JawaPos Radar

Menengok Sejarah Keemasan Pelabuhan Cirebon

18/03/2018, 14:26 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Pelabuhan Cirebon
Kapal-kapal tengah bersandar di Pelabuhan Muara Jati, Kota Cirebon (Wildan Ibnu Walid/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sejarah Cirebon di bidang kesyahbandaran pernah mengalami puncak masa keemasannya. Dulu pelabuhan Cirebon menopang perekonomian masyarakat di pesisir dalam bidang perdangangan Internasional.

Dari pelabuhan Cirebon, berbagai jenis komoditi seperti, terasi, ikan, daging, padi/ beras, sayur-mayur, buah-buahan, indigo (tarum), dan kayu yang baik untuk pembuatan kapal diekspor ke negeri Tiongkok, Gujarat, Mongolia, dan Arab.

Sejarahwan Cirebon, Raffan S Hasyim menceritakan, dari berbagai sumber tradisional, semula di daerah pesisir Cirebon terdapat tiga pelabuhan, yaitu Muhara Jati, Japura, dan Singapura.

"Mungkin dulunya ketiga pelabuhan itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh. Diperkirakan pelabuhan Cirebon dibangun pada abad ke-15," ungkap Raffan kepada JawaPos.com, Minggu (18/3).

Seiring perjalanan waktu, Cirebon berkembang menjadi kota pelabuhan penting di pesisir utara Pulau Jawa. Menurut pria yang akrab disapa Opan ini, bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi perkembangan Cirebon sebagai kota pelabuhan penting di Pulau Jawa.

Pertama, letak geografisnya strategis. Pelabuhan Cirebon berada pada lokasi berbentuk teluk, sehingga terlindung dari gelombang pasang air laut.

Kedua, pelabuhan itu terletak di bagian tengah pesisir utara Pulau Jawa dan cukup jauh dari pelabuhan lain, yaitu Jepara, Tuban, dan Surabaya yang berada di sebelah timur Pulau Jawa dan Kalapa (Sunda Kalapa) serta Banten di sebelah barat Pulau Jawa.

"Ketiga, pantai Cirebon mudah didatangi oleh kapal berukuran cukup besar. Dan keempat, hubungan antara pelabuhan dengan daerah pedalaman sangat lancar, baik melalui sungai maupun jalan darat," ungkapnya.

Lebih lanjut Opan mengatakan, sungai-sungai di Cirebon waktu itu digunakan sebagai prasarana lalu-lintas untuk bersandarnya kapal besar. Hal tersebut disaksikan oleh pelaut ternama asal Portugis, Tome Pires pada tahun 1513.

Dalam catatan perjalanannya, Time Pires menyatakan bahwa Cirebon adalah kota pelabuhan yang baik dan ramai oleh kegiatan perdagangan.

Di kota pelabuhan Cirebon, dulu pernah tinggal secara rukun antara pedagang pribumi dan asing, termasuk tujuh saudagar besar yang berpengaruh dan dihormati. Salah satunya, bernama Pate Quedir. Semula ia bermukim di Malaka.

"Dari masa ke masa Pelabuhan Cirebon ini sudah kehilangan masa keemasannya. Bahkan, jejak-jejak kejayaannya pun sudah mulai hilang," pungkasnya.

(wiw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up