alexametrics

Kiprah dr Dini dalam Transplantasi Mata dengan Lamellar Keratoplasty

16 Desember 2019, 20:48:39 WIB

Dokter Dini Dharmawidiarini SpM (K) menjadi satu di antara enam dokter spesialis mata yang fokus melakukan transplantasi mata dengan teknik lamellar keratoplasty. Dini adalah satu-satunya dokter yang melakukannya di Surabaya.

KARTIKA SARI, Surabaya

PONSEL dr Dini Dharmawidiarini SpM (K) tak berhenti berdering seharian setelah kisahnya mengambil kornea mata pendonor bernama Iwan Santoso yang berasal dari Malang ditulis Dahlan Iskan di website pribadi. Sebab, di grup WhatsApp dokter yang dia ikuti, banyak yang tidak setuju dengan tulisan mantan menteri BUMN itu. Pada posting-an yang dirilis 11 Desember 2019 tersebut tertulis bahwa Dini mengambil kornea mata pendonor pertama di Jatim.

”Padahal, bukan seperti itu. Yang benar, itu pengalaman pertama saya mengambil kornea pendonor,” kata Dini saat ditemui Jawa Pos pada Jumat lalu Dia pun harus mengklarifikasinya di grup WhatsApp tersebut. Saat itu Dini merasa jadi selebriti sesaat. ”Selebriti itu kan banyak yang kena bully ya. Kemarin saya juga kena bully. Jadi begini ya rasanya jadi artis?’’ candanya.

Namun, berkat tulisan dari Dahlan Iskan, dia juga bersyukur. Sebab, banyak orang yang menghubunginya untuk mendonorkan kornea mata. Total, sudah ada sekitar sepuluh orang. Saat Jawa Pos menemui perempuan kelahiran Surabaya, 1 Agustus 1977 itu, di ponselnya masih saja ada yang mengirim pesan untuk menanyakan cara mendonorkan kornea mata.

”Selama ini belum banyak orang Indonesia yang mendonorkan korneanya. Pun belum banyak yang tahu syarat dan cara mendonornya,” ucapnya. Dia menjelaskan, untuk mentransplantasi kornea mata orang Indonesia, dirinya harus mendatangkan kornea dari luar negeri.

Dini mengungkapkan, banyak yang perlu diperhatikan agar bisa mendonorkan kornea mata. Yang pertama, saat masih hidup, pendonor mendaftarkannya pada Bank Mata Indonesia. Syarat kedua, tentu saja pendonor itu sudah meninggal. Sebab, ketika korneanya sudah diambil, seseorang tidak dapat melihat lagi.

Selanjutnya, penyebab meninggalnya harus jelas. ”Bila orang gila yang meninggal di jalan tidak diketahui penyebabnya, kornea matanya tidak boleh didonorkan,” tuturnya. Dia juga menyebutkan bahwa kornea mata harus diambil kurang dari enam jam setelah meninggal. Sementara itu, kornea mata tersebut juga harus cepat-cepat digunakan untuk tingkat keberhasilan yang lebih baik.

Saat dia mengambil kornea mata mendiang Iwan, berbagai hal berkecamuk di dalam hatinya. Rasa canggung meliputinya. Sebab, dia belum terbiasa mengambil kornea mata pendonor. Dibutuhkan mata yang jeli ketika mengambil selaput bening di mata. Sebab, bentuk benda tersebut lumayan kecil.

Yang dia pikirkan saat itu, meskipun proses tersebut sudah disetujui istri dan anak pendonor, bagaimana bila anggota keluarga yang lain tidak menyetujuinya? Dia hanya berharap semoga anggota keluarga yang lain bisa ikhlas.

Di RS Mata Undaan Surabaya, Dini terkenal sebagai dokter yang melakukan operasi mata dengan teknik lamellar keratoplasty. Yakni, operasi dengan mengganti bagian yang rusak dengan tetap mempertahankan jaringan yang masih sehat. Dia sering mengoperasi kornea mata yang rusak akibat operasi katarak, kecelakaan, atau cacat dari lahir.

Bagian kornea yang ditransplantasi hanya sebagian. Itulah alasan satu kornea mata bisa dipakai beberapa kali. Dini pernah menggunakan satu kornea mata untuk lima kali operasi.

Dini mengatakan, dokter spesialis mata yang fokus melakukan transplantasi mata dengan teknik lamellar keratoplasty sangat terbatas. Di Indonesia, hanya ada enam dokter, termasuk Dini. Lima di antaranya praktik di Jakarta. Hanya Dini yang praktik di Surabaya. ”Sehingga saya sering menjadi rujukan di wilayah Jawa Timur dan Indonesia Timur,” ujarnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c20/tia




Close Ads