JawaPos Radar

Berkat Wajan Hitam Warisan Nenek, Suwito Kembalikan Kejayaan Kopi Kare

Modalnya Wajan Hitam Warisan sang Nenek

17/07/2018, 20:06 WIB | Editor: Ilham Safutra
Berkat Wajan Hitam Warisan Nenek, Suwito Kembalikan Kejayaan Kopi Kare
Suwito bersama anggota komunitas Blanggreng memamerkan roast bean biji kopi robusta. (R. Bagus Rahadi/Jawa Pos Radar Madiun)
Share this image

Kopi kare konon merupakan minuman favorit pada masa kolonial Belanda. Kopi itu pernah merajai pasar Eropa pada era 1900-an.

DILA RAHMATIKA, Madiun

---

SUASANA sebuah rumah di Dusun Gondosuli, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, itu terasa adem. Maklum, rumah tersebut berlokasi di wilayah pegunungan. Di halamannya yang luas, tampak hamparan biji kopi warna hitam kecokelatan sedang dijemur.

Memasuki ruang produksi, Suwito terlihat sedang sibuk menyangrai biji kopi di wajan tanah di atas tungku berbahan bakar arang kayu durian dan nangka. Sesekali hidungnya mendekat ke biji kopi sambil memejamkan mata. Sejurus kemudian, kepalanya manggut-manggut.

Lalu diangkatnya biji kopi di wajan itu dan dituangkannya di tampah. Aktivitasnya berlanjut dengan napeni biji kopi. Memisahkan antara biji dan kulitnya. "Setelah bersih, didinginkan selama dua hari, lalu dimasukkan stoples. Biji kopi bisa tahan satu tahun. Kalau sudah jadi bubuk, tahan enam bulan," kata Suwito yang juga owner produk kopi berlabel JavaWilis.

Suwito mulai bereksperimen dengan biji kopi kare pada 2016. Lebih dari satu tahun dia secara khusus belajar otodidak me-roasting kopi. Modalnya wajan hitam warisan sang nenek. "Juga lumpang kayu buat nubruk kopi. Tapi, lumpangnya rusak dimakan rayap. Yang ada lumpang batu," ungkapnya.

Ketertarikan Suwito mengolah biji kopi tak lepas dari kampung halamannya yang sejak zaman penjajahan sudah akrab dengan produksi jenis minuman itu. Pada era kolonial dulu, sekitar 1911, berdiri pabrik pengolahan kopi. Pekerjanya warga sekitar Dusun Gondosuli. Termasuk mbah buyut Suwito.

Hasil penelusuran Suwito, kopi kare sempat merajai pasar Eropa pada era 1900-an. "Saya menelusuri sejarahnya sampai naik ke atas Kandangan, tanya pengelola pabrik kopi dan sesepuh di sana. Kata mereka, Presiden Soekarno pernah mencicipi kopi kare ini," kenangnya.

Sejak itulah Suwito tergelitik untuk meracik kopi. Dia menggaet Ardiyan Agung Nugroho, akademisi sekaligus penggiat gastronomi. Juga Haryo Eko Baskoro, chef kuliner profesional, dan Anton Ali Wardana, seorang event coordinator. "Setelah bertemu, kami sepakat menjadikan kopi kare ikon Madiun," ucapnya.

Januari lalu Suwito dkk beserta puluhan petani kopi kare bertemu di rumah peninggalan nenek Suwito. Dari pertemuan itu terbentuk komunitas Blanggreng. Mereka berkomitmen mengolah kopi kare lebih berkualitas dan sesuai standar internasional. "Kami segmennya end user dari kelas menengah ke atas. Ini kopi kelas premium," ungkapnya.

Pelan tapi pasti, produk JavaWilis pun mulai go international. Setidaknya sudah merambah pasar Thailand dan Australia. Pada November 2017 roast bean kopi kare buatan Suwito hadir dalam Wonderful Indonesia Festival di One World Mall, Bangkok, Thailand.

Saat itu 12 kilogram JavaWilis robusta dan 5 kilogram JavaWilis excelsa yang diusung ludes dibeli pengunjung festival. "Yang ke sana partner lain. Difasilitasi Kementerian Pariwisata," ungkapnya.

Sejak itu pula nama JavaWilis kian dikenal publik. JavaWilis mengandalkan proses organik untuk penanaman kopi. Terbukti, penggunaan pupuk organik menghasilkan rasa kopi yang berbeda. Petani lokal juga diajak memetik biji kopi dengan baik dan benar. "Petiknya harus satu per satu dan hanya biji kopi yang warnanya merah," jelasnya. 

(*/isd/c9/diq)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up