Merdeka dari Ketergantungan Asing

Oleh ANTONIUS BENNY SUSETYO *)
16 Agustus 2022, 19:48:31 WIB

EUFORIA atau semangat peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-77 tahun masih tetap dirasakan oleh segenap masyarakat Indonesia walaupun di tengah situasi pandemi tahun ini. Sudah 77 tahun kita merdeka sebagai bangsa, menghadapi persoalan paling mendasar. Yakni bagaimana bangsa bisa keluar dari tantangan global: krisis ekonomi akibat pandemi korona. Tema besar yang diusung tahun ini adalah ”Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat”. Hal itu tertuang dalam Surat Edaran Menteri Sekretaris Negara Nomor B-620/M/S/TU.00.04/07/2022 yang dikeluarkan pada tanggal 12 Juli 2022.

Peringatan 77 tahun kemerdekaan menjadi refleksi bangsa ini untuk mewujudkan cita-cita proklamasi. Yakni kedaulatan di segala bidang, khususnya bagaimana mengolah pangan dan sumber ekonomi yang kita miliki. Pada dasarnya, kedaulatan pangan lebih berfokus pada hak negara yang bisa secara mandiri menentukan kebijakan dan menjamin terpenuhinya pangan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Tentunya disesuaikan dengan kondisi bangsa yang sedang dialami saat ini. Termasuk pada masa pandemi korona seperti yang sedang terjadi. Dengan kata lain, kedaulatan pangan merupakan salah satu bentuk dari kemerdekaan bangsa demi terwujudnya kesejahteraan bangsa.

Sudah 77 tahun kita merdeka. Namun, kita belum juga paham memaknai arti berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri. Sampai saat ini kita tidak menyadari bahwa ketergantungan tersebut yang membuat bangsa kita tidak juga mampu menyejahterakan rakyatnya. Orientasi pembangunan yang selalu dibiayai dengan utang dan tingginya ketergantungan hanya akan membatasi keberpihakan pemerintah terhadap rakyatnya. Karena kekuasaan ada pada si empunya uang, pelan tapi pasti, kedaulatan negara dibikin runtuh oleh titah si empunya uang.

Mengapa kita sulit berpikir jujur bahwa bangsa ini memiliki potensi yang begitu luar biasa. Kita sejatinya bisa hidup mandiri tanpa melulu bergantung pada kekuatan asing. Kita bisa mengembangkan sumber daya alam yang kita miliki sehingga sungguh-sungguh bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat semesta. Indonesia masih mempunyai sumber daya alam yang bisa digunakan untuk menjalankan pembangunannya, yang sejauh ini belum optimal dipergunakan untuk sepenuhnya bagi kepentingan rakyat. Dalam kehidupan bermasyarakat, visi kepala daerah yang memiliki kemampuan untuk mengapitalisasi produk lokal dan potensi daerah amat dibutuhkan untuk menciptakan kemandirian ekonomi lokal.

Negeri kita punya sumber daya alam di seluruh kepulauan Nusantara. Negeri kita juga punya sumber daya energi alternatif yang melimpah. Negeri ini membutuhkan pemimpin yang berani keluar dari lingkaran setan ketergantungan asing dan kembali mengukuhkan kemandirian. Pemimpin itu mampu menggerakkan potensi rakyat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki bangsa ini. Pemimpin yang cerdas dan kritis, yang mampu berpikir dan berbuat nyata melepaskan bangsa dari ketergantungan untuk menjadi mandiri.

Keberanian keluar lingkaran, kepedulian terhadap kepentingan sempit dan politik bagi hasil, adalah kunci adanya harapan bangsa ini agar mampu menjadi bangsa besar dan memiliki peradaban. Kunci satu kalau pemimpin mempunyai visi dan misi yang jelas dalam menata keadaban publik dan keluar kepentingan politik bagi hasil.

Dengan hal sederhana sudah dapat kita lakukan untuk mengantisipasi krisis ketahanan pangan ini. Namun, yang terpenting, kini kesadaran tersebut perlu dibangun kembali dengan pendasaran pada kesadaran baru.

Bangsa Indonesia memiliki modal sosial dan budaya yang sangat kuat untuk menggerakkan kesadaran bersama. Hal sederhana seperti mengolah tanah kosong dan pekarangan untuk ditanami sayuran, ubi, cabai, atau tomat bisa dijadikan salah satu cara untuk mengantisipasi krisis ketahanan pangan yang mungkin terjadi. Aksi gerakan menanam ini juga mudah dilakukan cukup dengan memanfaatkan bahan bekas seperti botol bekas, kaleng, dan dipadukan dengan sistem hidroponik.

Gerakan merupakan wujud dari aktualisasi. Dalam hal ini dari momentum pilkada yang akan dilaksanakan, kita berharap para calon kepala daerah mampu memberikan pemikiran dan strategi yang mampu mengolah potensi lokal. Dan bahkan dapat menggali lebih dalam potensi-potensi besar yang belum digali di masyarakat. Kemerdekaan ini adalah momentum untuk menggerakkan potensi yang kita miliki untuk mengolah sumber daya alam dan kekayaan hayati. Dengan kekuatan lokal secara swadaya.

Namun, ada tantangan tidak mudah di era sekarang ini. Mulai digitalisasi, tanpa batas, dan permasalahan geopolitik dunia. Termasuk resesi akibat konflik Rusia-Ukraina dan Tiongkok-Taiwan yang dapat menyebabkan krisis pangan, energi, dan lainnya. Tantangan lainnya adalah persepsi yang dapat memecah belah masyarakat di era digital ini.

Momen perayaan 77 tahun kemerdekaan Republik Indonesia ini dapat dilakukan dengan mengembalikan Pancasila sebagai roh pengambilan kebijakan bagi negara dan bangsa. Menciptakan spirit Indonesia tangguh dan mempercepat pemulihan krisis pascapandemi Covid-19 dan resesi ekonomi global yang menghancurkan banyak negara di dunia.

Mengembalikan Pancasila

Pancasila dikembalikan menjadi ideologi: living ideology dan working ideology. Living berarti Pancasila dihidupi dari masyarakat yang bersumber dari budaya dan kearifan lokal. Working memiliki arti Pancasila menjadi arah kebijakan dan pusat pikiran serta kerja masyarakat, pemerintah, elite politik, dan partai politik di Indonesia.

Bung Karno memformulasikan konsep Trisakti, yakni: Berdaulat dalam politik, Berdikari dalam ekonomi, dan Berkepribadian dalam kebudayaan, sebagai bentuk revolusi suatu bangsa. Pancasila harus menjadi modal dan dasar dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dan hal itu dapat dilakukan dengan mengembalikan Pancasila sebagai ideologi yang dianut secara penuh oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Kembalikan Pancasila sebagai ideologi. Mari koyakkan hati kita agar meninggalkan mentalitas serakah, korup, mau mencari muka; putuskan tali kekerasan; dan tinggikan martabat manusia sebagai ciptaan-Nya sebagai wujud menjadikan Sang Khalik sebagai Tuhan. Ini adalah kewajiban. Jadi manusia merdeka, memiliki kedaulatan, dan rela berkorban demi kepentingan umum.

Usia 77 tahun kita merdeka memberikan arah bagi masa depan bangsa dengan menjadikan Pancasila sebagai ideologi kerja dalam praksis kebijakan. Demi terwujudnya Indonesia merdeka yang mampu mengaktualisasi Trisakti Bung Karno. (*)


*) ANTONIUS BENNY SUSETYO, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: