alexametrics

Ady dan Hadi, Alumnus ITS yang Susuri Jalur Jalan Raya Pos Daendels

16 Juni 2022, 07:48:54 WIB

Tiga abad jalan raya pos atau yang kerap dikenal jalan pantura eksis hingga saat ini. Jalan sepanjang 1.000 kilometer itu merekam banyak peristiwa. Hadi Saputro dan Ady Setyawan menjejaki segala perubahannya.

AZAMI RAMADHAN, Surabaya

BUTUH 15 hari bagi Ady Setyawan dan Hadi Saputro menuntaskan kurang lebih 1.000 kilometer. Dari ujung barat menuju timur Pulau Jawa. Dengan mengendarai sepeda motor, alumni ITS angkatan 2001 dan 1998 itu menyusuri kota-kota dari Anyer, Banten, menuju Panarukan, Jawa Timur.

Perjalanan mereka tak melulu terkait meniti jarak saja. Lebih dari itu, keduanya ingin merawat ingatan kolektif tentang peristiwa penting pada jalan itu sepanjang tiga abad silam. Bagaimanapun, jalan tersebut menjadi saksi bisu tentang cucuran darah, air mata, dan keringat warga Indonesia.

Berdasar catatan Pramoedya Ananta Toer, jumlah korban jiwa selama pembangunan jalan raya pos yang dimulai 8 Mei 1808 itu mencapai 12 ribu orang. ’’Sejak dapat dipergunakan pada 1809, jalan tersebut menjadi infrastruktur penting, dan untuk selamanya,” tulis Pramoedya dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.

Bagi Ady Setyawan, perjalanan yang dilakukannya sejak 25 Mei itu tak semata-mata soal sejarah. Tapi juga soal apa saja yang hilang dan tetap ada. ’’Termasuk saksi bisu jalan depan Grahadi ini atau Gubernur Suryo ya. Ini ada juga karena Herman Willem Daendels, gubernur jenderal pada masa itu,’’ kata Ady saat perjalanannya memasuki hari ke-12.

Bagi dia, seluruh perjalanan melintasi puluhan kota itu mengisahkan banyak peristiwa dan menyimpan kesan tersendiri. Misalnya, di Surabaya. Ady menyebutkan, berdasar Life in Java: With Sketches of the Javanese, William Barrington D’Almeida menuliskan bahwa jalan depan Grahadi itu milik seorang pengusaha Tionghoa.

Saat itu luas tanah milik pengusaha tersebut mulai Gedung Grahadi hingga rumah sakit simpang atau saat ini Monumen Kapal Selam. Nah, tanah tersebut dimiliki satu orang saja.

Lebih terperinci, William Barrington menuliskan bahwa pengusaha itu dipaksa menjual lahannya kepada Belanda.

Lantaran sang pemilik menolak, gubernur Belanda murka. Pengusaha Tionghoa tersebut ditimpuk dua keping uang gobang dan seluruh lahannya akan disita Belanda. ’’Sempat terjadi perselisihan. Akhirnya orang Belanda itu menghargai tanah tersebut dengan dua keping uang dan satu kepala pemiliknya,’’ ungkapnya.

Ada satu hal yang membuatnya menarik dan berkesan bagi Ady dan Hadi saat perjalanan itu. Yakni, saat berhenti di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kecamatan itu merupakan satu kawasan yang dilewati jalan raya pos. Di sana, Ady menemukan hal yang berbeda untuk merekam ingatan soal Herman Willem Daendels atau yang biasa disapa Mas Galak.

Warga setempat tidak membuat patung Daendels seperti di Cadar Pangeran. ’’Tapi, merekam kekejaman Daendels saat membangun jalan itu berupa motif untuk baju batik. Namanya batik kricak,’’ ungkapnya.

Bentuk motifnya batu-batu kecil. Itu menggambarkan bahwa nenek moyang warga Lasem dituntut memecah batu untuk dibuat jalan.

Di Lasem, Ady juga bertemu dengan beberapa keluarga dan keturunan pasukan Pangeran Diponegoro. Di halaman rumahnya terlihat dua pohon sawo dan satu sumur di sisi kanan. ’’Ini catatan lagi. Dua pohon sawo secara makna sawwu sufufakum. Rapatkan barisan,’’ terangnya.

Sedikit banyak jalan tersebut telah berganti situasi. Contohnya, Jalan Raya Pos Daendels di Alas Roban yang terletak di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Jalan yang asli, kata dia, berjarak kurang lebih 400 meter dari jalan yang digunakan sehari-hari.

’’Tapi, yang kami lewati itu beda. Vegetasi padat. Tanpa penanda apa pun. Ada satu saja, tugu dengan tulisan aksara Jawa. Eh, ternyata baru-baru ini dibuat,’’ ujar Ady, lantas terbahak.

Termasuk jalan di Paiton, Probolinggo. Jalan asli yang dibuat Daendels itu masuk kawasan PLTU Paiton.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads