alexametrics

Cerita di Balik Dapur E-TLE Polda Jatim

Pantau Pengendara yang Pamer di Depan CCTV
18 Januari 2020, 20:48:58 WIB

Selama 24 jam 30 personel yang terbagi dalam tiga regu bergantian memantau jalan protokol Surabaya di gedung RTMC Polda Jatim. Melalui enam layar komputer, mereka memilah pelanggaran yang dilakukan para pengendara. Harus mampu melawan rasa lelah.

C. DENNY MAHARDIKA, Surabaya

Ruang regional traffic management center (RTMC) pagi itu begitu sepi. Di ruangan tersebut, terdapat 10 polisi lalu lintas yang bertugas. Matanya awas menatap monitor berukuran 18 inci. Tangan kanan mereka tidak pernah lepas dari mouse. Para polisi itu membuka jepretan CCTV yang terpasang di 25 titik di Surabaya.

Di meja mereka tersaji tumbler dan stoples makanan ringan. Saat bosan, mereka sesekali mengambil makanan ringan itu. Kadang, mereka juga berbincang satu sama lain. Tentu tidak bisa berlama-lama. Sebab, mereka harus merampungkan tugasnya.

Sejak electronic traffic law enforcement (e-TLE) atau tilang elektronik diterapkan, para polisi itu bergantian menjadi pengawas layar komputer Hingga 24 jam. ’’Satu orang pegang dua sampai tiga wilayah,’’ ucap Aipda Ardi Kanteki, salah satu anggota yang menjadi operator e-TLE.

Menurut dia, pekerjaan barunya tersebut butuh konsentrasi. Meski sudah dibantu teknologi canggih CCTV, Ardi harus menyeleksi pelanggaran yang dilakukan pengendara. Untuk menentukan pelanggaran atau bukan, tim kadang harus membuka dan memperbesar gambar. Jika kurang yakin, personel yang bertugas perlu mengulangnya melalui siaran video. Paling lama 30 menit untuk analisis secara valid. Langkah itu berlaku untuk hal-hal yang sulit. Untuk mengusir bosan, mereka kadang bermain game. ’’Nek serius terus bahaya. Ada luangin waktu 5–10 menit untuk bersantai,’’ jelasnya.

Polda Jatim tidak menetapkan target berapa orang harus kena tilang dalam sehari. Meski demikian, rata-rata ada 500 orang yang terdeteksi melanggar. Siang itu Ardi bersama dengan rekan-rekannya yang lain. Ada sembilan orang. Mereka adalah Bripka Pandu Harswoto, Bripka Dwi Prasetyo Widodo, Bripka Sugeng Subekti, Bripka Ratna Lestari, Bripka Tanti Wijaya, Bripka Dedy Juritno, Briptu Tri Prasetyo Bintoro, Briptu Ach. Setiaji, dan Bripda Okta Tri Prasetya.

Para operator tersebut bukan polisi yang ujuk-ujuk mendapatkan penugasan. Sebelumnya, selama sebulan mereka menjalani pelatihan lebih dulu. Para polisi itu direkrut dari divisi yang berbeda-beda. Mulai divisi pengurusan STNK, samsat, hingga satuan polisi jalan raya.

Para personel tersebut tergabung dalam regu dua. Saat menganalisis pelanggaran, mereka tampak berdiskusi. Memutar kembali video. Alasannya, waktu itu ada pelanggaran yang samar-samar. ’’Ada orang garuk-garuk kepala masuk sensor sedang main handphone,’’ ujar Ardi.

Selain itu, pekerjaan mereka terbagi untuk tugas lain. Terutama polwan. Selain melakukan pengamatan, mereka memberikan stempel tilang. Setiap hari ada 100 surat.

Kemarin Tanti, salah seorang polwan, terlihat sibuk. Dia mencetak kertas tilang, lalu merapikannya. Kemudian, surat tilang tersebut distempel. Tugas itu kadang digantikan polwan yang lain. ’’Saling bantu lebih tepatnya,’’ jelasnya. Saat sore, para polwan diberi kesempatan pulang lebih dulu. ’’Kebijakan pimpinan kalau soal jam tugas,’’ jelasnya.

Selain Tanti, ada Bripka Ratna. Dia bertugas mengawasi pelanggaran markah. Tugasnya itu jauh lebih mudah. Alasannya, kendaraan yang melewati garis markah rambu dapat terdeteksi dengan cepat oleh kamera CCTV.

Dia pun mendapatkan tiga wilayah. Kondisi jalan di tiga wilayah itu paling padat. Alasannya, ruas jalan yang dipegang Ratna merupakan jalur utama Surabaya. Pelanggaran paling mudah, tetapi harus teliti. Dia kadang harus melihat satu per satu video. Tujuannya, melihat adanya unsur pemaaf tidak melawan markah pembatas traffic light. Ternyata, setelah dianalisis, ada ambulans yang melintas.

Pengalaman personel lainnya juga banyak. Achmad Setiadji, misalnya. Personel berpangkat brigadir satu itu melihat pengendara yang menunjukkan gaya ke kamera. Padahal, pengendara tersebut melanggar markah. ’’Saya ingat itu waktu malam-malam piket. Saya lihat pengendara bergaya depan kamera dengan menunjukkan sabuk pengaman yang terpakai. Eh, ternyata kesalahan yang dibuat bukan itu, tapi melebihi garis tepi. Tetap saja kena tilang,’’ katanya.

Setiaji menceritakan, pengalaman itu didapat saat penerapan uji coba selama sembilan hari. Tugas Setiaji kini memang berbeda dengan sebelumnya. Dulu, Setiaji banyak bertugas di lapangan. Keliling memutari tol Suramadu merupakan tugasnya. ’’Sekarang mantaunya dari sini. Dari balik layar, ya sama aja sebenarnya,’’ jelasnya.

Meski begitu, bakal banyak tantangan setelah uji coba. Pekerjaannya semakin bertambah. Sebab, selama uji coba hanya ada 100 pelanggar. Namun, kini ada 500 pelanggar yang ditindak. Meski begitu, suasana kekeluargaan yang kental membuat tugasnya jadi menyenangkan

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c15/git



Close Ads