JawaPos Radar

Drama Penyelamatan 12 Anak Moo Pa yang Terjebak 17 Hari di Gua (2)

Latihan Meditasi Bantu Maksimalkan Daya Tahan

15/07/2018, 17:44 WIB | Editor: Ilham Safutra
Drama Penyelamatan 12 Anak Moo Pa yang Terjebak 17 Hari di Gua (2)
Anak-anak tim sepak bola Thailand yang selamat dari gua kini dalam masa perawatan rumah sakit. (AFP)
Share this image

Berpuasa dari subuh hingga magrib bukan hal baru bagi umat muslim di seluruh dunia. Setiap Ramadan, mereka tidak makan dan minum selama 13 jam. Tapi, bagaimana rasanya menahan lapar selama lebih dari dua minggu? Hanya 12 anggota klub sepak bola Moo Pa dan asisten pelatihnya yang tahu.

AHMAD BAIDHOWI, Mae Sai

---

MEDITASI dan bugar. Itulah dua kunci bertahan Ekaphol Chantawong dan 12 anak didiknya saat harus menginap di perut Thum Luang Nang Non selama 18 hari. Karena tenang dan berstamina bagus, para korban mampu bertahan dalam kondisi gelap, sempit, dingin, dan pengap. Juga lapar dan haus.

"Sebenarnya mereka membawa bekal makanan. Tapi, tidak banyak," terang BBC mengutip keluarga salah seorang korban. Pada 23 Juni, mereka sebenarnya hanya ingin merayakan ulang tahun ke-17 Peerapat Sompiangjai alias Night di gua yang memang tak asing lagi bagi mereka itu.

Rencananya, petualangan ke gua yang identik dengan Moo Pa itu berlangsung sejam saja. Tapi, kenyataannya tidak demikian. Mereka tidak hanya sejam di Thum Luang. Tidak juga satu atau dua hari, tapi 18 hari.

Setelah makanan yang menjadi bekal mereka pada 23 Juni habis, 12 remaja yang berusia 11-17 tahun tersebut mulai dilanda lapar. Tanpa makanan sedikit pun, para korban hanya mengandalkan tetesan air dari stalaktit gua sebagai air minum.

Puasa tidak makan adalah satu persoalan. Terjebak dalam gua tanpa tahu kapan bisa keluar menjadi persoalan lain. Mental 12 anak itu bisa jatuh dengan sangat mudah. Untung, mereka terjebak bersama Ekaphol. Pemuda 25 tahun tersebut menularkan ilmu meditasinya kepada 12 anak didiknya.

Beradaptasi dengan gua yang pengap, dingin, dan gelap menjadi satu-satunya cara untuk tetap hidup. Berteman dengan kesunyian sambil memelihara harapan membuat nyali anak-anak itu makin kuat.

"Sungguh hebat, anak-anak tersebut tidak stres. Mereka bisa saling menjaga dan menguatkan saat terjebak dalam gua," ujar Somroeng Sikaew, medical vice director Chiang Rai Prachanukroh Hospital, Rabu (11/7). Dia menyatakan bahwa terjebak berhari-hari sangat berpotensi memicu stres dan keputusasaan. Kondisi itu bahkan bisa memicu orang untuk bunuh diri.

Banyak orang penasaran seperti apa Thum Luang. Namun, akses menuju ke sana masih ditutup polisi. Berdasar informasi penduduk lokal, ada gua lain yang karakteristiknya mirip Thum Luang. Meskipun, ukurannya lebih kecil.

Saya memberanikan diri mencicipi gua di kompleks Thum Pla tersebut. Lebar mulut gua sekitar 4 meter. Setelah masuk, lebar lorong rata-rata kurang dari 1 meter. Sekitar 20 meter dari mulut gua, kondisi sudah gelap gulita.

Sinar dari lampu senter kecil tak kuasa menembus kegelapan. Saya pun hanya bisa berjalan merayap perlahan-lahan. Lorong gua licin dan berlumpur. Suara tetesan air dari langit-langit gua terdengar jelas.

Makin masuk ke dalam, udara kian pengap dan dingin. Oksigen yang menipis juga membuat napas semakin berat. Karena itu, setelah masuk sekitar 70 meter, saya berbalik keluar. Total, saya berada dalam gua tersebut sekitar 45 menit. Tapi, rasanya seperti lama sekali karena lelah dan deg-degan.

Karena itulah, saya mengagumi daya tahan 13 korban yang terjebak 18 hari itu. Berada di lorong gua yang sempit, gelap, pengap, dingin. Tanpa makanan. Hanya berbekal harapan. Dan mereka bisa selamat. Hebat. (habis)

(*/c22/hep)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up