alexametrics

Mengenal Muna Masyari, Peraih Anugerah Sutasoma 2020

Laptop Dikira Pelanggan untuk Desain Baju
17 Oktober 2020, 12:06:06 WIB

Jangankan tetangga, suaminya juga tak paham dengan dunia tulis-menulis yang digeluti Muna Masyari. Tapi, sedari kecil, kata-kata adalah sayap yang menerbangkan Muna melintasi kesulitan dan keterbatasan.

ONGKY ARISTA U.A., Pamekasan, Jawa Pos

KATA demi kata yang dirangkainya telah menjadi sayap bagi Muna Masyari. Menerbangkannya jauh dari tempatnya bermukim. Membawanya melintasi berbagai demarkasi.

Kampung tempatnya tinggal, Dusun Gunung Dua, Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur (Jatim), bisa dibilang ”gaib.” Bayangkan, petugas kantor pos saja sering menyerah.

Jadilah cerpenis penerima Anugerah Sutasoma 2020 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBJT) itu kerap ditelepon petugas pos. ”Saya diminta mengambil kiriman jauh dari rumah,” katanya, lalu tersenyum.

Namun, situasi pedalaman itu ternyata menguntungkan perempuan yang bernama asli Munawaro M. tersebut. Jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan yang menghunjam, akhirnya dia tekun menulis cerita pendek.

Kesunyian, bagi Muna, seolah mendengungkan banyak ide cerita. Berkat karya-karya yang lahir dari menjahit kesunyian menjadi rangkaian cerita itulah, nama perempuan yang putus sekolah di jenjang SD tersebut jauh melampaui desanya.

”Saya jarang keluar rumah untuk bisa terus produktif,” ujarnya kemarin (16/10).

Perempuan kelahiran 1985 itu menyukai dunia tulis-menulis sejak duduk di bangku SDN Plakpak 5. Berawal dari guru kelasnya yang sering bolos mengajar.

”Para murid disuruh ke perpus dan di sana saya membaca dan mulai tertarik menulis cerita,” kenangnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Muna terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Pendidikan terakhirnya hanya sampai SD. Masa kecilnya pun dihabiskan untuk membantu orang tua.

Tapi, di sela-sela membantu orang tua, dia selalu menyempatkan diri membaca. Kecintaannya itu memotivasinya menulis apa saja.

Tentu, karena ketertarikan yang sungguh-sungguh, nama Muna Masyari melambung saat sejumlah karyanya dimuat di sejumlah media nasional seperti Jawa Pos, Kompas, dan Tempo. Semangatnya pun kian menyala untuk terus berkarya.

Menulis, baginya, adalah cara untuk mempertahankan kebudayaan. ”Melalui tulisan, saya bisa mengangkat nilai-nilai kebudayaan di Madura yang sudah terlupakan. Misalnya, Kasor Tana, Dhamar Kambhang, Tumbal Suramadu, dan sebagainya,” ungkapnya.

Menulis juga menjadi wahana dia melintasi berbagai demarkasi keterbatasan. Entah itu ekonomi, pendidikan, ataupun fisik.

Pada 2019, untuk kali pertama, dia menerbitkan kumpulan cerita berjudul Martabat Kematian. Setahun berikutnya, Muna mulai menerbitkan jenis karya yang sama berjudul Rokat Tase’.

Martabat Kematian dinobatkan sebagai karya sastra Indonesia terbaik dalam Anugerah Sastra Sutasoma Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur di Sidoarjo pada Kamis (15/10).

Sebagaimana yang tertera dalam catatan dewan juri, ada 22 buku yang diseleksi. Tujuh puisi, sembilan novel, dan enam kumpulan cerita pendek.

Karya Muna dianggap lebih menonjol. Gaya berceritanya imajinatif. Deskripsinya hidup dan segar. Meski berangkat dari tema-tema cerita bernuansa lokalitas Madura. Karya itu dianggap bisa menggiring alur cerita menuju hamparan perspektif yang lain.

Dari mana ide cerita Muna ini muncul? ”Lebih ke lingkungan di sini. Di lingkungan rumah saya, masih ada tradisi sortana (tertuang dalam cerpen Kasur Tanah) dan saya mengamatinya,” terangnya.

Selain dari lingkungan, ide cerita itu dia temui dari perjumpaannya dengan obrolan-obrolan saat bepergian ke suatu tempat. Ide salah satu cerpennya yang berjudul Sangkar Perkawinan muncul saat mendengar obrolan di sebuah rumah sakit di Pamekasan.

”Insya Allah novel,” jawabnya saat ditanya karya apa yang diluncurkan pada tahun mendatang.

Novel itu sudah masuk ke salah satu penerbit. Proses editing, desain sampul, dan sejenisnya sudah selesai. Hanya menunggu tanggal mainnya untuk terbit.

”Proyeksinya 2020, tapi karena pandemi, jadi diundur ke 2021,” ujarnya.

Novel ini digarap sejak 2016. Novel ini akan mewarnai karya sastra yang bercerita tentang tradisi-tradisi pernikahan dari sudut pandang seorang perempuan.

Sehari-hari kesibukannya tak hanya menulis. Dia juga mesti membagi waktu dengan pekerjaannya sebagai tukang jahit dan seorang istri sejak 2013. Dia juga perlu membagi waktu untuk berperan serta di lingkungan sekitar.

”Tak ada tetangga yang tahu saya menulis. Ketika nerima hadiah, saya dianggap mengikuti kuis,” katanya.

Muna tak bisa menjelaskan panjang perkara menulis kepada tetangga-tetangganya. Termasuk kepada pelanggan-pelanggan yang menjahit baju kepadanya.

”Saat menjahit sambil menyalakan laptop, sama orang dianggap mendesain baju, bukan menulis, karena orang di sini tidak tahu soal tulis-menulis, termasuk menulis karya sastra,” ungkapnya.

Suaminya, Moh. Hatib, juga belum tahu secara detail apa itu tulis-menulis yang dilakoni istrinya. Meski, dia kerap menemani istrinya dalam sejumlah kegiatan dan penerimaan anugerah atas karya yang dilahirkan sang istri. Hatib bekerja sebagai tukang reparasi elektronik seperti TV dan sound system. ”Tidak mengerti sama sekali soal menulis, bukan dunia saya, dunia saya di elektronik. Asal tidak melanggar aturan Islam, saya mendukung kegiatan istri,” katanya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c14/ttg




Close Ads