JawaPos Radar

Kisah Perias Jenazah

Intip Ritual Khusus Perias Jenazah, Berbicara Langsung dengan 'Klien'

17/04/2018, 11:48 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Intip Ritual Khusus Perias Jenazah, Berbicara Langsung dengan 'Klien'
Pembuat Peti Jenazah melakukan proses pengecatan di kawasan Tambora, Jakarta Barat, (30/3). (Issak Ramadhan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Kesan menyeramkan biasanya terlintas ketika bersinggungan dengan profesi perias jenazah. Namun tidak untuk Ver, 46, yang sudah menggeluti bidang perias jenazah sejak usia remaja. Baginya, perias jenazah bukan sekadar profesi untuk memburu materi, tapi amanah dengan niat mulia.

Awalnya, pada 1989 ia tergerak hati untuk menerima jasa rias jenazah-sebuah pekerjaan yang menantang baginya. Sebab, ia mengakui pekerjaan merias jenazah tak mudah dilakukan. Perlu keberanian dan mental kuat.

“Awal kali merias orang meninggal itu pasti kaget, apalagi kalau ngerias pas malam hari di ruang jenazah," ungkap Ver ditemui JawaPos.com di rumahnya di kawasan Jakarta Barat, Jumat (13/4).

Intip Ritual Khusus Perias Jenazah, Berbicara Langsung dengan 'Klien'
Perias jenazah biasanya melakukan 'ritual' khusus agar tugas merias jenazah berjalan dengan lancar. (Istimewa)

Agar tugas merias berjalan dengan lancar, ibu dua orang anak ini mengaku selalu memanjatkan doa dan melakukan 'ritual' khusus. Percaya atau tidak, ia membiasakan diri meminta izin kepada si jenazah sebelum mulai merias. Bahkan, Ver melakukan percakapan kecil kepada jenazah yang berbaring di depannya.

Tujuannya meminta izin agar sang jenazah bisa diajak kerja sama. Setelah melakukan komunikasi dengan ‘kliennya’, ia kemudian mulai merias wajah. "Waktu itu kejadian jam 3 subuh, saya lagi make-up tiba-tiba mati lampu, suara blower geter. Dari situ saya selalu permisi sebelum make-up karena niat saya baik,” lanjutnya.

Perihal proses maupun tata caranya, ia menjelaskan tidak berbeda jauh dengan orang yang masih hidup. Produk yang digunakan pun hampir sama. Hanya saja terdapat racikan khusus pada foundation yakni berupa cairan pengawet dan base make-up agar tahan lama. Tak hanya riasan wajah, ia pun turut menata rambut sesuai dengan keinginan pihak keluarga.

“Sebelum di-make-up, almarhum terlebih dahulu dimandikan, dipakaikan baju, dan kemudian diformalin.  Formalin tergantung berapa hari diinapkan, make-up-nya juga disesuaikan. Kalo sampai dibawa ke luar negeri, biasanya foundation harus tebal biar tahan lama,” ujarnya.

Poin penting sebelum merias, ia perlu mengenali wajah jenazah sebelum di-make-up. Biasanya ia meminta foto almarhum semasa hidup. Langkah ini ia lakukan supaya hasil riasan sesuai dengan karakter wajah.

Tantangan terbesarnya ketika dihadapkan dengan kondisi wajah yang berubah, terutama orang yang meninggal karena penyakit, seperti jantung dan kanker. Rata-rata mereka cenderung bengkak dan kulitnya menghitam.

Pengalaman lain datang ketika ia menerima jenazah dengan kondisi hampir rusak, seperti korban kecelakaan. “Walaupun sudah diformalin, tapi darah keluar terus. Kami bantu keluarin darah sampai bersih. Pernah waktu itu kecelakaan mukanya hancur, hidung sobek, mulut mangap, mata melotot. Tapi kita punya trik untuk menembel itu,” imbuhnya.

Ver menambahkan umumnya menghabiskan 1 jam untuk merias. Apabila kondisi jenazah hampir rusak, maka bisa lebih lama lagi. Ia menjalankan amanah ini dengan tulus dan meyakini semua ‘kliennya' telah pergi dengan tenang menuju ke alam sana.

(ce1/fid/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up