alexametrics

Kakaknya yang Hamil Ditemukan Tak Jauh dari sang Ibu

Selamat karena Terlambat Pulang Kerja
16 Februari 2021, 12:10:41 WIB

Pada hari yang dirayakan banyak orang sebagai Hari Kasih Sayang, Nurul Kholifah justru kehilangan orang-orang tersayang.

ANDHIKA ATTAR, Nganjuk, Jawa Pos

NURUL Kholifah berjalan gontai. Langkahnya terlihat berat. Matanya sayu menatap rumahnya yang porak-poranda. Material longsor memakan separo rumah keluarganya tepat pada hari yang dirayakan orang sebagai Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang.

Perempuan 25 tahun itu sampai tidak bisa berjalan sendiri. Dua kakinya seakan lemas. Hingga akhirnya, dia harus dibopong dua orang, Mohamad Rifai, 27, suaminya, di sebelah kiri dan Mbah Petruk, 60, salah seorang relawan Senopati Rescue, di sisi satunya.

Semakin dekat lokasi rumahnya di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, wajah pilu Nurul semakin terlihat. Tangisnya langsung bertambah kencang. Dia memaksa untuk melihat langsung dan masuk ke rumah. Padahal, tim pencarian sedang bertugas. Alat berat pun telah dikerahkan tidak jauh dari lokasi rumahnya.

Petugas keamanan melarangnya. Namun, Nurul tetap memaksa untuk masuk ke rumah. Dia bersikeras bisa menemukan anggota keluarga lainnya yang belum ditemukan. Selain itu, dia menyebut masih banyak barang berharga di rumah tersebut. ”Semuanya (barang berharga, Red) masih berada di dalam,” katanya, lantas tersedu-sedu kepada para petugas yang melarangnya.

Namun, lantaran kondisi terlalu membahayakan, dia akhirnya diminta menjauhi rumahnya. Nurul sempat dibawa ke mobil ambulans untuk ditenangkan. Hanya berselang sepuluh menit, dia kembali memaksa mengambil barang-barang di rumahnya.

Upayanya yang kali kedua sedikit meluluhkan hati petugas yang berjaga. Namun, petugas tidak memperbolehkan ibu muda tersebut masuk langsung ke rumah. Sebab, kondisi Nurul telah lemas. Emosinya tidak terkontrol. Dikhawatirkan, dia pingsan saat melihat langsung kondisi di dalam rumah yang hancur tersebut.

Hanya Rifai yang diperbolehkan masuk. Nurul diminta menunggu di luar. Beberapa relawan berusaha menenangkannya. Memberinya minum. Lalu, Nurul diajak mengobrol perlahan. Sembari sang suami mengeluarkan beberapa barang dari dalam rumah. Dibantu dengan relawan Banser.

Duka yang dirasakannya sangat mendalam. Nurul kehilangan Khasanah, 55, sang ibu, dan Sri Utami, 30, kakak perempuannya. Terlebih, Utami sedang mengandung anak kedua. ”Kandungannya baru berumur 5 bulan,” jelas perempuan asli Desa Ngetos tersebut.

Jenazah ibu dan kakaknya ditemukan berada di dalam ruang tamu. Keduanya tertimbun bangunan yang ambrol akibat terjangan material longsor. Ibunya yang kali pertama ditemukan. Hanya, kakinya terjepit kayu belandar sejak pukul 19.00. Belum lagi, kondisi sekitar tidak memungkinkan untuk dilakukan evakuasi.

Khasanah baru dapat dievakuasi kemarin (15/2) sekitar pukul 02.00. Dia sudah tidak bernyawa. Nurul menduga ibunya telah kehabisan napas dan tenaga saat menunggu bantuan datang.

”Kakak saya ditemukan tak jauh dari emak (ibu, Red),” ujarnya. Sama dengan ibunya, Utami telah meninggal di lokasi. Keduanya menjadi korban tewas pertama yang ditemukan tim gabungan.

TERKEPUNG BANJIR: Mobil patroli polisi yang mogo di tengah banjir ditarik mobil patroli lain di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Nganjuk. (M. ARIF HANAR/JAWA POS RADAR KEDIRI)

Pada saat kejadian, Nurul bekerja di sebuah toko mainan di Desa Sengkut, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk. Sejak sore, perasaannya tidak enak. Hujan deras yang mengguyur membuatnya semakin ingin segera pulang.

”Saya jemput dia sejak sore. Tetapi, karena hujannya cukup deras, saya memilih untuk menunggu dulu,” ungkap Rifai yang kembali menemani istrinya setelah selesai mengevakuasi barang-barang di rumahnya.

Baca juga: Pascalongsor Nganjuk, Khofifah Perintahkan Warga Direlokasi

Ternyata keyakinan untuk tidak langsung pulang tersebut justru membuatnya terhindar dari petaka. Tanpa mereka sadari, bencana besar sedang menimpa keluarganya. Kalau Minggu pukul 17.00 itu dia langsung pulang, bisa saja keduanya juga menjadi korban.

Mereka baru pulang ke rumah pada pukul 19.00. Longsor tersebut terjadi sekitar pukul 18.00. Nasib baik masih menaungi keduanya meski harus kehilangan anggota keluarganya.

”Saya malam itu pulang, tapi belum tahu ada longsor. Waktu sampai, saya baru tahu ada orang-orang yang ramai. Ternyata ada kejadian tersebut,” ucap Rifai.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c14/ttg




Close Ads