Rujak Pare Sambal Kecombrang untuk Peringatan Pemerkosaan Mei 1998

17 Mei 2022, 07:48:02 WIB

Pare yang pahit dan bunga kecombrang yang cantik menjadi simbol kemuraman dalam kerusuhan Mei 1998. Bunga kecombrang yang diulek melambangkan perempuan Tionghoa yang kecantikannya diremukkan lewat kekerasan seksual. Ritual rujak pare sambal kecombrang diharapkan mengangkat lagi diskusi tentang kejadian tersebut.

RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya

PARE, cabai, gula aren, garam, terasi, kecombrang, asam jawa, dan gula merah. Semua bahan tersebut tertata di meja di Corepreneur Universitas Ciputra Kamis (12/5). Pembuatan rujak pare sambal kecombrang sebenarnya tak berbeda jauh dengan rujak biasa. Namun, masakan itu punya makna yang mendalam.

”Pare yang diiris tipis ini melambangkan kepahitan dan penderitaan,” kata Harjanto Salim, penggagas ritual rujak pare.

Ritual tersebut mulai diadakan pada 2018 di Semarang. Setelah tiga tahun berselang, ritual itu kini mulai dilakukan di Surabaya. ”Di balik pemilihan makanan, saya melihat kebudayaan Tionghoa dan Jawa ini punya kesamaan dalam memperingati sesuatu,” ujarnya.

Dalam sebuah peringatan, selalu ada makanan khas. Ia juga kaya simbol yang berkaitan dengan kejadian penting yang diperingati bersama. Itulah yang mengilhami Harjanto untuk melahirkan ritual rujak pare sambal kecombrang. Ritual yang selalu diadakan dengan membuat rujak bersama pada Mei setiap tahun.

Menjadikan makanan sebagai simbol memiliki keuntungan sendiri. Ia mudah menyebar karena mudah ditiru di berbagai daerah. ”Pare kan murah, melimpah juga. Jadi, harapannya, makanannya juga menyebar dengan diskusi tentang makna di dalamnya,” tegas Harjanto.

Dalam budaya Jawa dan Tionghoa, makanan khas dan peringatan juga bertahan dalam waktu yang lama. Bahkan, hingga ratusan tahun, warisan kebudayaan tetap terjaga. ”Karena itu, saya punya impian, saat ritual dilakukan, bisa ada pelaku yang mengakui kesalahan dan meminta maaf nanti,” tuturnya. Permintaan maaf itu bisa jadi obat bagi para korban.

Ita Fatia Nadia, seorang satu pendamping korban dan aktivis, menyatakan bahwa kejadian Mei 1998 banyak dibicarakan sebagai reformasi dan perjuangan pelengseran Orde Baru. ”Memang perjuangan mahasiswa tak main-main. Tapi, kita perlu ingatkan bahwa ada kejadian kekerasan seksual di dalamnya. Ada perempuan Tionghoa yang sudah terdiskriminasi dan mengalami pemerkosaan,” paparnya.

Mengingat kejadian Mei 1998 tak hanya mengenang perjuangan yang berbuah reformasi. Namun, beberapa aspek di dalamnya juga terlupakan. ”Dan, kejadian kekerasan seksual ini tak hanya terjadi di Jakarta dan sekitarnya, tetapi juga di Medan, Palembang, dan Surabaya,” ungkapnya.

Perjuangan pendampingan terhadap korban terus dilakukan hingga saat ini. Karena itu, peringatan setiap tahun penting dihelat supaya ingatan kolektif tetap terjaga. ”Kejadian ini perlu diangkat terus. Apalagi, generasi muda saat ini tidak mengetahui langsung kejadian seperti ini,” tutur Dekan Entrepreneurship dan Humaniora UC Johan Hasan.

Dengan diadakannya ritual dan diskusi sebagai peringatan kekerasan seksual pada Mei 1998, kita turut belajar dari sejarah. ”Mungkin ada yang berpikir, untuk apa diungkit lagi, seolah membuka luka lama bagi korban,” ujar Johan.

Padahal, peringatan ini menjadi pengakuan bahwa kekerasan memang terjadi. Dia menegaskan bahwa tak mengakui adanya kekerasan seksual sama saja mem-victim-isasi korban untuk kali kedua.

Johan ingin ritual rujak pare sambal kecombrang makin diperluas lagi tahun depan. ”Saya dan Pak Harjanto mulai merencanakan Gerakan Rujak Pare supaya lebih banyak daerah yang melakukannya. Apalagi, 2023 merupakan peringatan 25 tahun kejadian Mei 1998,” jelasnya.

Harjanto menjelaskan, rujak pare sambal kecombrang bukan hanya makanan, tetapi juga cara agar makin banyak yang peduli terhadap kasus kekerasan seksual. ”Untuk Mei 1998, kita tentu berharap makin banyak yang makan rujak pare. Ada daya tekan untuk pemerintah turut menyelesaikan,” tuturnya.

Namun, kita tak bisa hanya berfokus pada kasus yang telah lampau. Kasus kekerasan seksual juga terjadi di sekitar kita.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c14/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads