alexametrics

Upaya Jejak Aisyah Membawa Kain Jumputan ke Jagat yang Lebih Luas

Masih Banyak Yang Belum Tahu Mana Asli
17 September 2020, 14:25:02 WIB

Kain jumputan cantik, yang dibuat lewat proses yang rumit, tapi kurang dikenal di luar Palembang. Lewat Jejak Aisyah, Angel Eva Christine memanfaatkan jejaring dan diversifikasi produk untuk membantu para perajin.

DEBORA DANISA SITANGGANG, Palembang, Jawa Pos

KEPINDAHAN ke Palembang mengenalkan Angel Eva Christine ke kain jumputan. Jatuh cinta kepada produk kerajinan tangan itu dan kini berusaha keras mengenalkannya ke jagat yang lebih luas.

’’Yang membuat saya tergerak, kain jumputan itu cantik, tapi masih kalah (terkenal) dari jenis kain lain seperti songket atau batik,’’ kata Angel kepada Jawa Pos.

Padahal, banyak perajin lokal di Palembang yang menggantungkan hidup dari membuat kain itu. Dari sanalah dia tergerak mendirikan Jejak Aisyah pada Februari lalu. Aisyah adalah nama mualafnya.

Kain jumputan memikat Angel selain karena tampilannya, juga karena pembuatannya. Untuk kain sepanjang 3 meter, dibutuhkan waktu pengerjaan hingga tujuh hari.

Menjadi perajin, kain apa pun, memang tidak mudah dan butuh skill khusus. Namun, yang membuat Angel terlecut adalah nasib kain jumputan saat ini.

’’Yang jadi PR (pekerjaan rumah), ada banyak orang, bahkan orang Palembang sendiri, yang belum bisa membedakan mana kain jumputan asli dan tidak,’’ ujarnya.

Angel memberi contoh, sejak pertama mengenal kain jumputan, dirinya tahu kain itu kerap memiliki lubang-lubang di beberapa titik.

Dia miris karena banyak orang yang mengira kain dengan lubang kecil itu kurang bagus.

’’Padahal, itu kain yang asli dan hampir 100 persen pasti dikerjakan oleh perajin langsung. Bukan versi cetak saja,’’ katanya.

Jejak Aisyah bergerak dengan memanfaatkan jejaring Angel yang terbentuk sejak sebelum dia pindah ke Palembang untuk mengikuti suami. Angel tidak membawahkan perajin tertentu.

Dia juga berusaha tidak mengeksklusifkan diri dengan beberapa perajin yang dikenal saja. ’’Semua perajin sebenarnya bisa. Perajin jumputan yang datang ke saya pasti akan saya bantu,’’ lanjutnya.

Sayangnya, baru mau mengembangkan sayap di awal tahun, pandemi Covid-19 melanda. Angel pun memutar otak agar usaha para perajin yang dibantunya tidak ikut lesu.

Dipilihlah jalan diversifikasi produk. Masker, salah satu kebutuhan krusial di masa pandemi, dilirik.

Oleh Angel, para perajin disarankan ikut membuat masker dan dia akan tetap mendistribusikannya ke konsumen yang lebih luas. Angel memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk kain jumputan berbentuk masker ini. Di Instagram, Jejak Aisyah bisa ditemui di @JejakAisyah.

Salah seorang pelanggan adalah kawan Angel sendiri, Nurbaiti. Sosok yang akrab disapa Betty itu tinggal di Depok dan dulu satu pengajian dengan Angel.

Awalnya, dia tertarik mencoba satu masker yang ditawarkan Angel karena punya corak kain jumputan yang unik. ’’Saya beli karena bagus, mewah, tapi nggak terlalu mahal,’’ ungkap Betty.

Di kesempatan pertama, dia membeli masker dan mukena untuk dipakai sendiri. Karena punya stok banyak, dia hanya membeli satu.

Namun, karena ternyata masker kain jumputan nyaman dipakai, Betty mulai berlangganan beli masker. Jumlahnya sampai lusinan.

’’Saya beli lusinan karena mau saya jual lagi,’’ lanjutnya. Apalagi, kain jumputan diproduksi lumayan jauh di Palembang. Karena itu, Betty ingin membantu membawanya ke domisilinya saat ini. Seminggu sekali bisa 4–8 lusin.

Betty sebenarnya tidak asing dengan kain jumputan. ’’Kebetulan suami saya kan juga dari Palembang, dan senang aja sama kain-kain yang tradisional begitu,’’ ujar Betty. Namun, untuk model pemasaran seperti Jejak Aisyah yang menggandeng langsung perajin lokal, itu baru diketahuinya belakangan. ’’Patut diacungi jempol karena Jejak Aisyah didirikan untuk memberdayakan perajin setempat,’’ katanya kepada Jawa Pos.

Selain ke ibu kota dan sekitarnya, Angel memasarkan kain-kain jumputan itu ke beberapa daerah lain, salah satunya Jawa Timur. Meski lebih banyak mengirimkan masker saat ini, Angel tidak lantas lupa pada bentuk kain jumputan yang semula ingin diperkenalkan ke khalayak. Dalam bentuk pakaian.

Kini para perajin yang dibantu Jejak Aisyah juga kian kreatif mendiversifikasi produknya. Selain masker, mereka membuat, di antaranya, dompet dan jaket. Supaya kain jumputan makin mudah diterima banyak pengguna.

Itu sesuai dengan tujuan awal penamaan usahanya, Jejak Aisyah. ’’Dinamai Jejak Aisyah karena saya ingin meninggalkan jejak-jejak kebaikan,’’ katanya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c19/ttg




Close Ads