alexametrics

Duka dan Doa untuk WNI yang Jadi Korban Penembakan di Christchurch

Almarhum Aktif dalam Berbagai Kegiatan Masjid
17 Maret 2019, 12:07:21 WIB

Ucapan belasungkawa dan doa mengalir kepada keluarga Lilik Abdul Hamid, korban meninggal dalam penembakan di Christchurch. Sedangkan di Padang, keluarga meminta pemerintah turut memfasilitasi rencana mereka menengok Zulfirman Syah ke Selandia Baru.

AGAS P.H., Jakarta – INDRA K,. Padang

Duka dan Doa untuk WNI yang Jadi Korban Penembakan di Christchurch
Infografis teroris Selandia Baru yang mengakibatkan juga WNI jadi korban tewas. (Kokoh Praba/JawaPos.com)

BEGITU kabar duka itu terdengar, Ibnu Sitompul langsung bergegas menuju kediaman Lilik Abdul Hamid. Untuk menyampaikan dukacita sekaligus membantu sebisa yang dapat dia lakukan.

“Saya lagi di rumah duka, lagi ngurus-ngurus,” kata mantan ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Selandia Baru itu kepada Jawa Pos melalui aplikasi WhatsApp.

Kemarin (16/3) KBRI Wellington mengonfirmasi bahwa Lilik menjadi salah seorang korban meninggal dalam serangan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, Jumat lalu (15/3). Pria 58 tahun itu menunaikan ibadah salat Jumat di Masjid Al Noor, satu di antara dua masjid yang diserang.

Ada enam WNI (warga negara Indonesia) yang sedang salat Jumat di sana saat serangan terjadi. Lima dipastikan selamat. Sedangkan Lilik (tertulis Muhammad Abdul Hamid dalam rilis KBRI Wellington sebelumnya) sempat tak diketahui keberadaannya. Sebelum dikonfirmasi telah meninggal kemarin.

Selain Al Noor, masjid lain yang diserang adalah Masjid Linwood. Di masjid tersebut, warga negara Indonesia lainnya, Zulfirman Syah dan anaknya, juga menjadi korban. Sang anak yang baru berusia 2 tahun, Omar Rois, sudah stabil. Zul yang sudah dioperasi, menurut pihak keluarga, juga telah pula stabil.

“Almarhum (Lilik) akan dimakamkan di sini,” kata Ibnu.

Di data akun Facebook pribadi, Lilik tertulis sebagai aircraft engineer di Air New Zealand, maskapai pelat merah Selandia Baru. Pria asal Medan, Sumatera Utara, itu juga tercatat pernah bekerja di PT AirFast Indonesia dan PT Mandala Airlines.

Jawa Pos berusaha menghubungi tiga kerabat dekat korban melalui mention maupun pesan langsung via Facebook. Namun, hingga tadi malam, pukul 23.00 WIB, belum ada tanggapan. Adapun Koordinator Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Wellington Rendy Ramanda mengonfirmasi meninggalnya Lilik pukul 16.40 WIB. Lilik adalah 1 di antara 41 korban meninggal di Masjid Al Noor.

“Almarhum merupakan seorang muslim yang taat dan aktif dalam berbagai kegiatan masjid di Al Noor,” terang Rendy kepada Jawa Pos melalui WhatsApp.

Mengenai masa tinggal dan hal detail lainnya, pihak KBRI Wellington belum memberikan komentar. Pukul 22.52 Jawa Pos berupaya menghubungi nomor hotline KBRI melalui Rendy dan Luth Anugraya. Namun, keduanya tidak menjawab.

Ucapan belasungkawa pun mengalir dari berbagai pihak. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, seperti dilansir dalam rilis resmi Kementerian Luar Negeri, telah menyampaikan belasungkawa langsung kepada istri almarhum, Nina Lilik Abdul Hamid, melalui sambungan telepon.

Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya bersama segenap masyarakat Indonesia di Christchurch juga telah mengunjungi kediaman keluarga almarhum. Untuk memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggal atas musibah tersebut.

Ucapan dukacita juga disampaikan Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan. “Saya ingin menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya warga negara Indonesia Bapak Lilik Abdul Hamid akibat serangan teroris yang mengerikan di Christchurch. Indonesia dan Australia berdiri bersama mengutuk kebencian dan intoleransi,” tulis Quinlan di Twitter.

Sementara itu, di Padang, Handra Yaspita, kakak Zul, memastikan bahwa kedua orang tua, Nasrul, 80, dan Yusni Nasrul, 75, sudah tahu kondisi sang anak. “Semula saya masih menyimpan informasi itu karena khawatir orang tua shock. Tapi, mereka akhirnya tahu juga,” kata pria 42 tahun itu kepada Padang Ekspres.

Handra menambahkan, Zul terakhir mudik ke Kampung Lapai, Padang, rumah orang tuanya, pada November 2018. Dia berpamitan mendampingi istri, Alta Marie, dan anak ke Selandia Baru. Keluarga tersebut akhirnya berangkat dari Jogjakarta ke Christchurch pada Januari lalu.

Mengenai kondisi terakhir Zul, berdasar informasi dari Alta Marie, sudah stabil tapi masih belum sadar setelah menjalani operasi pertama. “Sementara anaknya alhamdulillah sudah sadar. Keduanya masih dalam perawatan medis dan sudah menjalani operasi pertama,” ungkapnya.

Zul, pelukis alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu, menikah dengan Alta Marie yang berasal dari Amerika Serikat pada 2015 dan dikaruniai seorang anak, Omar Rois. “Di Christchurch, Zul dan anaknya memang kerap salat Jumat di Masjid Linwood. Karena memang itu tempat ibadah terdekat dari rumahnya,” ujar Handra.

Handra bersama perwakilan keluarga dari Padang berencana ke Selandia Baru untuk mengunjungi Zul beserta keluarga. Namun, waktunya belum bisa dipastikan.

“Rencananya saat ini kami melapor dulu kepada pemerintah RI bagaimana kami bisa mengunjungi keluarga kami di sana. Kami berharap pemerintah memfasilitasi kami menjenguk keluarga kami di Selandia Baru,” kata Handra.

Dia sudah mengontak KBRI Selandia Baru, tapi belum dihubungi lagi. Ada sejumlah pelajar Indonesia di Selandia Baru yang sudah dihubunginya dan minta agar bersedia membantu melihat kondisi dan mendampingi Zul beserta sang anak di sana.

Sementara itu, doa dan dukungan untuk Zul dan para korban lainnya terus mengalir. Dari berbagai kelompok masyarakat atau organisasi di penjuru tanah air. Salah satunya dari almamater Zul, ISI Jogjakarta, tadi malam (16/3).

Doa bersama dihelat mahasiswa dan segenap alumni lintas jurusan ISI Jogjakarta di Masjid Al Muhtar. Kegiatan tersebut ditujukan untuk kesembuhan Zul dan segenap umat Islam yang menjadi korban penembakan.

Umar Ali, alumnus ISI Jogjakarta, mengaku prihatin dengan tragedi di Christchurch. “Itu hal keji dan sudah seharusnya menjadi perhatian penting pemerintah Selandia Baru,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jogja.

Dia meminta pemerintah Indonesia turun tangan terhadap kejadian itu. “Paling tidak, pemerintah Indonesia membantu pembiayaan keberangkatan keluarga korban ke New Zealand untuk menjenguk.” 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (cr6/lyn/c10/ttg)

Copy Editor :

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Duka dan Doa untuk WNI yang Jadi Korban Penembakan di Christchurch