JawaPos Radar

Akhir Penantian Ratusan Tahun Kemunculan Burung Simbol Minahasa

16/12/2017, 17:52 WIB | Editor: Miftakhul F.S
Celepuk Siua
HEWAN LANGKA: Manguni Siau di tangan sang penemu, Rahul Sidik, di Pasar Ampera, Siau Timur, Sulawesi Selatan. (Don Papuling/MANADO POST/JPG)
Share this image

Manguni jadi simbol kabupaten, gereja, dan nama ormas. Tapi, tak seorang pun pernah melihatnya selama 1,5 abad. Spesimen tunggalnya tersimpan di museum di Belanda.

DON PAPULING, Ondong Siau

CIRI-CIRI fisik burung di tangan Buyung Mangangue itu memang mengarah ke si langka yang selama ini dicari. Tinggi badannya hanya 10 sentimeter. Sedangkan panjang rentang sayapnya tiga kali lipat.

Tapi, Buyung, anggota Ekspedisi Manguni, kelompok yang sudah bertahun-tahun meneliti burung langka tersebut, tetap tak mau berspekulasi. Sayap direntangkan lagi. Ditemukanlah corak berbelang.

Burung seukuran segenggam tangan orang dewasa tersebut juga punya kumis. Ketika direkam, ia juga menghasilkan suara seperti kucing dan sesekali mirip jangkrik. Barulah Buyung yakin: itu celepuk siau. Atau di Minahasa, Sulawesi Utara, biasa dikenal sebagai manguni.

’’Kami melakukan pencarian bersama Perkumpulan Celebes Biodiversity. Namun, sudah dua tahun penelitian tidak membuahkan hasil. Tim putus asa dan hampir mengambil kesimpulan bahwa celepuk siau telah punah,’’ ucapnya kepada Manado Post (Jawa Pos Group) yang ikut menemaninya memastikan ciri-ciri burung tersebut.

Penantian terhadap kemunculan bahkan jauh lebih panjang ketimbang durasi penelitian Celebes Biodiversity. Tootosik, sebutan lain untuk burung yang secara sederhana juga biasa disebut burung hantu itu, sudah lebih dari 1,5 abad belum pernah dilihat secara hidup. Atau sejak ia kali pertama ditemukan pada 1866.

Menurut Marthin Makarunggala, satu-satunya informasi mengenai manguni siau hanya berasal dari spesimen tunggal yang dikoleksi pada 1866 oleh Duyvenbode dari Belanda. ’’Spesimen ini diterbitkan Shclegel pada tahun 1873 sebagai Scops siaoensis,’’ jelas ketua Perkumpulan Celebes Biodiversity yang meneliti hewan endemik khas Sulawesi itu.

Saat ini spesimen tersebut berada di RMNH (Rijkmuseum van Natuurlijke Historie), Leiden, Belanda. Dilengkapi keterangan lokasi tempat spesimen tersebut diambil, yaitu Siao-Oudang. Di antara Celebes (Sulawesi) dan Sangi (Kepulauan Sangihe-Talaud). Siau memang merujuk pada nama pulau di wilayah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara.

’’Namun, tidak ada keterangan yang jelas tentang cara hidup, berkembang biak, dan ancaman kepunahan,’’ terang Marthin.

Jadilah di Minahasa, manguni siau hidup di antara realitas dan mitos. Diyakini ada, bahkan dianggap suci, tapi belum ada yang pernah melihatnya secara langsung. Padahal, manguni juga jadi simbol Kabupaten Minahasa.

Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa menjadikannya pula sebagai lambang. Sebuah ormas di Sulawesi Utara juga menyebut diri mereka Brigade Manguni. Begitu populernya, tapi tak seorang pun pernah melihatnya selama ratusan tahun.

Jadi, tak mengherankan ketika Rahul Sidik, seorang pemilik warung di Pasar Ampera Ulu Siau, melihat seekor burung cokelat dengan mata tajam yang hinggap di warungnya pada suatu malam beberapa waktu lalu, dia juga tak yakin itu manguni. Penasaran, Rahul pun menangkap dan mengikatnya. Untuk memastikannya, dia pun mengontak Buyung.

Buyung juga berhati-hati benar saat ditanya Rahul apakah burung tersebut memang manguni. Bahkan, seandainya saat itu dia yakin, Buyung mengaku akan memilih merahasiakannya. Sebab, dia khawatir Rahul tak akan menyerahkannya untuk diteliti. Sebab, di Minahasa, siapa pun tahu, betapa langkanya burung tersebut. Dan, langka otomatis bersinonim dengan sangat berharga. Tapi, untung Rahul bersedia memberikan si cokelat bermata tajam itu kepada Buyung.

Mengutip situs Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (P4MRI) Universitas Negeri Manado, manguni dipilih sebagai simbol Minahasa didasarkan pada kepercayaan turun-temurun. Burung tersebut diyakini sebagai salah satu ciptaan Opo Empung Wananatas atau roh paling atas yang menguasai langit dan bumi.

Manguni berasal dari ’’mauni’’ yang dalam bahasa setempat berarti ’’mengamati’’. Diberi nama demikian karena manguni bertugas berjaga saat malam. Tak boleh tidur. Demi keselamatan anak-cucu Toar-Lumimuut alias nenek moyang warga Minahasa.

Ada tiga jenis celepuk di Sulawesi. Celepuk siau, celepuk sangihe, dan celepuk sulawesi. Berdasar data di RMNH, celepuk siau diketahui hanya hidup terbatas di Pulau Siau. Dan, mungkin juga di pulau kecil sekitarnya. ’’Namun, pencarian yang dilakukan sejak 1998 hingga sekarang belum berhasil mencatat perjumpaan terhadap spesies ini,’’ ujar Marthin.

Berdasar hasil survei pada 2012 yang dilakukan Birdlife International 2012, jumlah celepuk siau saat ini diperkirakan hanya tersisa 50 ekor. Buyung malah menduga jumlahnya lebih sedikit lagi: sekitar 20 ekor saja.

Kemisteriusannya bahkan sampai mengundang ketertarikan sejumlah peneliti asing. Di antaranya dari Belanda dan Jerman. ’’Burung ini masuk sebagai spesies kritis yang terancam punah,’’ tuturnya.

Masyarakat Siau mengenal burung endemik itu dengan istilah momeong yang berarti menyerupai kucing. Tapi, sama sekali tak ada dokumentasi visual maupun tertulis tentangnya. ’’Jadi, tak satu pun masyarakat yang bisa mendeskripsikannya,’’ ungkap Marthin.

Kini penantian sangat panjang terhadap kemunculan manguni itu telah berakhir. Buyung, setelah dua jam melakukan penetian awal, telah mendata, memotret, dan merekam si burung cokelat dengan mata tajam tersebut. Sebelum kemudian melepasnya. ’’Saya tak mau ada oknum tak bertanggung jawab yang mengambil paksa hewan langka itu,’’ tegasnya.

Di luar sana, ia akan tetap jadi si misterius. Menantang siapa saja untuk meneliti. Dan, yang pasti akan lebih aman.

(ctr-01/don/can/JPG/c5/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up