alexametrics

Berbuka Puasa Bersama Muslim Indonesia di Masjid Makau

Jamur Goreng, dan Kari yang Ditemani Kerupuk
15 Mei 2019, 19:41:00 WIB

Masjid satu-satunya di Makau hangat, terbuka, dan menjadi jujukan bagi pekerja Indonesia yang belum punya gambaran akan melakukan apa di sana. Pekan lalu wartawan Jawa Pos INDRIA PRAMUHAPSARI merasakan langsung kehangatan itu seraya mencicipi kari ayam yang disajikan saat buka bersama.

“KERUPUKE kuwi gowoen mrene. Iki enak dipangan karo kerupuk,” kata Asia sembari menunjuk kotak styrofoam di hadapannya. Di dalamnya, ada nasi dan ayam berlumur bumbu kental semacam pasta sebagai lauk.

Rabu sore pekan lalu itu (8/5), di Mesquita e Cemeterio de Macau, satu-satunya masjid di Makau, Asia tengah berbuka bersama sejumlah warga negara Indonesia (WNI) lainnya.

Mereka duduk bersimpuh dengan alas karpet di area belakang masjid. “Ayo, Mbak, dimakan. Kari ayam,” ujar Siti Rukayah kepada saya.

Ada sekitar 70 ribu WNI di Makau. Sebagian besar berstatus tenaga kerja Indonesia (TKI). Mayoritas merupakan muslim. Mesquita e Cemeterio de Macau pun menjadi semacam titik rendezvous.

Para TKI yang libur dan diperbolehkan untuk berjalan-jalan oleh majikan mereka pun akan memilih datang ke masjid. Selain beribadah, mereka juga bercengkerama atau menikmati sunset di halaman masjid yang menghadap Teluk Makau. Atau, sekadar berbincang dengan perempuan sepuh Tionghoa yang menjadi tenaga kebersihan di masjid.

“Ya, daripada (keluyuran, Red) tidak jelas, mereka lebih memilih ke sini,” ungkap Abdul Halim, pria dari Jakarta yang malam itu berbincang dengan saya di kantor sekretariat masjid.

Buka puasa bersama sore itu didahului dengan makan takjil yang berupa potongan buah dan jamur goreng tepung. Asia meletakkan kotak styrofoam di depan saya. Kemudian menyodorkan kerupuk. Saya yang agak sungkan hanya manggut-manggut sambil tersenyum.

Asia yang duduk di samping saya kemudian menyodorkan sendok plastik. “Gak papa, Mbak, dimakan saja. Yang masak saya lho itu,” ujar ibu empat anak tersebut.

Saya lalu membuka kotak berisi nasi dan kari ayam itu. Rasanya tidak seperti kari ayam yang biasa saya makan di Sidoarjo atau Surabaya. Warnanya mirip opor. Rasanya? Asin.

Gerbang Mesquita e Cemeterio de Macau. (INDRIA PRAMUHAPSARI/JAWA POS)

Maklum, yang memasak sudah lama meninggalkan Indonesia. Sebelum mengikuti suaminya ke Pakistan selama 16 tahun, perempuan dari Jawa Timur itu 10 tahun bekerja di Hongkong. “Kalau di sini (Makau, Red) baru setahun ikut suami,” kata Asia. Sebenarnya, mencari bumbu-bumbu ala Indonesia di Makau tidaklah sulit. Ada toko milik orang India atau toko milik orang Tiongkok yang menjualnya. Tapi, bumbunya terbatas. Bahan-bahan tertentu tidak tersedia.

Oleh pengurus masjid yang terletak di Ramal dos Mouros tersebut, Asia didapuk sebagai juru masak. Sampai kapan? “Ya sebulan, sampai Ramadan selesai,” kata istri Hanif tersebut.

Lantas, dari mana uang yang digunakan untuk berbelanja? “Dananya dari masjid,” kata Halim.

Ruang sekretariat terletak di sisi kiri masjid. Berjarak sekitar 10 langkah saja dari bangunan utama masjid. Jangan membayangkan masjid yang megah seperti umumnya di Indonesia.

Kendati hanya satu-satunya, tempat ibadah umat Islam di Makau itu kecil. Ada dua bangunan permanen dalam kompleks yang menjadi satu dengan makam muslim tersebut. Masjid dan kantor sekretariat.

Dua-duanya berwarna hijau. Bedanya, bangunan masjid punya mustaka. Kecil saja. Ada speaker juga di tempat ibadah yang menghadap ke Teluk Makau tersebut.

Di masjid itu, sebagian besar jamaah berasal dari Pakistan. Imam tetap di masjid itu berasal dari Inner Mongolia. Namanya Muhammad Ramadan. “Beliau masih baru, belum setahun di Makau. Sebelumnya (tinggal, Red) di Jeddah sepuluh tahun,” lanjut lelaki yang sudah satu dasawarsa bekerja di Makau itu.

Selain bahasa Inggris, bahasa yang banyak digunakan untuk berkomunikasi antar sesama jamaah masjid adalah bahasa Urdu. Rata-rata jamaah juga bisa berbahasa Mandarin (Kanton) dan sedikit Portugis.

Sebab, di negara yang menjadi pusat kasino Asia tersebut, dua bahasa itulah yang menjadi bahasa resmi. Dulu Makau merupakan koloni Portugal sebelum diserahkan kembali ke Tiongkok.

Di sekolah-sekolah, perkantoran, dan rambu-rambu jalan atau keterangan apa pun di area publik, dua bahasa itu pula yang dipakai. Nama masjid yang terpampang pada gerbang masuk pun tercetak dalam bahasa Portugis. Tapi, ada pula bahasa Inggrisnya.

Setiap hari pintu besi berwarna hijau yang menjadi gerbang masjid tertutup. Tapi, tidak dikunci. Mereka yang tidak biasa datang ke sana pasti terkecoh. Sopir yang mengantar saya Rabu sore lalu yang basah karena hujan itu pun sempat menyangka demikian.

“Kalau tidak hujan, ya biasanya banyak yang datang. Buka puasa di sini paling ramai itu kalau Jumat dan Minggu,” terang Rukayah, salah seorang TKI yang juga jamaah masjid.

Kalimat itu diamini Nuraini, jamaah Indonesia dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. “Kami kan rata-rata ikut orang. Jadi, liburnya ya macam-macam, terserah majikannya,” lanjut Nuraini, TKI lain.

Minggu, imbuh dia, banyak pekerja Indonesia yang libur. Karena itu, masjid lebih ramai. Jamaah pria yang berbuka puasa di masjid saat hari cerah biasanya sekitar 50 orang. Yang perempuan bisa sepuluh atau lebih. “Kalau hari raya, bisa sampai seratus lebih yang salat di sini,” timpal Asia.

Seratus yang dia maksud adalah jamaah laki-laki. Belum termasuk perempuan dan anak-anak. Saat Idul Fitri, lapangan di depan pintu sekretariat juga menjadi tempat salat. Banyak pula jamaah dari Indonesia yang berlebaran di Makau. “Biasanya, setelah dua tahun bekerja di sini, baru boleh ambil cuti untuk pulang ke tanah air,” papar Halim.

Tiap pekerja Indonesia, lanjut dia, belum tentu pula mendapatkan jatah libur Lebaran dari majikan. Karena itu, mereka terpaksa merayakan Idul Fitri di Makau.

Karena masjid tersebut menjadi tempat yang rutin mereka kunjungi, minimal sehari sekali, kekerabatan jamaah asal Indonesia di sana erat. Masjid, menurut Halim, juga menjadi jujukan pekerja Indonesia yang nekat datang ke Makau untuk mencari kerja meski belum punya gambaran akan menjadi apa.

Malam itu ucapan Halim terbukti. Seorang pemuda mendatangi kami yang sedang berbincang di bawah terpal di lahan yang akan dijadikan lokasi masjid baru. Dia meletakkan koper hitam, lantas mengembuskan napas panjang.

Di belakangnya, seorang perempuan bertubuh mungil berjalan mengikuti. “Siapa ini?” tanya Halim. Pemuda yang ditanya menjawab singkat. “Temannya Nata.”

Rupanya, dia diminta untuk menjemput gadis berambut panjang itu di bandara. Mereka tidak saling kenal. Si gadis yang mengaku berasal dari Jawa Barat tersebut datang ke Makau setelah berkomunikasi dengan Nata, yang diakuinya sebagai mantan kakak kelas ketika sekolah, di Facebook.

Ribuan kilometer dari tanah air, masjid itu memang menjadi semacam penghubung dengan Indonesia. Tempat mereka bertemu kawan setanah air. Beribadah bersama, berkeluh kesah, dan juga melepas lelah.

Karena itulah, masjid yang pembangunannya selesai pada 1980-an tersebut merangkul siapa pun. Bukan hanya yang beragama Islam. Nenek-nenek yang menjadi tenaga kebersihan di sana bukan seorang muslimah. Tapi tetap dianggap seperti keluarga sendiri.

Kehangatan itu pula yang saya, yang juga bukan muslimah, rasakan. Siapa saja dipersilakan sekadar berteduh atau beristirahat.

Tak terasa sudah masuk waktu salat Isya, sebelum nantinya dilanjutkan dengan Tarawih. Dami, salah seorang jamaah, datang terlambat. Meski agak tergopoh, dia ramah menyapa saya yang belum dia kenal sebelumnya. “Ayo Mbak, salat dulu. Dapat dua rakaat juga gak papa, lumayan,” ujar dia sambil mencolek saya yang sedang berdiri di seberang masjid untuk memotret pintu gerbang.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c11/ttg)



Close Ads