JawaPos Radar | Iklan Jitu

Cerita Ketika Warga Larantuka Merayakan Ritual Semana Santa

16 April 2017, 15:32:08 WIB | Editor: Miftakhul F.S
Cerita Ketika Warga Larantuka Merayakan Ritual Semana Santa
SEMARAK: Arak-arakan Semana Santa pada Jumat Agung, Jumat (14/4). Tradisi setiap Paskah itu sudah berlangsung ratusan tahun di Larantuka. (Ghofuur Eka/Jawa Pos)
Share this

Selain panorama yang menakjubkan, Larantuka memiliki tradisi yang berlangsung sejak abad ke-15, yakni Semana Santa. Tradisi yang dibawa bangsa Portugis itu membuat semarak kota kecil di Nusa Tenggara Timur tersebut pada setiap Paskah.

FERLYNDA PUTRI, Larantuka

HALAMAN rumah Mundi Riberu, 57, berbeda dari biasanya. Ada meja yang kanan kirinya dihiasi bunga dari plastik. Di tengahnya diletakkan patung Bunda Maria dan tiga lilin yang menyala di dalam gelas merah. Di depan meja, 12 lilin berukuran sekitar 20 sentimeter menyala membentuk salib. Sekelilingnya ditaburi bunga-bunga hidup.

Tetangga samping rumah Mundi juga memiliki hiasan yang hampir sama di depan rumahnya. Warga Larantuka –khususnya yang beragama Katolik– memang seolah ’’berlomba’’ menghias halaman rumah masing-masing dengan pernak-pernik Paskah. Selain lilin yang dinyalakan saat malam, patung Bunda Maria dan Yesus Kristus tidak lupa dipasang di tengahnya. Atau, paling tidak, warga memajang foto atau lukisan Yesus dan Bunda Maria.

”Ini untuk menyambut patung Tuan Ma (patung Bunda Maria, Red) dan Tuan Ana (patung Yesus, Red) yang akan lewat di depan rumah,” ucap Raufina Kori, istri Mundi, Jumat malam (14/4).

Perempuan 55 tahun itu juga menyiapkan air mineral bergalon-galon untuk para peziarah yang kehausan mengarak Tuan Ma dan Tuan Ana. ”Kami juga sudah siapkan toilet bagi yang ingin buang air kecil,” tuturnya. 

Tradisi itu sudah berlangsung ratusan tahun silam di Larantuka. Setiap keluarga di kota itu berlomba menyiapkan kebutuhan peziarah. Jadi, peziarah tak perlu khawatir jika haus atau merasa ingin buang air.

”Siang tadi ada pemuda Islam yang ikut membersihkan jalan. Mereka ikut menyapu,” cerita Raufina.

Solidaritas antarumat beragama di Larantuka itu terjalin dengan baik. Menurut Raufina, sebelum prosesi Semana Santa, pemuda Katolik dengan pemuda Islam bertemu. Mereka membicarakan apa saja yang bisa dikerjakan bersama. Sebab, Semana Santa bukan hanya bagian ritual Paskah, tapi kini juga menjadi komoditas wisata. Beberapa peziarah memang hanya ingin menikmati prosesi yang sudah menjadi budaya tersebut.

Jumat lalu memang menjadi hari tersibuk bagi masyarakat Larantuka dalam perayaan Paskah. Ritual pada Jumat Agung itu diawali dengan penutupan Adorasi Sakramen Mahakudus di Katedral Reinha Rosari Larantuka. Saat itu sudah tidak ada lagi musik-musik di gereja. Semua doa tidak diiringi dengan musik. Baju para jemaat juga dianjurkan berwarna hitam.

Siangnya di Kapel Tuan Menino dilangsungkan prosesi laut. Puluhan kapal mengantar Tuan Menino atau bayi Yesus ke Pantai Kuce. Warga berjejer di tepi pantai untuk menyambut Tuan Menino.

”Kalau kapal Tuan Menino datang, kita tidak boleh duduk dan memakai penutup kepala. Ini untuk menghormati beliau,” tutur Don Andre III Marthinus DVG, raja Larantuka.

Selanjutnya, para peziarah mengantar patung Tuan Ma dan Tuan Ana ke Katedral Reinha Rosari Larantuka. Prosesi arak-arakan malam akan dimulai dari gereja tersebut.

Namun, sebelum itu, sorenya, peziarah biasanya mengunjungi makam leluhur. Saat itulah tempat pemakaman dihiasi lilin-lilin yang dinyalakan di atas pusara. Tidak lupa, aneka bunga ditaburkan di sekitarnya.

”Sebelum arak-arakan, ada upacara lamentasi Jumat Agung,” jelas Donthinus, sapaan sang raja.

Patung Tuan Ma dan Tuan Ana diletakkan di dekat altar. Saat itulah para peziarah berdoa. Seluruh jemaat memakai baju hitam. Tangan mereka membawa lilin yang belum dinyalakan. Nyanyian lamentasi pun berkumandang. Begitu sedih dan menyayat.

Selesai upacara, sekitar pukul 20.00, arak-arakan keliling kota pun dimulai.

Peziarah dibagi di bagian depan dan belakang. Di tengah ada Tuan Ana yang petinya dipikul empat Lakademu. Lakademu merupakan orang khusus yang identitasnya dirahasiakan. Yang tahu hanya raja dan beberapa orang panitia yang ikut menyeleksi.

Di depan rombongan Tuan Ana ada rombongan para pastur yang membopong patung Yesus disalib. Tidak ketinggalan rombongan Eus dan Ovos, orang-orang yang memiliki tugas untuk bernyanyi sepanjang perjalanan.

Di belakang rombongan Tuan Ana terdapat rombongan pembawa lilin. Di belakangnya lagi ada para Confreria Reinha Rosari, persekutuan awam (nonbiarawan). Mereka dengan semangat bernyanyi. Tuan Ma yang dipikul empat orang Lakademu tampak menjulang di antara arak-arakan. Di belakang Tuan Ma ada keluarga Raja Donthinus yang membawa tongkat yang ujungnya terdapat salib.

Masyarakat Larantuka memiliki kedekatan khusus dengan Tuan Ma (Bunda Maria). ”Cerita mengenai ditemukannya patung Tuan Ma memang membentuk religiusitas dalam masyarakat di sini,” ujar Cyprian P. Lamury, tokoh masyarakat Larantuka.

Patung Tuan Ma konon ditemukan sekitar tahun 1500. Waktu itu Kerajaan Larantuka masih meyakini keberadaan dewa. Patung Tuan Ma ditemukan seorang pemuda yang awalnya mendengar perempuan sedang bersenandung di pinggir pantai. Ketika didekati, perempuan tersebut meminta pemuda itu untuk memanggil penduduk dan raja. ”Saat raja dan warga berdatangan, perempuan tersebut ternyata sudah menjadi patung. Penduduk yang belum mengenal Bunda Maria mengira patung tersebut sebagai dewi kesuburan,” ujarnya.

Hingga akhirnya Portugis datang ke Larantuka. Awalnya mereka hanya membawa misi dagang. Namun, lambat laun keyakinan yang dibawa Portugis dianut warga Larantuka. ”Raja waktu itu menerima agama baru tersebut karena melihat ada kesesuaian dengan nilai-nilai yang diajarkan leluhur,” kata Donthinus.

Sekitar 1665 Raja Ola Adobala akhirnya dibaptis. Dia diberi nama Don Fransisco Ola Adobala Diaz Vieira de Godinho. Pada 8 September 1886 Raja Ke-10 Larantuka Don Lorenzo Usineno II DVG menyerahkan kekuasaan kepada Bunda Maria. Mulai saat itu Larantuka disebut Reinha Rosari.

”Semua mahkota, tongkat, dan apa-apa yang dimiliki kerajaan diserahkan kepada Bunda Maria,” ujar Donthinus.

Kedekatan Larantuka dengan Portugis semakin kuat. Confreria Reinha Rosari merupakan salah satu organisasi bentukan Portugis yang mengikuti tradisi dari Roma, Italia. Bukan hanya itu. Hampir seluruh doa dituturkan dengan bahasa Portugis.

”Namun, ketika ada ahli bahasa Portugis ke sini, dia pun sudah tidak tahu lagi makna bahasa tersebut. Mungkin orang kita melafalkannya berbeda,” kelakar Donthinus. (*/c10/ari)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up