alexametrics

Suprawoto, Bupati Sekaligus Kolumnis Media dan Penulis Buku

Sepedaan Keliling Alun-alun
15 September 2020, 14:21:54 WIB

Bagi Suprawoto, kolom di koran dan majalah, dalam bahasa Indonesia serta Jawa, adalah cara efektif untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Otobiografinya tercatat sebagai rekor Muri.

CHOIRUN NAFIAH, Magetan, Jawa Pos

DI hadapan para guru, Suprawoto kerap bercanda, ’’Tugas guru dan bupati lebih banyak siapa? Bupatinya saja menulis, masak guru tidak?’’

Dan, candaan itu sulit dibantah. Sebab, bupati Magetan itu memang sangat rajin menulis. Bahkan sudah melakukannya jauh sebelum dia memimpin kabupaten di bagian barat Jawa Timur tersebut.

Saat ini Kang Woto, demikian dia biasa disapa, rutin menulis tiap pekan dalam dua bahasa sekaligus. Mengisi kolom ’’Bupati Menulis’’ di Jawa Pos Radar Madiun sejak 17 Desember 2019. Serta jadi kolumnis di Panjebar Semangat, majalah berbahasa Jawa, yang telah dia lakoni selama 11 tahun ini.

Mantan Sekjen Kemenkominfo itu juga telah menelurkan enam buku. Termasuk otobiografi yang dia tulis dalam bahasa Jawa, Dalane Uripku.

’’Nulis itu bagi saya sudah bukan lagi rutinitas, tapi kecanduan. Kalau tidak menulis, rasanya malah tidak enak,’’ kata pria kelahiran 3 Februari 1956 tersebut kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Suprawoto biasa menyempatkan waktu khusus di saat akhir pekan untuk menulis. Atau juga saat ada jeda pekerjaan di kantor.

Untuk kolomnya di Jawa Pos Radar Madiun yang terbit tiap Senin, pria yang lama berkiprah di bagian kehumasan Pemerintah Provinsi Jawa Timur itu harus mulai memikirkan tema tulisan sejak Jumat. Biasanya ayah tiga anak itu butuh waktu sekitar dua jam untuk menyelesaikan satu tulisan.

Kadang-kadang, seperti umumnya penulis, idenya macet juga. Atau lazim dikenal sebagai writer’s block. Kalau sudah demikian, Kang Woto punya beberapa jurus untuk mengatasi.

Salah satunya, sepedaan keliling Alun-Alun Magetan, kabupaten yang berada di lereng Gunung Lawu itu. Cari inspirasi sambil berolahraga.

’’Kalau sudah mentok, saya juga tidur. Kalau masih ada waktu,’’ kata suami Titik Sudarti itu.

Cara lain, ganti suasana. Pernah ketika akhir pekan pulang ke Surabaya, Suprawoto memilih menaiki kereta api ekonomi dari Stasiun Magetan. Sopirnya diminta untuk menunggu kedatangannya di Stasiun Gubeng, Surabaya.

Nah, waktu sekitar empat jam perjalanan dari Magetan–Surabaya itulah yang dia manfaatkan untuk menulis. Tentu dengan segala kemungkinan gangguan.

Pernah, misalnya, saat asyik menulis, ada penumpang yang menepuk bahunya. ’’Pak, bisa tolong bantu angkat tasnya,’’ kata si perempuan sambil menunjuk ke tempat penyimpanan tas di atas kursi penumpang itu.

Laptop pun ditaruh sebentar. Dan, dengan segera bupati yang wilayahnya meliputi 18 kecamatan itu membantu penumpang yang naik di Stasiun Madiun tersebut.

’’Di kereta tidak ada yang tahu saya bupati,’’ katanya, lantas terkekeh.

Isu yang dia singgung di kolom ’’Bupati Menulis’’ beragam. Mulai pemerintahan, sosial, sampai pandemi.

Misalnya, pada edisi 24 Agustus lalu dia menurunkan kolom di Jawa Pos Radar Madiun bertajuk PSHT Bermakna Besar atau Kecil. ’’Supaya tidak ada lagi berantem, tawuran setiap tahun,’’ ujarnya.

Kang Woto juga mesti pintar-pintar mengatur tema dan topik untuk kolom di koran dan majalah. Sebab, pangsa pembacanya juga berbeda.

Yang pasti, tulisan yang terbit setiap Senin itu digunakan pula untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Jika berdiskusi, hanya satu–dua orang yang bisa dia temui. Tapi, dengan tulisan, semua masyarakatnya bisa mengetahui ide dan gagasan yang dia telurkan. Syukur, ada yang terinspirasi dari tulisannya.

Kang Woto juga pernah mencatat rekor di Muri (Museum Rekor-Dunia Indonesia) untuk otobiografinya, Dalane Uripku. Yang pertama 2 ribu eksemplar. Yang kedua 5 ribu eksemplar.

Baca juga: Menulis Wajah Rinus

Semuanya habis, tapi tak ada satu pun yang dijual secara komersial. Melainkan dibagi-bagikan ke perpustakaan seluruh Jatim.

Bagi Kang Woto, itu sedekah. Dia ingin melakukan sesuatu yang tidak akan orang lain lakukan. Jika biasanya orang bersedekah di masjid atau panti asuhan, dia malah ke perpustakaan. ’’Saya antimainstream,’’ katanya.

Dengan alasan bersedekah pengetahuan pula Dalane Uripku dia tulis dalam bahasa Jawa. Meski pilihan bahasa penyampaian itu sempat dikritik Menkominfo (kala itu) Rudiantara.

’’Ini upaya melestarikan bahasa Jawa. Zalim kalau diberi pengetahuan dan pengalaman tidak digunakan,’’ terangnya.

Sebelumnya, dia juga menulis buku bertajuk Government Public Relations. Buku yang membahas tentang humas pemerintahan tersebut ditulis hanya dalam waktu tiga bulan. Itu sudah termasuk riset.

Untuk menunjang referensi, dia membeli lima buku di situs Amazon. Biaya yang dikeluarkan untuk riset dan mencari referensi itu tak sebanding dengan royalti yang diterimanya. ’’Lebih banyak yang keluar daripada yang masuk,’’ terangnya, lantas tersenyum.

Baca juga: Lawan Hoax, Politikus Golkar Ini Gaungkan Pentingnya Budaya Menulis

Kini dia tengah menyiapkan buku ketujuh yang berisi kumpulan kolomnya di Jawa Pos Radar Madiun dan Panjebar Semangat. Selain itu, dia akan menulis buku yang membahas rute menjadi bupati. Tentang bagaimana mencari tunggangan hingga soal bagaimana berhadapan dengan partai politik. ’’Supaya masyarakat tahu perjalanan demokrasi dan ini ditulis langsung oleh pelakunya,’’ katanya.

Kegemaran menulis itu sekarang juga menitis ke putri sulungnya, Melati Arum Satiti. Dokter spesialis anak itu juga menulis di portal nasional soal kesehatan. Terutama soal Covid-19.

Dahlan Iskan adalah salah satu inspiratornya dalam menulis. Di tengah kesibukan seperti apa pun, termasuk ketika masih menjabat menteri BUMN dulu, Dahlan selalu menyempatkan menulis.

Itu pula yang membuatnya selalu antusias menyebarkan semangat menulis. Termasuk kepada para guru di Magetan.

Bagi dia, percuma menjadi orang hebat jika tidak menulis. Ini sejalan dengan yang pernah dinyatakan sastrawan terkemuka Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Kata penulis tetralogi Buru itu, orang yang tidak menulis akan dilupakan zaman.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c19/ttg




Close Ads