alexametrics

Cerita Nur Asyanto, Guru SMAN 1 Nganjuk yang Nekat Touring Sepeda ke Anyer

17 Juli 2017, 00:59:30 WIB

Keputusan Nur Asyanto untuk melakukan touring sepeda ke Anyer, Banten, bisa dibilang nekat. Selain menemui kerabat dan sahabat di sana, guru SMAN 1 Nganjuk tersebut ingin memotivasi masyarakat untuk hidup sehat dengan gowes.

ANWAR BAHAR BASALAMAH, Nganjuk

USIA sudah tidaklagi muda. Namun, pria 57 tahun itu terlihat masih sangat bugar.

Ditemui di kediamannya di Perumahan Jatirejo Indah B-7, Nganjuk, kemarin siang, Nur Asyanto mengenakan kaus gowes hitam dipadu celana kain krem. Gaya bicaranya begitu bersemangat. Apalagi saat menceritakan pengalaman touring sepeda beberapa minggu lalu ke Anyer, Cilegon, Banten, yang merupakan daerah paling barat Pulau Jawa. Dia kemudian menunjukkan foto-foto bersepeda selama 11 hari itu.

”Foto ini saat saya mampir di Kebun Raya Bogor,” kata Nur di ruang tamu sambil menunjukkan foto berlatar belakang Istana Bogor.

Pada 1 Juli lalu, dia melakukan touring sepeda. Setelah menghabiskan waktu hampir dua minggu, guru matematika SMAN 1 (Smasa) Nganjuk tersebut baru sampai di rumah Kamis (13/7).

”Pukul 02.00 saya tiba di rumah,” kenangnya.

Bagaimana perjalanan selama dua minggu itu bisa berjalan lancar? Dia mengaku sudah menyiapkan semua keperluan. Mulai pompa, alat tambal ban, hingga mantel. Selain itu, pria kelahiran 31 Mei tersebut membawa dua botol air minum, koyo, dan garam. Semua kebutuhan itu sangat bermanfaat selama touring.

Misalnya, koyo yang dipakai untuk meredakan rasa nyeri di kaki. Garam yang dilarutkan dalam air berfungsi untuk mencegah kram. Sedangkan peralatan lain digunakan saat mengalami kendala di tengah perjalanan.

”Kalau untuk makan, saya mampir ke warung,” ujarnya.

Berangkat dari kediamannya sekitar pukul 05.30 Sabtu dua pekan lalu, Nur mengambil rute ke arah Solo, Jawa Tengah. Gowes ke Solo ditempuh dengan melewati Kabupaten Ngawi. Begitu tiba di Kota Bengawan sekitar pukul 16.00, dia mencari penginapan.

Meski bisa menginap di rumah teman, Nur sebisa mungkin menghindarinya sesuai pesan Rusilowati, sang istri. Sebab, dia tidak ingin merepotkan teman yang ditumpangi.

Pada hari kedua, Nur melanjutkan perjalanan ke arah Semarang, Jawa Tengah. Di Kota Lumpia itu, ban sepedanya bocor. Untung, dia sudah menyiapkan pompa dan alat tambal ban. ”Setelah itu bisa jalan lagi,” terang bapak dua anak itu.

Sama seperti di Solo, Nur menginap di penginapan Kota Semarang. Setelah itu, saat pagi dia bersepeda menuju Kota Tegal. Sempat singgah sehari di sana, touring dilanjutkan ke Indramayu, Jawa Barat. Baru di hari kelima, dia menempuh perjalanan ke Subang.

Sebenarnya, di kota itu dia ingin mampir ke rumah temannya di dekat Ciater. Namun, medan jalan menuju ke sana sangat berat. Selain curam, jalannya sempit. Padahal, perjalanan kurang 6 kilometer. ”Kalau saya paksakan, fisik saya nggak kuat,” katanya.

Akhirnya, Nur kembali ke Kota Subang untuk mencari penginapan. Di hari keenam, dia melanjutkan perjalanan ke Karawang untuk menemui Fiki Beta Nurwansyah, putri bungsunya yang bekerja di kota itu. Di rumah sang anak, Nur menginap selama dua hari satu malam.

Kesempatan itu dimanfaatkan untuk membersihkan dan mengecek sepeda. Baru pada Sabtu (8/7), Nur melanjutkan touring ke Jakarta melewati Kota Bekasi. Di ibu kota, dia sempat berkeliling ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Dia mengunjungi rumah bibinya di Kota Depok, Jawa Barat. Karena itu, setelah menuju arah barat, Nur mengambil rute selatan. Di sana, dia menjenguk sang bibi yang sakit sesak napas.

”Saya ingin memberikan motivasi supaya sehat lagi dan mau berolahraga,” ucap alumnus IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) tersebut.

Di Depok, Nur sempat kesulitan mencari tempat penginapan. Akhirnya, setelah berkeliling di Bogor, dia baru mendapat tempat menginap sekitar pukul 20.00.

Esoknya, Nur menikmati Kota Hujan itu dengan mengujungi Kebun Raya Bogor. Setelah hari mulai terik, dia melanjutkan bersepeda ke Jakarta dan menginap di rumah sang adik.

Pada hari terakhir, pria asli Bondowoso itu melanjutkan perjalanan ke Serang, Banten. Di kota tersebut, Nur ingin bertemu dengan teman SD-nya. Karena memburu waktu, dia berangkat dari Jakarta sekitar pukul 05.30 dan tiba di Serang sekitar pukul 07.00.

”Saya kebut sepedanya karena teman harus berangkat kerja pagi,” ujarnya.

Namun, setiba di Serang, sang teman meminta bertemu sekitar pukul 10.00. Karena itu, dia menyempatkan untuk ke Anyer, Cilegon, lebih dahulu. ”Saya sempat singgah di nol kilometernya Jawa,” kata Nur senang, seraya tersenyum.

Setelah bertemu dengan teman, Nur diajak menemui ketua DPRD dan wakil wali Kota Cilegon. Di sana, dia disambut pimpinan daerah tersebut. ”Saya dijamu di gedung DPRD,” ungkapnya, lantas terbahak.

Sempat berniat pulang dengan bersepeda, Nur akhirnya diminta sang teman naik kereta api. Apalagi, dia harus segera kembali ke sekolah untuk mengajar. Jika dipaksakan pulang dengan bersepeda, Senin (17/7) dia dipastikan belum tiba di Nganjuk.

Begitu menuntaskan touring sejauh 1.200 kilometer, Nur sangat senang dan lega. Selama ini, tujuan touring-nya memang sangat mulia. Selain mengunjungi teman, dia ingin mengampanyekan hidup sehat kepada teman-temannya dengan bersepeda.

”Ini bagian dari memberikan motivasi supaya mau berolahraga,” terang pria yang empat tahun lalu juga gowes ke Jakarta tersebut.

Setelah menyukseskan misi bersepeda, Nur bertekad terus melakoni kebiasaan itu. Apalagi, sebelumnya dia pernah menjelajah beberapa daerah. Termasuk bersepeda ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan ke Madura. (*/ut/c21/diq)

Editor : Suryo Eko Prasetyo

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads
Cerita Nur Asyanto, Guru SMAN 1 Nganjuk yang Nekat Touring Sepeda ke Anyer