Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 7 Mei 2017 | 13.15 WIB

Linda Nekat Mengikuti Ujian Nasional meski Sempat Dikurung di Kos

SEMANGAT MEMBARA: Linda Wijayanti belajar di rumah petak di kawasan Kapas Madya, Surabaya yang ditinggalinya bersama ibu, Soepia, dan ayah, Wiji. - Image

SEMANGAT MEMBARA: Linda Wijayanti belajar di rumah petak di kawasan Kapas Madya, Surabaya yang ditinggalinya bersama ibu, Soepia, dan ayah, Wiji.


Kurungan dan larangan ikut ujian dari sang ibu tak menyurutkan semangat Linda Wijayanti. Dia mengejar cita-cita menjadi guru. Demi membahagiakan orang tuanya.





MIRZA AHMAD, Surabaya





LINDA Wijayanti, 16, tampak mengayuh sepedanya sambil sesekali mengerem. Sebuah motor yang melintasi ruas Bunguran pagi itu sempat memotong lajurnya. Sesampai di gerbang SMPN 8 Surabaya, dia langsung turun sembari menuntun sepeda mini berwarna biru itu. Senyumnya merekah lebar, tapi kantong matanya tak bisa berbohong menandai dirinya kurang tidur.



Remaja perempuan yang kini duduk di kelas IX B itu langsung mencium tangan Waka SMPN Terbuka 8 Surabaya Miadji. ’’Langsung masuk kelas ya,” ujar Miadji singkat.



Kamis pagi itu (4/5) Linda berhadapan dengan UNBK (ujian nasional berbasis komputer) yang menurutnya sulit: bahasa Inggris. ”Ya radaangel sih, enggak begitu seneng soalnya, Mas,’’ tuturnya.



Sorot mata yang tajam membuat Linda gampang dikenali. Terlebih tubuhnya tampak lebih mungil dibanding teman sebayanya. Linda yang hari itu berkucir bersama tujuh temannya langsung masuk ke laboratorium komputer lantai 2 begitu melihat seorang proktor berjalan ke arah mereka. Anak-anak itu langsung duduk rapi menghadap ke layar 14 inci.



’’Siapa yang belum sarapan?” tanya proktor Januar Priambodo. Para murid yang tampak semringah dengan pertanyaan itu langsung berseru sambil menunjuk dirinya masing-masing. ”Gak katene tak tukokno, salahe sapa gak sarapan? (tidak akan saya belikan, salahnya siapa tidak sarapan, Red)” ujarnya disambut gelak tawa para peserta UNBK.



Setelah mengetikkan sejumlah kata sandi yang tertera di papan, wajah anak-anak berseragam batik kuning itu berubah serius. Suasana riuh tawa berganti dengung AC dan klik mouse mereka. Sesekali terdengar sayup suara sirene lintasan kereta api yang berada tak jauh dari sekolah.





***





UNBK hari ketiga itu, bagi Linda, bisa dibilang berjalan mulus. Sehari sebelumnya, Rabu (3/5), insiden besar terjadi di kos yang Linda tinggali. Kapas Madya Gang II heboh. Linda dikurung ibunya, Soepia, di dalam rumah petak berukuran 2 x 3 meter tersebut. Dia dilarang mengikuti UNBK. Soepia menginginkan anak semata wayangnya tetap berada di rumah tanpa alasan yang jelas.



Linda dianggap rewel karena terus meminta izin untuk berangkat sekolah. Soepia menggembok pintu rumah yang berwarna biru muda itu sejak pagi. Padahal, Linda seharusnya ikut ujian pada sesi kedua Rabu (3/5) sekitar pukul 11.00.



Miadji yang berada di sekolah berfirasat buruk. Sebab, jarum jam tangannya telah menunjukkan pukul 10.30. Tapi, Linda belum juga datang. Maklum, hanya ada 20 siswa terbuka yang jadi peserta ujian. Selain itu, Miadji sudah beberapa kali menjemput Linda untuk bersekolah.



Dia segera melapor ke Kepala SMPN Terbuka 8 Surabaya Sukarjo dan meluncur menjemput siswinya itu. Soepia menolak permintaan Miadji yang datang menjemput Linda. Soepia bersikukuh anaknya tidak boleh ikut ujian. Adu mulut berakhir saat ketua RT dan polisi datang. Sikap ibunya yang keras berbalik 180 derajat saat Kanitreskrim Polsek Tambaksari Iptu Farida Aryani, beberapa tokoh masyarakat, dan sejumlah wartawan datang.



Keriuhan berakhir dengan penyerahan seragam Linda yang disembunyikan ibunya. ”Langsung kami bawa ke sekolah, kami pindahkan dia dari sesi kedua ke sesi ketiga,” cerita Miadji. Linda akhirnya bisa ikut ujian dengan diantar jemput pihak sekolah.



Menurut warga di sekitar rumahnya, Soepia sering bersikap temperamental dan suka memukul. Para tetangga heran, Linda tetap berbakti pada orang tuanya dan tidak minggat saja. ”Memang kayak gitu dia, Mas. Gampang marah, semalam juga dipukuli,” ungkap Muntiana yang tinggal di depan rumah Linda. Remaja yang akan berulang tahun pada 12 Mei itu membenarkan hal tersebut. ”Saya dipukul pakai tongkat jemuran di bagian sini,” ujarnya sambil memegang lengan kanannya.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore