alexametrics

Menikmati Welling Coffee di Pinggiran Sungai Loji

16 September 2019, 17:16:44 WIB

JawaPos.com – Ada yang beda saat kita melintas di Kompleks Jatayu (Kompleks bangunan kuno di Kota Pekalongan), tepatnya di pinggir sungai Loji yang menghitam. Suasana Kota Pekalongan cukup panas terik saat itu, sekilas mata tertuju pada gerobak kopi yang berbeda dengan gerobak penjual kopi kaki lima biasanya.

Hanafi Radar Semarang

‘Welling Coffee, Kopi lokal Pekalongan’, tertulis tegas di salah satu sudut gerobak kayu. Gerobak dipenuhi dengan peralatan meracik minuman kopi yang komplit semakin mempertegas keunikan Welleng Coffe dari sekitarnya.

Motor saya parkir, tidak jauh dari gerobak, saya pilih tempat yang teduh agar nyaman. “Monggo mas, mau kopi apa. Saya sedianya kopi lokal,” sapa Lutfiyadi alis welling, pemilik gerobak coofe shop ramah.

Beberapa kursi dan meja plastic sederhana, sudah disediakan di pinggir sungai Loji. Akhirnya kopi Robusta asal Pekalongan jadi pilihan.

Walaupun hanya Cafe jalanan yang disajikan di sebuah gerobak,  bahan kopi lokal diperlakukannya seperti barista profesional pada umumnya dengan  menyeduhkan  kopi yang unik dan memikat.

Dengan sigap, tangan trampil Welling menakar bubuk kopi diatas timbagan elektronik, setelah di bawahnya ditaruh paper filter. Setelah cukup sesuai takaran, tangan kannya mengambil air mendidih dari atas kompor. Di pindah di alat seduh khusus, setelah sesuai suhu yang diinginkan (sambal melirik thermometer). Pria asli Pekalongan ini mulai menyeduh air diatsa paper filter dengan berlahan. Cairan hitam pekat, berlahan menetes menuju cangkir kaca dibawahnya. Lambat laun semakin penuh dengan minuman kopi.

Aromanya luar biasa saat kopi disajikan. Jika dibandingkan dengan rasa kopi yang dibeli di cafe-cafe kopi terkenal rasanya tidak jauh beda.

Dikopi Welling akan menemukan satu hal yang aneh dari biasanya. Tidak akan ada senja disini, cafe kopi gerobak hanya buka dari pagi sampai sore, sangat berbeda dengan aturan pemilik tempat kopi pada umumnya. Ya, tapi inilah asyiknya ngopi, dengan suasana yang baru. “Saya memang kepingin jualan kopi pakai gerobak, karena beluk ada modal tempat,” sambut nya bercerita saat saya tanya.

Namun sejak awal, Lutfi memang ingin jualan kopi orisinil, sehingga di kedai nya tidak menjual kopi gunting atau kopi buatan pabrik. Seperti merek-merek pada umumnya. Walaupun saya menyediakan beberapa minuman produksi pabrik tapi jualan utama saya tetap kopi dan berbagai macam variannya, termasuk teh asli Pekalongan.

Sedikit dikorek kisahnya, Lutfiadi atau biasa dipanggil Weling, sesuai nama cafe gerobak nya. Ternyata sudah memulai bisnis kopi jalanan ini sejak 2 tahun yang lalu. Sebenarnya sebelum dia berbisnis kopi dia sudah kerja yang nyaman di suatu perusahaan tertentu yang membidangi jual beli peralatan rumah tangga.

Namun karena sering belajar menyeduh kopi dengan banyak barista, dia ingin memujudkan hobinya yang suka kopi, dengan bisnis kopi jalanan seperti sekarang.

Bermodal tekad hanya uang Rp 7 juta, dia gunakan untuk membuat gerobak kopinya sendiri serta belanja berbagai macam kebutuhan alat kopi, dari pemanasan, penimbang kopi, berbagai macam toples khas cafe kopi dan alat-alat kopi yang lain standar Cafe besar.

“Untuk biji kopi saya pilih yang sudah di-roasting. Karena tidak punya alat roasting sendiri,” ucapnya.

Yang unik dari Cafe gerobak nya, dia berani pakai kopi lokal khas Pekalongan dan Batang. Hal ini memang menjadi keinginan dulu ingin memperkenalkan bawah kopi lokal Batang Pekalongan itu memang bagus dan enak tidak kalah dengan kopi kopi lokal dari daerah lain

Namun harganya Jangan tanya harga yang dijual 5 kali lebih murah dari harga cafe kopi yang pada umumnya.

Dan ternyata penggemar kopi Welling bukan kalangan biasa, tetapi banyak juga kalangan pebisnis muda yang ingin ngopi di pinggir jalan di sisi sungan Loji.

Penggemar kopi saya rata-rata pekerja di sekitar Jatayu atau kota kota Pekalongan yang sengaja datang ke sini minuman favorit mereka adalah Cappucino kopi susu tapi ada juga yang sering pesen Black Coffee dengan disajikan V 60 atau kopi tubruk.

“Sungai ini hanya sebulan sekali airnya bening ketika bulan 12,” celetuk Salah satu pedagang buah yang ikut nimbrung.

Bulan 12 memang identik dengan musim penghujan yang sangat deras. Namun juga sering terjadi penurunan ekonomi warganya, sehingga intensitas pembuat batik juga menurun. Limbah batin ke sungai juga berkurang. Sehingga sungai Loji tidak sepekat saat ini. Sruputan terlahir kopi robusta bercampur dengan aroma pekat sedikit bau dari sungai Loji menutup siang itu.

Editor : Mohamad Nur Asikin



Close Ads