alexametrics

Kenangan Satu Tahun Bom Gereja Katolik SMTB Surabaya

Teman Beda Agama Semakin Bertambah
15 Mei 2019, 16:48:00 WIB

Satu tahun lalu Surabaya diselimuti duka. Bom bunuh diri terjadi di tiga gereja di Surabaya dan mapolrestabes. Banyak korban luka hingga meninggal. Para umat lintas agama memperingati peristiwa tersebut dengan berdoa bersama di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (SMTB).

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya

RATUSAN jemaat Katolik hampir memenuhi ruang doa Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (SMTB) Senin malam (13/5). Enam foto korban meninggal pada saat bom bunuh diri di SMTB dipajang di depan altar. Doa-doa disematkan.

Suasana hening. Khidmat. Sebagian para jemaat yang menjadi saksi dalam kejadian tersebut menahan sedih. Ada pula korban dan keluarga korban Salah satunya Ipda Ahmad Nurhadi. Dia datang bersama istrinya Nunung Ifana. Dengan menggunakan kursi roda, Nurhadi disambut hangat oleh rekan-rekan dari gereja SMTB. Dia tampak kuat dan tegar dengan kondisinya yang tidak lagi sempurna. Dia hadir untuk mengikuti doa bersama lintas iman di Gereja SMTB.

Nurhadi menjadi salah seorang korban yang masih hidup saat peristiwa bom di Gereja SMTB. Saat itu dia kebetulan berjaga di gereja tersebut. Akibat ledakan bom, Nurhadi harus kehilangan mata dan kakinya. Kedatangannya saat itu tidak untuk membangkitkan trauma, tetapi menumbuhkan kekuatan iman. ”Wajar kalau trauma. Tapi, buat apa terus trauma. Saya ingin bisa bertugas lagi,” tuturnya.

Nurhadi mengatakan tidak ada penyesalan yang dirasakan saat bertugas sebagai polisi. Yang ada saat ini terus bersyukur dan menjadi lebih dekat dengan Tuhan. ”Saya sudah menerima kondisi saya. Ikhlas. Semua ini sudah menjadi ketetapan-Nya,” ungkapnya.

Setahun berlalu. Di tengah para umat lintas agama, Nurhadi ikut menyatu dalam doa. Tidak ada dendam. Tidak ada pula penyesalan. ”Saya sudah memaafkan pelaku. Saya bangga bisa menjadi bagian pengamanan masyarakat,” ucapnya.

Doa bersama lintas agama tersebut dihadiri para tokoh agama. Mulai Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, sampai kepercayaan. Sejumlah pejabat pemerintahan hadir. Di antaranya, Konsul Jenderal Amerika Serikat Marc McGovern, Wakil Duta Besar Amerika Serikat Heather Variava, serta Konjen Australia Chris Barnes.

Ketua Paroki Gereja SMTB Romo Agustinus Eka Winarno mengatakan, seluruh umat berkumpul di Gereja SMTB dalam kekuatan kasih dan doa. Peristiwa setahun silam menjadi kenangan. ”Kami sebagai umat Katolik semakin diteguhkan dan dikuatkan iman. Sekarang menjadi banyak teman dan satu saudara dengan umat lintas agama,” katanya.

Eka menuturkan, bom bunuh diri di Gereja SMTB yang menewaskan enam orang kini menjadi peristiwa iman. Seluruh umat belajar untuk semakin memahami kehendak Tuhan. Karena itu, dalam acara refleksi peringatan kejadian yang disepakati jemaat SMTB sebagai peristiwa iman itu, Eka mengajak seluruh umat Katolik untuk lebih terbuka dalam menjalin silaturahmi dengan berbagai umat lintas agama.

”Kami semua harus duduk bersatu. Menjalin silaturahmi. Kami juga harus bisa menepis hal-hal yang dapat menjadikan terpecah,” paparnya. Eka berharap umat Katolik tetap memiliki hak yang sama meski menjadi kaum minoritas. ”Semoga acara ini dapat mempererat silaturahmi kita bersama,” tuturnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c15/ayi