JawaPos Radar

Cerita Para Bomber dan Terduga Teroris

Tri Sempat Ceramahi Tetangga sebelum Pergi Mengebom (2/habis)

17/05/2018, 12:05 WIB | Editor: Ilham Safutra
Tri Sempat Ceramahi Tetangga sebelum Pergi Mengebom (2/habis)
Rumah terduga teroris Dedy Sulistiantono di Jalan Sikatan, Surabaya, dijaga petugas Satpol PP kemarin. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
Share this

Anton Ferdiantono, Tri Murtiono, maupun Dedy Sulistiantono sama-sama dikenal sebagai sosok tertutup oleh para tetangga. Ekspresi ketakutan di wajah Tri sebelum meledakkan diri sempat tertangkap salah seorang polisi.

JOS R.-MIRZA A.-DWI, Surabaya; HASTI EDI, Sidoarjo

---

Tri Sempat Ceramahi Tetangga sebelum Pergi Mengebom (2/habis)
Rumah teroris Anton Ferdiantono yang berhasil dilumpuhkan aparat di rusun taman sidoarjo yang sudah lama ditinggalkan di daerah Manukan Surabaya Barat. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

ILALANG memenuhi halaman rumah di kawasan Manukan Indah, Surabaya, itu. Tanaman liar tersebut juga muncul dari sela-sela lantai. Pagarnya juga berkarat. ''Sudah sejak 2010 rumah itu memang dibiarkan kosong. Sejak ayah mereka meninggal,'' kata Bani Pranoto, ketua RW 3, Kelurahan Manukan Kulon, Kecamatan Tandes.

Di rumah itulah Anton Ferdiantono dan Dedy Sulistiantono alias Teguh dibesarkan. Dua terduga teroris tersebut tewas dalam dua kesempatan berbeda.

Anton, 47, tewas setelah ditembak Densus 88 pada Minggu malam (13/5). Itu terjadi setelah dia lebih dulu terluka akibat bom rakitan di rusun yang ditinggalinya bersama keluarga di Rusunawa, Wonocolo, Sidoarjo. Akibat ledakan itu pula, istrinya, Puspita Sari, 47, dan anak tertuanya, Hilta Aulia Rahman, 17, tewas.

Pada hari yang sama, pada pagi harinya, tiga gereja di Surabaya juga menjadi sasaran pengebom bunuh diri yang semua merupakan anggota keluarga Dita Oepriarto. Sehari kemudian (14/5), Dedy alias Teguh, si adik, juga tewas dalam penggeberekan di rumahnya di Manukan Kulon.

Dita, Anton, dan Dedy semuanya berada dalam jaringan yang sama: Jamaah Ansharut Daulah. Begitu pula Budhi Satrijo yang tewas dalam penangkapan di rumahnya di Sukodono, Sidoarjo.

Bani yang juga guru SD Anton mengenang muridnya itu sebagai murid yang cerdas. Langganan juara kelas dan akhirnya bisa berkuliah di ITS. "Setelah lulus, dia membuka usaha permak elektro di rumahnya. Dia jago perbaiki barang-barang elektronik," paparnya.

Usahanya kebanjiran pesanan dari warga. Meski demikian, sifat Anton tak berubah. Tetap tertutup. "Jarang komunikasi, tapi orangnya ramah dan baik," terang Budi Santoso, ketua RT 11 Manukan Indah, saat ditemui di rumahnya kemarin pagi (16/5).

Bani juga mengenang, Dedy berkarakter mirip si kakak. Pria 45 tahun itu juga dikenal tertutup. "Dia juga pendiam dan suka menitip arisan setiap minggu. Tapi, sudah dua bulan dia nggak nitip arisan dan menghilang," katanya.

Selama tinggal di Manukan Indah, Anton dikenal sebagai sosok agamais. Dia rajin mendatangi sejumlah pengajian beserta keluarga. Saking agamaisnya, dia enggan melakukan kontak fisik atau sekadar bersalaman dengan lawan jenis.

Diperkirakan, menjelang 2006, dia memutuskan untuk pindah rumah dari orang tua dan adiknya. Lantas mengontrak rumah tak jauh dari rumah keluarganya selama setahun.

''Pernah tinggal di RT 10. Setelah itu pindah ke RT 11,'' terangnya.

Para tetangga di Manukan Indah baru mengetahui lagi kabar Anton saat muncul kabar dia tewas. Ternyata, sejak 2015 dia tinggal di Rusunawa Wonocolo bersama istri dan keempat anak.

Di rusunawa itu pula, di lantai yang sama tapi di rusun yang berbeda, tinggal ibunda Anton, Sukowati, dan adiknya, Adhi Hartono alias Dodi. Anton tinggal di kamar nomor 2, Sukowati di kamar nomor 5, sedangkan Adhi di nomor 20.

''Sejak kejadian (pada Minggu malam lalu) itu, keluarganya tidak terlihat. Dibawa polisi ke polda, kata pengelola rusunawa,'' ujar Lil Mutaqin, penghuni kamar 23.

Mutaqin tinggal di kamar yang berseberangan dengan kamar Anton. "Saya yang pertama masuk ke kamar itu setelah terdengar bunyi ledakan," ucapnya.

Begitu masuk kamar sumber ledakan, Mutaqin melihat Anton terkapar. Namun, dia tidak lantas membopongnya. Bapak tiga anak tersebut tidak tahu harus membawanya ke rumah sakit dengan kendaraan apa. "Lukanya parah. Saya telepon rumah sakit agar mengirim ambulans," paparnya.

