alexametrics

Rayner Stefanoline, Grand Champion Drum-Off Global 2019 di Singapura

15 September 2019, 20:48:48 WIB

Rayner Stefanoline pernah kecewa yang berujung trauma. Mendapatkan skor sempurna dalam lomba drum di Singapura, dia seharusnya menyandang gelar juara. Akibat kesalahan panitia, label juara pertama itu lolos. Namun, gelar nomor satu didapatkannya kembali tahun ini.

MARIYAMA DINA, Jawa Pos

MESKI baru kelas X SMA, Rayner Stefanoline sudah bisa dikategorikan sebagai pemain drum kelas dunia. Rayner telah menyabet gelar grand champion dalam ajang Drum-Off Global 2019 di Singapura pada akhir Agustus lalu. Laki-laki 14 tahun itu telah mengalahkan puluhan pemain drum lain dari berbagai belahan dunia dalam kategori open.

Dalam kompetisi tersebut, ada enam kategori yang dilombakan. ”Untuk yang open ini nggak ada batasan umur. Jadi, yang kecil sampai dewasa boleh ikut di kategori ini,” terang Rayner saat ditemui di kawasan CitraLand pada Selasa (10/9). Audisinya dibagi menjadi dua cara. Bisa lewat YouTube atau datang langsung ke Singapura untuk ikut audisi live. Drumer dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, Jepang, Malaysia, Singapura, sampai Amerika pun berkumpul menjadi satu untuk memperebutkan trofi grand champion tersebut.

”Soalnya di setiap kategori, juaranya benar-benar cuma satu. Ya grand champion itu. Nggak ada juara I, II, dan III,” tuturnya. Rayner bercerita bahwa kompetisi bermain drum lebih seperti bermain solo. Permainan drum yang dibawakan pun harus orisinal ”Nggak boleh pakai lagu yang sudah ada,” sambungnya lagi.

Rayner membutuhkan waktu persiapan sekitar empat bulan menjelang kompetisi tersebut. Dia membuat konsep bareng sang ayah. ”Terus waktu itu sempat ke Jogja buat ketemu guru drum. Namanya Andreass Ivan. Di situ, sama dia disempurnain lagi. Cuma dua hari latihan bareng dia,” ceritanya.

Hari H pun datang. Meski sudah berlatih dengan giat, remaja yang menempuh pendidikan di SMA Cita Hati West itu merasa kecewa sampai trauma untuk mengikuti kompetisi drum. Ceritanya, pada 2018 Rayner mengikuti kompetisi drum di Singapura juga, tapi berbeda perlombaan. ”Aku ngerasa sudah pasti dapat juara I. Tapi, ternyata namaku dipanggil pas pengumuman juara favorit,” terangnya. Meski merasa kesal dan tidak adil, dia tidak mengajukan komplain ke panitia.

Tetapi, lima hari setelah kompetisi tersebut, dia mendapat pesan lewat DM Instagram. Ternyata, pesan itu berasal dari salah seorang juri dalam lomba yang terakhir tersebut. ”Dia minta maaf dan bilang bahwa seharusnya aku yang juara I waktu itu,” ceritanya. Sang juri tersebut menjelaskan bahwa ada kekeliruan dalam pengumuman. Juri itu juga memaparkan bahwa seluruh juri memberi Rayner skor sempurna. Namun, saat pengumuman, entah apa yang terjadi, namanya disebut paling awal dan tidak mendapatkan juara I.

Karena itu, Rayner sering takut kalau ingin ikut kompetisi lagi. ”Kepikiran, bagaimana nanti kalau kejadian macam itu terulang,” ungkapnya. Dia pun menguatkan hati untuk ikut kompetisi bergengsi Drum-Off Global 2019. Dan, event tersebut bisa ditaklukkan.

Dalam semifinal, salah seorang juri memberikan komentar yang menambah rasa percaya diri Rayner. ”Katanya, aku itu udah setara world class drummer (drumer kelas dunia, Red),” ujar Rayner yang menirukan ucapan juri tersebut. Salah seorang juri lain dalam babak final juga memberikan komentar yang tak kalah berkesan. ”Dia bilang ’Kamu rasanya ada chance buat jadi juara’,” ceritanya lagi. Dan benar saja, Rayner berhasil mendapatkan juara tersebut.

Menurut Rayner, salah satu rahasia agar dirinya bisa tampil prima dalam kompetisi adalah selalu meminta pendapat para juri akan kekurangannya. ”Ini juga diajari sama mentor saya yang dari Jogja itu. Katanya, juri itu bakal seneng kalau kita tanya kekurangan kita. Terus kita perbaiki pada penampilan selanjutnya. Jadi, dia bakal ingat sama kita dan tahu bahwa kita itu dengerin masukan yang dia kasih,” jelasnya.

Selain itu, yang paling bergengsi dari perhelatan kompetisi tersebut adalah hadiahnya. Semua peraih grand champion dalam setiap kategori berhak mendapatkan kesempatan untuk bermain di channel YouTube Drumeo di Kanada. ”Channel ini ibaratnya kayak Netflix-nya para drumer. Artis-artis terkenal di bidang drum juga sempat main di situ,” ceritanya lagi.

Terlebih, yang bisa bermain di Drumeo tidak bisa sembarangan orang. Harus ada undangan khusus dari Drumeo. Jadi, meski memiliki banyak uang dan mau membayar berapa pun, seseorang tetap tidak bisa tampil di channel milik Jared Falk itu bila dinilai tidak layak oleh mereka

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/tia



Close Ads