alexametrics

Kukuh Yudha Karnanta, Dosen Unair Peraih Penghargaan Piala Citra FFI

Kategori Kritik Film
17 November 2021, 07:48:41 WIB

Bagi Kukuh Yudha Karnanta, film yang keren itu mampu memberikan pengalaman estetis bagi penontonnya. Tak hanya memberikan wawasan, film juga menyentuh perasaan dan mengubah pola pikir. Misalnya, film Perempuan Tanah Jahanam.

AZAMI RAMADHAN, Surabaya

KEPUTUSAN Maya untuk pulang ke Desa Harjosari sudah bulat. Terlebih, dia telah melihat foto masa kecilnya serta menemukan kertas bertulisan Jawa kuno di bekas lukanya.

Sejak itu kesan seram di film Perempuan Tanah Jahanam semakin kuat. Tepatnya, saat Maya memasuki kawasan rumah milik Donowongso, ayah kandungnya, seorang dalang yang bersekutu dengan iblis.

’’Iya sekilas di film itu tak ada yang istimewa. Alur cerita normal, perempuan kota balik ke desa. Tapi, kalau dirasakan, film itu jeru (dalam),’’ kata Kukuh Yudha Karnanta saat ditemui Jawa Pos di Benteng Kedung Cowek Minggu (14/11).

Peraih penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 2021 kategori Karya Kritik Film Terbaik itu mengungkapkan, sejak awal film besutan Joko Anwar tersebut berhasil mendobrak stigma perempuan di film horor yang selalu digambarkan sensual dan erotis. Terlebih memosisikan perempuan sebagai objek hasrat yang memuaskan pandangan pria.

’’Itu nilai di film Joko Anwar. Perempuan menjadi subjek, bukan objek ya. Jadi, lebih luwes dan ’merdeka’ dalam bertindak,’’ terangnya.

Bagi Kukuh, kisah Maya itu menceritakan perjuangan seseorang mengatasi penderitaan sehingga dapat menimbulkan efek emosional mendalam kepada pembaca dan penontonnya.

Jika dilakukan pemaknaan lebih dalam, film Perempuan Tanah Jahanam jelas jauh dari isu perempuan, yang sering menghadirkan perempuan semata sebagai objek tontonan dan sebuah kenikmatan. Film itu juga meruntuhkan segala macam bentuk upaya dan pandangan seksisme terhadap seorang perempuan.

Dosen mata kuliah Film Studies Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FIB Unair itu menyebutkan, masih ada beberapa nilai lain yang terkandung dalam film tersebut. Salah satunya, keberanian sutradara Joko Anwar mengangkat martabat film horor Indonesia. Film horor tak harus menampilkan pemodelan hantu secara nyata. Misalnya, pocong, genderuwo, dan suster ngesot. Tapi, film horor bisa mengangkat cerita dan plot latar belakang pembuatannya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/git




Close Ads