Dia belum menyadari bahwa di kamar itu juga ada Puspitasari dan Hilta. "Baru tahu pas polisi sudah datang dan gedung sudah steril. Dikabari bahwa istri dan anaknya juga meninggal," ujarnya.

Mutaqin tidak menyangka tetangga di seberang kamarnya itu adalah seorang teroris. Sebab, selama tinggal di sana, tidak pernah ada gelagat mencurigakan. ''Orangnya baik,'' jelasnya.

Dia dan keluarga Anton kerap bertegur sapa. Ketiga anaknya juga sering bermain dengan anak-anak Anton. ''Sampai sekarang masih percaya gak percaya,'' ungkapnya.

Ketika bom meledak di kamar itu, Ainur Rahman, 15, anak kedua Anton, sedang berada di kamar nomor 5. Kamar neneknya. Jadi, dia selamat. Ainur juga yang kali pertama membopong dua adiknya yang terluka ke luar kamar agar mendapat pertolongan. Yakni, Faizah Putri, 11, dan Garida Huda Akbar, 10.

Dia tidak menampik bahwa Anton tidak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah formal. Mereka belajar kepada tantenya, istri Adhi. "Kalau yang paling besar (Hilta), kan sudah lulus sekolah. Baru setahun di sini. Dulunya mondok, tapi gak tahu di mana," ujarnya.

Dodik merasa selama ini tidak ada friksi antara Anton dan ibu serta adiknya. Mereka terlihat biasa saja. Hanya, dia mengakui, Anton dan Adhi memang tidak terlalu sering ngobrol. ''Pak Anton memang orangnya pendiam. Jadi, bisa dimaklumi,'' ujarnya.

Berselang dua hari setelah penyerangan gereja, giliran Mapolrestabes Surabaya menjadi sasaran. Pelakunya Tri Murtiono yang mengajak serta istri dan ketiga anaknya.

Briptu Dimas Indra Syafrianto masih ingat betul ekspresi wajah Tri sesaat sebelum ledakan yang menewaskan Tri, istri, dan dua anaknya yang berboncengan dengan motor berbeda itu.

Tatapan mata pelaku tampak kosong. Melirik kanan dan kiri. "Wajahnya ketakutan. Saya tahu persis itu," katanya.

Dia menganggap wajah ketakutan itu wajar. Entah apa pun bentuk doktrin di dalam otak pelaku, akhirnya dia sendiri yang harus me­mutuskan hidup atau mati. ''Pelaku itu mau mati juga takut. Takut sekali,'' ungkapnya.

Begitu motor Tri berhenti, jari jempol Dimas ditempelkan ke bagian pengunci untuk bersiap membuka safe lock senapan. Dimas hendak mengokang senjata. Namun, ledakan mendahuluinya. Duarr!

Ada tiga polisi lain di lokasi ledakan saat itu. Dimas berada di belakang Bripka Ahmad Muaffan. Muaffan berada tepat di depan motor Honda Supra X yang dikendarai Tri. Sedangkan yang berdiri berurutan di samping Muaffan adalah Bripka Rendra dan Aipda Umar.

Saat Dimas bercerita kepada Jawa Pos, raut mukanya tampak kalut. Apalagi ketika menceritakan kondisi Muaffan.

Rekannya itu muntah darah. Sekujur tubuhnya berlumuran darah dan penuh luka. Dia terluka di bagian belakang kepala, tangan, dan dadanya. Hingga kemarin (16/5), Muaffan belum bisa diajak berbicara lama. Suaranya lirih. Dokter memintanya untuk fokus beristirahat.

Tri, di lingkungan tempat dia mengontrak di Jalan Tambak Medokan Ayu VI, dikenal sebagai pribadi yang tertutup. Sehari-hari, dia jarang berinteraksi dengan warga sekitar.

"Memang jarang interaksi. Tetapi, saya tidak melihat hal ganjil," ujar Suwito, ketua RT 08, RW 02.

Kecurigaan justru muncul dari Kasida. Seorang pengusaha galon yang menjadi langganan keluarga Tri. ''Biasanya dia yang datang ke toko saya untuk membeli galon. Tetapi, sekitar sepuluh hari terakhir ini dia selalu minta pesan antar,'' tuturnya.

Kali pertama mengantarkan galon, Kasida hanya bertemu dengan salah satu putra Tri. Dia diterima di depan pagar tanpa boleh meng­injakkan kaki di teras. Kejadian itu membuat rasa penasaran dalam benak Kasida muncul.

"Gara-gara ketemu anaknya, saya jadi penasaran sama bapaknya. Ada perasaan ganjil melihat tingkah laku mereka," tambah pria asli Jogja tersebut.

Keinginannya itu pun terwujud pada Senin (15/5). Sebuah pesan untuk kembali mengantarkan galon ke rumah Tri datang.

Pukul 06.00 Kasida tiba di rumah Tri. Kesempatan itu lantas dia gunakan untuk memuaskan rasa penasarannya. ''Saya mencoba mengonfirmasi pekerjaannya sebagai pengusaha aluminium. Tetapi, bukannya dijawab, saya malah mendapat ceramah,'' tutur Kasida.

Suami Tri Ernawati tersebut memberikan banyak petuah kepada Kasida. Hampir tiga puluh menit dia berdiri di depan pagar untuk mendengarkan ceramah tersebut. ''Sekitar 06.30, dia pamit untuk berangkat kerja. Jadi, saya pulang,'' lanjutnya.

Ternyata Tri tidak berangkat kerja. Melainkan mengajak istri dan ketiga anaknya melakukan pengeboman bunuh diri di mapolrestabes. Tri dan istri tewas. Sedangkan dari tiga anaknya yang diajak, hanya si bungsu Ais yang selamat. 

(*/c5/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up