang tersedia pun tidak bertahan lama. Sebelum tengah hari sudah penuh. Alhasil, tidak sedikit yang harus pulang, menunggu hari berikutnya.

Menurut Ketua Tim Satgas Korona RSUA dr Prastuti Asta Wulaningrum SpP, sejak Crisis Center Covid-19 RSUA dibuka, status pasien yang berkunjung beragam. Ada pula beberapa orang yang sehat tanpa gejala.

Mereka, kata Prastuti, datang karena panik. Ada pula orang dalam pemantauan (ODP) yang menjalani rawat jalan dan rawat inap serta pasien dalam perawatan (PDP).

Agar tak bernasib sama seperti hari pertama, Akbar kemarin datang ke Poli Khusus RSUA pukul 07.00. Mengantre untuk mengambil nomor.

Dia mendapat nomor 17. Yang hendak memeriksakan kondisi kesehatan bisa menunggu di ruangan yang biasanya digunakan sebagai parkir mobil ambulans itu.

Ada tirai plastik bening yang memisahkan dengan lingkungan luar. Di sana ada meja dan kursi. Untuk mengisi blangko riwayat kesehatan dan riwayat perjalanan. ’’Berikutnya menunggu, jam 09.00 saya baru masuk ke ruangan dokter,” ujarnya.

Di sana Akbar mengeluhkan soal sakitnya yang dirasakan setelah study tour pada Kamis (12/3) ke salah satu perguruan tinggi di Malang. Sehari setelah pulang, kondisinya drop. Suhu tubuh meninggi, sakit tenggorokan, dan muntah-muntah. Kondisi itu berlangsung hingga Minggu (15/3).

Pada Minggu, laki-laki asal Medan, Sumatera Utara, itu sempat dirawat di salah satu rumah sakit swasta. Namun, dia diminta untuk memeriksakan diri ke Poli Khusus Unair. Saat itu Akbar hanya menerima informasi bahwa rumah sakit tersebut tidak berhak melakukan tes Covid-19.

Akbar pun hanya bisa manut. Apalagi, petugas kesehatan di rumah sakit itu bilang khawatir jika hasil pengujian yang dilakukan rumah sakit swasta itu berbeda. ’’Katanya takut salah paham, terus dirujuk ke sini,” jelas mahasiswa yang menempuh pendidikan di Surabaya itu.

Memang, saat study tour, Akbar bertemu dengan mahasiswa pertukaran pelajar asal Jerman. Kontak langsung sempat dia lakukan. ’’Mahasiswa itu baru sekitar seminggu datang. Saya sempat bersalaman sama dia,” paparnya.

Menurut Prastuti, banyaknya pasien yang datang ke Poli Khusus RSUA juga disebabkan informasi yang diterima masyarakat tidak lengkap. Khususnya tentang pemeriksaan gratis Covid-19.

Pemeriksaan gratis tersebut hanya berlaku untuk pasien berstatus PDP dan ODP yang dirawat inap dan di-swab untuk pemeriksaan Covid-19. Sementara itu, pasien tanpa gejala yang mengarah Covid-19 tetap mengikuti prosedur pasien umum.

”Banyak yang salah informasi tentang pemeriksaan gratis. Tidak semua pasien bisa dites lab untuk mengetahui Covid-19,” ujarnya.

Kini RSUA mengurangi kuota pemeriksaan. Hanya 100 orang per hari. Salah satu alasannya, tenaga medis terbatas. Akibat jam kerja yang panjang, ada petugas yang tumbang. Jumlah alat pengaman diri (APD) kini juga menipis.

Sementara itu, Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof dr Amin Soebandrio PhD SpMK(K) menyatakan kesiapan pihaknya untuk terlibat langsung dalam pemeriksaan spesimen orang dalam pengawasan (ODP). Dia meyakinkan, alat-alat di Eijkman mumpuni untuk mendeteksi virus baru tersebut.

Dalam sehari, kapasitas pemeriksaan bisa mencapai 80 spesimen. Sebab, satu alat maksimum terdiri atas 96 lubang sumur. Itu pun harus ada yang diisi dengan kontrol negatif dan positif.

Kemampuan tersebut masih bisa ditambah dengan pengalihan mesin polymerase chain reaction (PCR) lain jika terjadi peningkatan tajam. Menurut Prof Amin, ada banyak mesin PCR yang dimiliki pihaknya.

”Tapi, saat ini yang didedikasikan untuk korona baru satu. Yang lainnya untuk penelitian lain kan. Kalau jumlahnya meningkat tajam, kita bisa naikkan menjadi dua kali lipat,” jelasnya kepada Jawa Pos kemarin (17/3).

Lama pemeriksaan, kata dia, tak berbeda jauh dengan laboratorium milik Balitbangkes Kementerian Kesehatan. Sekitar satu sam-pai dua hari, bergantung kapan spesimen datang. Apabila diterima pagi, bisa langsung dilakukan deteksi PCR pada hari yang sama. Jika tidak, harus menunggu esok hari.

Running PCR terbilang cepat. Hanya 2–5 jam rampung. Namun, jika disertai dengan konfirmasi hasil, running PCR bisa membu-tuhkan waktu seharian. ”Pagi mulai, sekitar jam 16.00 WIB baru keluar hasilnya,” paparnya.

Lalu, apakah bisa langsung datang ke Eijkman untuk tes Covid-19? Prof Amin menegaskan, pihaknya hanya menerima spesimen. Artinya, orang tidak bisa ujug-ujug datang meminta dites.

”Hanya sampelnya. Kalau orangnya bisa ke RSCM kali ya, nanti mereka yang ngambil dan mengirim ke kita,” ungkap guru besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) tersebut.

Sebetulnya, bukan hanya RSCM. Semua rumah sakit bisa berjejaring dengan Eijkman. Sayangnya, belum semua rumah sakit siap. Tidak semua memiliki swab, tenaga ahli, hingga virus transfer mediumnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c7/ttg



Close Ads