JawaPos Radar | Iklan Jitu

Cerita Minggu

Para "Unsung Heroes" di Balik Kepadatan Libur Natal dan Tahun Baru

Butuh Konsentrasi Tinggi, Minim Istirahat

16 Desember 2018, 17:54:29 WIB
Para "Unsung Heroes" di Balik Kepadatan Libur Natal dan Tahun Baru
Di balik suksesnya pengakutan penumpang yang akan libur pada Natal dan Tahun Baru, terdapat sejumlah orang yang bekerja keras, seperti masinis. (Dery Ridwansah/Jawa Pos)
Share this

Mereka berperan krusial di moda transportasi masing-masing, dengan segala risiko dan pengorbanan.

FERLYNDA P., Jakarta- EKO HENDRI S. dan THORIQ, Surabaya

Para "Unsung Heroes" di Balik Kepadatan Libur Natal dan Tahun Baru
Keselamatan penumpang pesawat di bandara tidak kalah penting dibanding di udara. Orang-orang bertanggung jawab atas itu membutuhkan konsentrasi kerja. (Kris Samiaji/Sumatera Ekspres/Jawa Pos Group)

---

RIUH anak-anak kecil. Suara koper-koper besar yang diseret ibu-ibu. Dan, tangis serta pelukan kegembiraan para penjemput.

Keriangan khas stasiun. Terutama pada masa mudik atau liburan panjang seperti di periode jelang Natal dan tahun baru (nataru) seperti sekarang ini.

Pada semuanya itu Zulkipli selalu tak kuasa menahan haru. "Ternyata profesi saya bisa berguna bagi sesama," katanya.

Sudah 20 tahun Zulkipli menjadi masinis. Rutenya Jakarta-Cirebon atau Jakarta-Bandung. "Sudah lima tahun tak pernah merasakan Lebaran atau tahun baru di rumah," kata pria 43 tahun itu saat ditemui di Dipo Jatinegara, Jakarta, kemarin (15/12).

Tahun ini pun dia harus dinas. Sebab, setiap masa angkutan nataru atau mudik Lebaran, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memiliki program menambah kereta. Tentu agar lebih banyak masyarakat bisa yang ingin mudik atau liburan.

Banyak sekali orang seperti Zulkipli. Para "unsung heroes". Mereka punya peran vital di balik kepadatan arus penumpang menjelang Natal dan tahun baru. Dengan segala risiko dan pengorbanan. Tapi, tak banyak orang yang tahu atau menyadari keberadaan mereka.

Para unsung heroes itu ada di berbagai bagian di semua moda transportasi: darat, laut, udara. Di bandara, misalnya, ada tim di ground handling yang bertanggung jawab saat pesawat berada di darat. Di pelabuhan ada pengontrol lalu lintas kapal yang tak boleh sedikit pun kehilangan konsentrasi. Juga, operator radio yang, antara lain, bertugas memasok informasi kepada nakhoda.

Semuanya menuntut tak cuma energi, tapi konsentrasi tingkat tinggi. Tak terkecuali para masinis seperti Zulkipli. Jangan dikira karena kereta memiliki satu jalan atau jalur khusus, perjalanan bisa mudah. Semacam autopilot, lalu kereta jalan sendiri.

Masinis harus konsentrasi. Terutama untuk melihat rambu di sepanjang lintasan.

Yang membuatnya sedih, acap rambu tersebut terganggu. Entah karena ranting pohon atau aksi vandalisme. Menurut Zulkipli, setiap rambu memengaruhi aksi masinis. "Misalnya soal kecepatan," katanya.

Apalagi jika harus melewati lintasan tanpa palang pintu. Riski Setiawan, kolega Zulkipli sesama masinis, mengatakan bahwa di rute yang dirinya lalui, Jakarta-Cirebon, terutama di Indramayu dan Karawang, banyak sekali lintasan seperti itu.

"Jika ada yang tiba-tiba melintas, pasti kaget sekali. Deg-degan," ungkapnya.

Di bandara, tim ground handling terdiri atas banyak bagian dengan tugas masing-masing. Ada yang menangani bahan bakar pesawat, mesin, bagasi, hingga ruang penumpang. Semua bekerja bersamaan untuk satu tujuan: memastikan pesawat tidak bermasalah dan layak terbang.

Tiap bidang yang terdiri atas beberapa orang itu dipimpin satu orang. Dari masing-masing bidang tersebut, satu orang yang mengoordinasi. Tugas pimpinan bidang melaporkan kondisi pesawat terkini. Dan, setiap bidang memiliki standar waktu dalam melaksanakan tugas.

Keterlambatan bekerja akan memengaruhi jam penerbangan pesawat. Akibatnya delay. Penerbangan ditunda karena pesawat belum seluruhnya siap. "Waktu sangat berharga bagi kami," kata Operational Manager PT Gapura Angkasa I Gusti Ngurah Gede Wisudha.

Wisudha juga menegaskan bahwa tim di ground handling bertanggung jawab saat pesawat berada di darat. Layak dan tidaknya pesawat bergantung tim tersebut. Tanggung jawab berpindah ke pilot setelah pesawat berada di udara.

"Keselamatan penerbangan juga bagian dari tanggung jawab kami," ungkap Wisudha.

Pekerjaan tim di ground handling bertekanan tinggi. Jarang ada waktu untuk beristirahat. Setiap beberapa menit, ada pesawat datang. Setiap beberapa menit pula, ada pesawat yang lepas landas. "Kami sudah biasa," ujar Wisudha.

Dia mengungkapkan, tekanan itu semakin tinggi saat momen-momen tertentu. Misalnya, Lebaran serta libur Natal dan tahun baru. Jam kerja tinggi, libur terbatas.

Di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Mustomo juga harus membuang jauh-jauh kenginan menikmati libur Natal dan tahun baru bersama keluarga. Bersama tim, pria yang menjabat koordinator telekomunikasi pelayaran (telkompel) Distrik Navigasi Kelas I Surabaya itu harus memelototi layar monitor, pergerakan kapal, dan berkomunikasi dengan nakhoda.

"Kami harus memastikan tidak ada kapal yang parkir di jalur pelayaran dan menghambat laju angkutan. Tentunya, kami tak ingin disalahkan saat ada tabrakan," kata Mustomo yang ditemui Jumat lalu (13/12).

Mustomo sempat mengenalkan seluk-beluk menara vessel traffic service (VTS) yang berdiri di kawasan Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak Surabaya kepada Jawa Pos. Mustomo bisa dibilang sebagai kepala menara. Dia membawahkan sembilan stasiun radio pantai dan VTS di Pelabuhan Tanjung Perak. Anak buahnya lebih dari 20 orang. Mereka bekerja secara bergantian.

"Tugas utama operator VTS sebenarnya memantau. Cara kerjanya seperti ATC di bandara," kata Mustomo yang pada Mei 2019 pensiun itu.

Di pelabuhan yang sama, Anisa Adhitama dan 17 operator lain harus bekerja secara bergantian. Tugas mereka tidak hanya memonitor kapal masuk dan keluar. Operator radio harus stand by dan mengarahkan pandu dalam bekerja.

Operator radio juga bertugas memberikan informasi yang dibutuhkan nakhoda. Saat terjadi penumpukan di dermaga, operator harus mengabarkan kepada nakhoda dan mengarahkan untuk parkir.

Icha satu-satunya operator radio perempuan di Pelabuhan Tanjung Perak. Tak heran, alumnus SMKN I Buduran itu jadi primadona di tempatnya bekerja. "Pastinya, sering digoda petugas pandu. Jika terlalu ngelantur, saya tegur saja," kata Icha, lantas tertawa. 

Editor           : Ilham Safutra
Reporter      : (*/c10/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up