JawaPos Radar

Tradisi Ratusan Tahun Silam Yang Eksis

7 Ton Gula Disebar Cuma-Cuma Pada Kegiatan Baserak Gulo

17/02/2018, 09:58 WIB | Editor: Budi Warsito
7 Ton Gula Disebar Cuma-Cuma Pada Kegiatan Baserak Gulo
Ratusan warga berebut gula yang dilempar petugas dari atas atap Masjid saat prosesi serak gulo di depan Masjid Muhammadan yang berada di kawasan jalan Pasar Batipuh, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Jumat (16/2). (Riki Chandra/JawaPos.com)
Share this image

Masyarakat keturunan India yang memeluk agama Islam atau Himpunan Keluarga Muhammadan Padang, punya tradisi yang cukup unik menyambut tanggal 1 Jumadil Akhir tahun Hijriah.

Setiap tahunnya, mereka menggelar Baserak gulo (tabur gula) yang telah menjadi tradisi turun-temurun. Bahkan, kegiatan tersebut hanya dilakukan di tiga tempat di dunia. Masing-masing, Singapura, Padang dan Nagapatiman di India sebagai tempat asalnya.

Pukul 15.30 WIB, Jumat (16/2), puluhan warga berkumpul di depan Masjid Muhammadan yang berada di kawasan Jalan Pasar Batipuh, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Berangsur-angsur lokasi jalan yang hanya berukuran sekitar 3 meter kian disesaki pengunjung. Tidak saja warga yang berperawakan India. Namun, seluruh warga Padang dengan ragam suku tampak membanjiri lokasi tersebut.

7 Ton Gula Disebar Cuma-Cuma Pada Kegiatan Baserak Gulo
Tumpukan gula yang dibungkus dengan kain perca warna-warni sebelum di sebar pada ratusan warga, Jumat (16/2). (Riki Chandra/JawaPos.com)

Dari pantauan JawaPos.com, selepas Salat Ashar, kerumunan massa kian ramai. Mereka datang dari dua pintu masuk. Diperkirakan yang hadir mencapai ribuan orang. Halaman depan Masjid Muhammadan yang di apit bangunan-bangunan tua itupun penuh sesak. Untuk berjalan pun kian susah.

Kondisi terik Kota Padang yang panasnya mencapai 35 derajat celsius tak membuat mereka gentar. Warga yang hadir tetap saja berdesak-desakan menanti puncak tabur gula pasir yang akan di mulai.

Ramainya masyarakat yang datang, membuat penitia penyelenggara menyiagakan petugas pemadam kebakaran. Mereka menyemprotkan air ke udara hingga membasahi hampir seluruh pengunjung yang tak sabar menanti gula pasir gratis. Hal itu dilakukan agar masyarakat yang berdesakan kembali segar. Hiruk-pikuk dan tepukan tangan mengiring semprotan air.

Tak lama berselang, petugas yang telah dipersiapkan Himpunan Keluarga Muhammadan Padang terlihat sudah bersiap-siap. Mereka membawa gula-gula pasir yang dibungkus dengan kain perca beragam warna. Isinya pun bermacam-macam, ada yang hanya segenggam pria dewasa, ada juga yang ukuran berisi sekitar 500 gram.

Gula-gula berbungkus kain warna-warni itu akan dibagikan dengan cara melemparkan dari atas masjid dan dua panggung yang disediakan di sisi kiri dan kanan masjid. Namun ebelumnya, terlebih dulu dilakukan pemasangan bendera di sisi kiri dan kanan masjid.

Selain itu, panitia serak gulo juga membagikan air asam pada warga yang menghadiri tradisi tersebut. Setelah itu, dilakukan shalawat dan doa bersama. Lalu, sekitar 20 orang yang berdiri di atas atap masjid dan panggung tersebut mulai melemparkan gula tersebut pada ratusan yang sudah hampir dua jam menanti.

Tak sampai 20 menit, prosesi tabur gula pasir itupun berakhir. Ada yang kesal, ada yang tertawa. Sebagian lagi ada yang mengaku kesakitan tertimpa lemparan gula. "Jidad saya kena lemparan gula. Perih juga. Tapi, kan dapat gula dan bisa di bawa pulang," kata Syamsi, 43, yang mengaku tinggal di kawasan Simpang Haru, Kota Padang.

Ada juga Rianti,16, yang mengaku mendapat sebanyak 8 bungkusan gula. Namun, gula tersebut dikumpulkan bersama orangtuanya. "Mama dapat tiga, saya lima. Tahun lalu, kami juga ikut. Mudah-mudahan tahun depan dapat lebih banyak," katanya sembari berlalu.

Setelah membawa hasil tangkapan gulanya masing-masing, perlahan lokasi tersebut ditinggalkan warga. Ada yang menggotong gulanya dengan kantong plastik, ada pula dengan karung karena saking banyak mendapatkan gula.

 

Wujud Syukur, Sukarela Warga Muslim India

Ketua Himpunan Keluarga Muhammadan Padang Ali Khan Abu Bakar mengatakan, tradisi serak gulo adalah simbol rasa syukur umat muslim keturunan India atas rezeki yang telah diterimanya sepanjang tahun. Selain itu, juga untuk memperingati wafatnya Souhul Hamid, seorang penyebar agama Islam.

"Gula itu manis dan kita harus berbagi kemanisan pada sesama. Tradisi ini sudah menjadi kebudayaan kami yang telah ratusan tahun diperingati," katanya.

Tahun lalu terang Ali Khan, pihaknya membagikan sekitar 4 ton gula pasir. Namun, tahun ini jumlah meningkat. Diperkirakan antara 6 hingga 7 ton.

"Gula itu dikumpulkan dari berbagai daerah. Seperti Jambi, Bengkulu, Medan, Riau hingga pulau Jawa. Gula ini sukarela muslim India yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia," katanya.

Iskandar salah seorang akademisi Unand mengaku, pernah mengangkat tradisi Baserak gulo ini dalam penelitiannya. Menurutnya, tradisi tersebut sudah berjalan sekitar 200 tahun lalu. Atau saat etnis India mulai masuk ke Pesisir Barat Sumatera, tepatnya di kota Padang.

"Tradisi ini sudah melalui proses akulturasi budaya panjang bersama budaya setempat. Dengan kata lain, berada di Padang, mereka tetap tidak meninggalkan nilai-nilai yang dibawa langsung dari India," katanya.

Di India sendiri kata Iskandar, tradisi ini sudah berlangsung sebanyak 491 kali. "India juga dikenal dengan kuliner manisnya. Gula ini sebagai mediasi ungkapan rasa syukur pada Pencipta. Mereka bernazar, dan dengan nazar tersebut mereka bawa gula ke masjid," jelas Iskandar.

(rcc/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up