alexametrics

Kedaibilitas, Laboratorium Usaha Para Penyandang Disabilitas

15 Januari 2022, 07:48:23 WIB

Namanya Kedaibilitas. Sebuah wadah yang menjadi laboratorium usaha bagi para penyandang disabilitas yang muda dan penuh harapan. Di sana mereka belajar dan berkarya untuk bisa bertahan di tengah-tengah masyarakat.

MARIYAMA DINA, Surabaya

SUDAH sekitar tiga tahun Kedaibilitas didirikan oleh Andi Fuad Rachmadi. Yayasan yang menaunginya juga dibentuk sejak lima tahun silam.

Di kedai itu dia mengajak teman-teman disabilitas untuk belajar, berkarya, hingga berwirausaha. Tapi, tujuan utamanya bukan untuk mencari profit. Lebih untuk mengembangkan aktivitas bersosialisasi dan terapi kendati secara tidak langsung.

Siang itu terlihat betul bagaimana teman-teman penyandang disabilitas tersebut belajar kerajinan tangan. Mereka membuat strap masker. Sebab di masa pandemi, benda yang kelihatannya remeh itu sebenarnya benar-benar dibutuhkan saat kuping sudah sakit menahan tali masker seharian. Rhido, misalnya, dengan teliti memasukkan satu per satu manik-manik ke tali panjang yang bakal dibuat menjadi strap masker.

Di sebelahnya ada Eza yang dibimbing Dewi, pengajar kerajinan tangan.

Dia terlihat tak mau kalah membuat strap masker yang lebih cantik. Siang itu kegiatan mereka memang fokus untuk membuat strap masker. Sebelum sesi tersebut, mereka telah belajar tentang komunikasi dan etika di dunia kerja.

Meski terlihat serius dengan garapan masing-masing, tak jarang mereka melemparkan senda gurau untuk menghidupkan suasana. Ada juga yang mengaku menyerah karena keterbatasannya. Tapi, tentunya setelah berusaha mencoba. Jika sudah begitu, tugas lain akan coba dikenalkan untuk bisa melihat bidang apa yang lebih cocok dikerjakan.

Andi mengungkapkan bahwa cara itu digunakan untuk melihat potensi yang dimiliki anak didiknya secara tidak langsung. ”Karena di sini kita memang kegiatannya banyak. Berkreasi dan berkaryanya juga banyak. Dari yang fokus di kerajinan tangan seperti ini sampai yang fokus di bidang makanan dan minuman,’’ jelas Andi saat ditemui di Kedaibilitas, Jalan Sampoerna 17, Senin (10/1).

Keistiqamahan belajar dan melatih motorik serta kreativitas lewat berkreasi itu ternyata menghasilkan perkembangan yang baik bagi para penyandang disabilitas. Misalnya, ada yang mengidap autis dan tidak mau diam. Dengan kegiatan rutin itu, ternyata fokusnya bisa dibentuk.

”Hal seperti ini mungkin kalau dilihat orang hanya sedikit sekali perkembangannya. Tapi, bagi kami, ini sudah prestasi yang luar biasa,’’ ungkapnya dengan mata yang berbinar-binar.

Pria alumnus pendidikan ekonomi Universitas Negeri Malang itu ingin sekali membuat masyarakat paham bahwa penyandang disabilitas juga punya kesempatan sama seperti yang lainnya. Andi ingin menghapus stigma yang memandang mereka dengan sebelah mata dan menganggap tidak bisa melakukan apa-apa. Padahal, persepsi itu salah besar.

Hal-hal luar biasa pun sudah ditunjukkan oleh mereka. ”Kayak hasil masakan dan minuman yang diproduksi teman-teman ini jadi langganan salah satu camat di sini,’’ tuturnya.

Tidak berhenti di situ, karya strap masker mereka juga sering kali diborong oleh istri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Rini Indriyani.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git




Close Ads