alexametrics

Prof Muzakki Ingin Umat Islam Garda Terdepan Pendidikan Internasional

17 Juni 2022, 07:48:55 WIB

Prof Akhmad Muzakki kini menjadi orang nomor satu di UINSA. Sebagai pendidik, dia melalui perjalanan yang tak mudah. Tumbuh dan dibesarkan di lingkungan madrasah.

RAMADHONI CAHYA, Surabaya

DERETAN buku di ruangan lantai 2 itu seakan mendengarkan Prof Akhmad Muzakki bercerita. Sebuah kisah liku-liku karier yang tak mudah. Mulanya Muzakki berkisah tentang perjalanannya menjadi dosen hingga menapaki puncak karier sebagai pendidik dengan menjadi rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Bagi dia, banyak aspek kehidupan yang membuat dirinya menjadi seperti saat ini.

Muzakki tumbuh di lingkungan yang kental dengan dunia Islam. Sejak kecil dia mengenyam bangku pendidikan di madrasah. Mulai madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MT), hingga madrasah aliyah (MA). Semuanya terletak di Sekardangan, sebuah kelurahan di Sidoarjo. ’’Pendidikan saya itu tulisan kanan ke kiri. Bahasa Arab,’’ jelas suami Erna Mawadi tersebut.

Tumbuh dalam lingkungan madrasah memengaruhi pola pikirnya. Menurut dia, orang Islam saat ini seharusnya berada di garda terdepan dalam pengembangan dunia pendidikan internasional seperti Ibnu Haitham, Al-Khawarizmi, hingga Ibnu Khaldun.

Sebab, Islam menempatkan pendidikan di tempat yang mulia. ’’Tidak ada cara lain mencari ilmu selain melalui jalur pendidikan,’’ terang bapak dua anak itu.

Lulusan magister sosiologi tersebut menjelaskan, dirinya ingin mengolaborasikan Islam dan pendidikan modern. Menurut dia, Islam tak sekadar kepercayaan, tapi bisa dijelaskan secara sosial. Bahwa segala hal di kitab suci bisa dipahami dengan menggunakan ilmu manusia. ’’Istilahnya demistifikasi,’’ jelas pria yang mendapatkan gelar PhD sosiologi media di University of Queensland, Australia, itu.

Muzakki menceburkan diri ke dunia pendidikan setelah mengikuti program pembibitan dosen pada 1997. Dia ingat saat itu harus jauh dari keluarga dan mengalami culture shock karena berasal dari kota kecil. Tantangan lain, terjadi krisis moneter yang mengharuskan dia berhemat dan mengakali dengan berbagai cara. ’’Kurs melambung tinggi. Saya juga orang miskin waktu itu,’’ tuturnya.

Berkaca dari pengalamannya, dia ingin membantu kaum ekonomi lemah dalam mengakses pendidikan. Bagi dia, pendidikan adalah salah satu upaya untuk melepaskan keluarga dari rantai spiral kemiskinan. Jika ada satu anggota keluarga yang berhasil, dia dipastikan dapat membantu keluarganya lepas dari jurang kemiskinan. ’’Yang bakal saya terapkan di UINSA,’’ lanjutnya.

Dia menjelaskan, proses menjadi guru besar mengalami banyak tantangan. Sebab, dosen asal Kementerian Agama (Kemenag) harus menjalani berbagai tes. Hal yang berbeda jika berasal dari Kemendikbud yang hanya menjalani tes di jenjang universitas dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. ’’Rumitlah dulu waktu daftar,’’ terang pria 48 tahun tersebut.

Kesabarannya juga harus diuji pada 2014 karena berkas pendaftaran gelar profesornya hilang. Menurut Muzakki, kondisi gedung dikti saat itu dilanda banjir sehingga berkasnya rusak. Dia pun terpaksa mengurus berkas lagi dari awal. ’’Itu momen waktu dikti pindahan gedung,’’ jelasnya.

Ujian seolah tak berhenti. Muzakki mendapatkan kabar bahwa staf dikti salah menginput penilaian berkasnya. Pada awalnya, berkasnya untuk keperluan guru besar ternyata berubah menjadi lektor kepala. ’’Akhirnya butuh waktu empat tahun untuk menyandang gelar profesor bidang sosiologi pendidikan,’’ terangnya.

Muzakki mengatakan, menyandang jabatan rektor bukanlah capaian terbesarnya. Melainkan menjadi ilmuwan adalah hal yang sangat dibanggakannya. Dia pun tak menyangka bisa menjadi ilmuwan di pendidikan tinggi. ’’Dulu cuma pengin jadi seperti ayah,’’ ungkap putra seorang guru tersebut.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads