alexametrics

Anggriyanto Faisal, Pemain PSS U-16, Korban Kerusuhan di Stadion Maguwoharjo

Butuh Waktu Lama untuk Sembuhkan Mata Kanan
17 Mei 2019, 17:17:46 WIB

Berbakat, tapi karir Anggriyanto Faisal bisa terancam akibat luka di mata kanannya. Saat kejadian sudah berusaha selamatkan diri, namun tetap terkena lemparan pecahan ubin.

HERY KURNIAWAN- FARID S. MAULANA, Sleman

BUTUH waktu beberapa saat bagi Anggriyanto Faisal untuk membalas sapaan itu. ”Masih pusing dan nyeri,” katanya dengan suara belum lancar, seraya menunjuk mata bagian kanan.

Kemarin, saat Jawa Pos Radar Jogja menjenguk ke RSUP dr Sardjito, Sleman, Jogjakarta, mata bagian kanan pemain PSS Sleman U-16 tersebut baru saja dioperasi. Operasi itu harus dijalani setelah remaja 15 tahun tersebut jadi korban salah lempar ubin saat menyaksikan laga PSS vs Arema FC di Stadion Maguwoharjo, Sleman.

Duel pada Rabu malam lalu (15/5) itu sekaligus membuka Liga 1 musim ini.

Ada puluhan orang yang jadi korban luka akibat kerusuhan dalam pertandingan yang dimenangi PSS 3-1 itu. Ada yang sesak napas karena gas air mata dari kepolisian. Ada pula yang mengalami luka ringan hingga parah karena lemparan benda-benda keras seperti batu, kaca, serta pecahan ubin stadion.

Khaerul, pemain PSS U-16 lainnya yang berada di dekat Anggriyanto saat kejadian, menuturkan, dirinya dan rekannya itu sebenarnya sudah berusaha melarikan diri begitu terjadi insiden lempar-lemparan benda keras. Nahas, ada ubin yang meluncur deras yang tidak bisa dihindari pemain berposisi gelandang tersebut.

Seketika, dia memegangi mata sebelah kanan yang terkena lemparan. ”Lantas, beberapa orang mencoba membantu dan mengamankan,” tutur Khaerul kepada Jawa Pos Radar Jogja.

Terkait dengan kondisi mata kanan Anggriyanto, pihak RSUP Sardjito menyatakan baru melakukan tindakan awal. Belum bisa melakukan tindakan lebih lanjut lebih dahulu. Sebab, butuh izin langsung dari orang tua Anggriyanto yang dijadwalkan tiba di Sleman tadi malam.

Kepala Bagian Humas RSUP Sardjito Banu Hermawan menuturkan, jika melihat observasi awal, luka yang dialami Anggriyanto butuh waktu lama untuk sembuh. ”Harus dirawat intensif terlebih dahulu,” katanya.

Tentang apakah mata kanan Anggriyanto bisa melihat secara normal lagi, Banu belum mau banyak komentar. Harus menunggu observasi lanjutan. Yang jelas, kata dia, pihak RSUP Sardjito akan berusaha keras berbuat yang terbaik kepada sang pasien.

Sementara itu, Asep Handi Kurniawan, salah seorang pentolan Slemania, tidak bisa berkomentar soal lemparan dari kubu mana yang kemudian mengenai Anggriyanto. Yang jelas, keadaan saat kerusuhan Rabu lalu benar-benar kacau.

”Posisinya saling lempar. Jadi, kami tidak bisa menjawab itu. Tidak tahu situasinya seperti apa,” ujarnya.

Mengenai kemungkinan penggalangan dana untuk Anggriyanto, Asep juga belum bisa berkomentar. ”Belum ada rencana ke situ. Kami belum tahu,” ucapnya kepada Jawa Pos.

Berdasar pantauan Jawa Pos, awalnya kerusuhan pecah di tribun selatan, dekat area VIP. Suporter dari kedua tim terlibat aksi saling lempar. Ketegangan sempat mereda ketika beberapa perwakilan Aremania dan suporter PSS membentangkan banner persahabatan keliling lapangan. Bahkan, sempat saling tukar syal. Pertandingan bisa dimulai dengan aman.

Namun, saat pertandingan baru dimulai, ketegangan terjadi lagi. Kali ini terjadi di tribun utara, juga dekat area VIP. Saling lempar kembali terjadi walaupun berhasil dihentikan pihak keamanan. Pertandingan berlanjut dan PSS mencetak gol lebih dulu melalui pemain asal Argentina Brian Ferreira pada menit kedua.

Setelah momen itu, ketegangan sempat mereda. Kedua suporter saling beradu chant untuk mendukung tim masing-masing. Nah, kerusuhan pecah setelah striker baru Arema Sylvano Comvalius mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-29.

Wasit Yudi Nurcahya terpaksa menghentikan pertandingan karena dia melihat kerusuhan yang kian luas. Apalagi, pihak keamanan sempat menembakkan gas air mata. Tim PSS dan Arema FC langsung diamankan ke lorong stadion.

Untung saja, kerusuhan di luar stadion berhasil diredam. Pihak keamanan yang merupakan gabungan dari TNI dan Polri berhasil meredakan keributan yang berpotensi membesar.

Pada era Perserikatan 1990-an, Nurkiman, salah seorang pemain Persebaya Surabaya, juga mengalami luka di mata akibat lemparan benda keras saat berada dalam bus ketika lawatan ke Malang. Cedera itu pun mengakhiri karirnya yang baru seumur jagung.

Karena itulah, Manajer Tim PSS U-16 Johanes Sugianto mengutuk kerusuhan yang berbuntut malapetaka bagi Aggriyanto tersebut. Selain kembali memperburuk citra sepak bola nasional, dia khawatir dengan masa depan pemainnya tersebut.

”Dia itu berbakat Mas, sayang kalau harus berhenti main bola gara-gara ulah para oknum,” katanya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c5/ttg)



Close Ads